Oleh: H. Edi Murpik
Di TENGAH derasnya arus modernitas, ada seni tradisi Sunda yang kini terdengar makin samar. Seni itu adalah Lengser—sebuah pertunjukan rakyat yang dulu akrab dalam setiap acara hajatan, pesta adat, hingga penyambutan tamu agung.
Dengan wajah penuh kelucuan, gerak luwes, dan polah mengundang tawa, Lengser sering disebut sebagai badut rakyat. Namun, di balik gelaknya tawa, Lengser menyimpan makna mendalam: menyampaikan kritik sosial, menertawakan kebodohan manusia, sekaligus memberi wejangan tentang kebijaksanaan hidup.
Lengser tidak pernah berdiri sendiri. Ia hadir bersama pamayung, sang pengiring penuh wibawa yang melindungi tamu kehormatan dengan payung kebesaran. Ada pula dalang, sosok pengendali cerita, yang memberi arah alur kehidupan di panggung. Tiga unsur ini menyatu—riang dari Lengser, khidmat dari pamayung, dan petuah dari dalang—menciptakan harmoni budaya yang memadukan tawa, hormat, dan kebijaksanaan.
Namun kini, pementasan Seni Lengser (Stand Up Comedy) ala leuluhur sudan, semakin jarang. Banyak generasi muda lebih mengenal gemerlap hiburan digital daripada panggung rakyat. Simbol kebersahajaan dan kritik sosial itu perlahan terdesak oleh perubahan zaman.
Upaya Pelestarian di Kabupaten Lebak
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Imam Rismahayadin, mengakui bahwa meski mulai jarang, Seni Lengser belum sepenuhnya hilang. “Pagelaran Lengser masih sering ditampilkan dalam acara-acara Peringatan Hari Besar Nasional atau penyambutan tamu di Kabupaten Lebak,” kata Imam saat berbincang di kantornya, Kamis 28 Agustus 2025.
Para pemainnya, kata Imam, seperti di Kota Rangkasbitung, masih tergabung dalam satu sanggar seni. Ada yang membawakan tari, calung, hingga degung. Tergantung permintaan. Anggota sanggar tersebut, dapat mempersembahkan pagelaran sesuai permintaan. Tapi secara khusus komunitas Seni Lengser, di Kabupaten Lebak belum ada.
Menurut Imam, keberadaan pemain Lengser di wilayah Lebak Selatan, yang digarap oleh Ua Muhi Saridam Sambas di Kecamatan Cijaku, menjadi salah satu bukti bahwa seni tradisi ini masih punya napas.
“Kami sangat mendukung. Agar pembinaan pengembangan Seni Lengser lebih terarah, kami sarankan dibentuk Komunitas Seni Lengser. Dengan begitu, dinas bisa membina melalui pelatihan, sekaligus membantu stimulan dana pembinaan,” kata Imam Rismahayadin.
Imam juga menekankan pentingnya jejaring lintas daerah. “Jika perlu, kita kolaborasi dengan pemain Lengser di Jawa Barat yang sudah punya pamor di tingkat nasional. Seni budaya Sunda harus kita lestarikan dari generasi ke generasi, agar falsafah luhur ini tetap membumi di tatar Sunda,” pungkasnya.
Pelestarian seni tradisi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga tanggung jawab pegiat seni dan masyarakat. Generasi muda perlu dikenalkan kembali dengan akar budaya, bukan sekadar lewat buku pelajaran, tapi melalui panggung nyata: festival budaya, ruang publik, hingga sekolah.
Lengser harus kembali menebar tawa, pamayung berjalan anggun mengiringi, dan dalang menyampaikan petuahnya. Sebab dalam tawa, hormat, dan kebijaksanaan itulah, identitas Sunda di Lebak tetap hidup—tak hanya sebagai fragmen masa lalu, tapi sebagai napas kebudayaan hari ini dan esok.
Lengser kerap disebut sebagai badut rakyat. Wajah pemain dipoles lucu, gerak tubuhnya lincah, tingkah polahnya mengundang tawa. Ia menjadi magnet dalam setiap pertunjukan. Namun, di balik kelucuannya, Lengser berperan besar, yaitu: menyuarakan kritik sosial, menyampaikan wejangan, dan membuat hadirin bisa tawa.
Dahulu, Lengser adalah simbol kerendahan hati. Ketika raja atau pemimpin hadir, Lengser menghibur sekaligus mengingatkan bahwa kebesaran bukanlah alasan untuk sombong. Dengan bahasa satire, ia mengajak penonton bercermin pada dirinya sendiri.
Kini, panggung Lengser makin sepi. Gemerlap hiburan digital menggeser pesona panggung rakyat. Namun, di beberapa sudut Kabupaten Lebak, jejak itu belum sepenuhnya hilang.
Pamayung: Simbol Kehormatan dan Pengayoman
Jika Lengser membawa tawa, maka pamayung menghadirkan wibawa. Sosok pamayung bukan sekadar pembawa payung. Ia adalah simbol penghormatan dan pengayoman. Dalam budaya Sunda, pamayung digambarkan sebagai penjaga martabat, pelindung dari panas dan hujan, sekaligus penanda status sosial seseorang.
Dalam sebuah prosesi adat, pamayung berjalan anggun, penuh khidmat, mengiringi tamu agung. Ia menegaskan bahwa kehormatan dan martabat harus dijaga, sama seperti ia menjaga sang pemimpin dengan payung kebesaran. Namun kini, pamayung lebih banyak dijumpai hanya dalam upacara adat tertentu. Simbol agung yang dulu melekat dalam keseharian budaya masyarakat Sunda perlahan kehilangan panggungnya.
Di balik riuh pertunjukan, ada sosok yang sering tak terlihat penonton: dalang. Ia adalah sutradara sejati dalam seni tradisi. Dalang mengendalikan jalan cerita, menghidupkan tokoh, sekaligus menyalurkan pesan moral.
Dalam wayang golek atau wayang kulit, dalang adalah suara rakyat sekaligus suara leluhur. Ia tak hanya mengisahkan Mahabharata atau Ramayana, tapi juga menyelipkan nilai-nilai lokal Sunda. Petuahnya menuntun masyarakat memahami kehidupan, menimbang benar dan salah, serta menata harmoni dengan alam.
Lengser, pamayung, dan dalang sejatinya adalah satu kesatuan. Lengser membawa tawa, pamayung menjaga kehormatan, dalang memberi arah cerita. Tiga unsur itu menyatukan hiburan, simbol sosial, dan kebijaksanaan.
Sayangnya, zaman telah berubah. Seni tradisi yang dulu jadi bagian hidup masyarakat, kini tinggal potongan kenangan. Jika tidak ada regenerasi, bukan mustahil seni tradisi ini hanya akan tersisa dalam catatan sejarah, tanpa lagi terdengar tawa lengser, langkah pamayung, atau suara petuah dalang.—(***)
*). Penulis, Pengurus Paguyuban Pasundan dan Paguyuban Sumedang Larang di Banten