Islam Teh Sunda, Sunda Teh Islam: Harmoni Budaya dan Nilai Humanisme dalam Masyarakat Sunda

Islam Teh Sunda, Sunda Teh Islam: Harmoni Budaya dan Nilai Humanisme dalam Masyarakat Sunda

Oleh: H. Edi Murpik

Di tatar Sunda hidup satu pandangan yang halus sekaligus dalam: Islam teh Sunda, Sunda teh Islam. Ungkapan ini tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan menjadi cerminan perjalanan panjang budaya Sunda yang berpadu harmonis dengan ajaran Islam sejak berabad-abad silam.

Dalam falsafah Sunda kuno, terdapat ajaran Sampurasun—dari kata sampurna ning ingsun—yang berarti “sempurnakan dirimu”. Kesempurnaan ini bukan soal lahiriah, tetapi tentang bagaimana manusia memperbaiki cara melihat, mendengar, menghirup, berbicara, hingga menjaga kebersihan hati. Hati yang bersih dipercaya akan melahirkan kanyaah, yakni kasih sayang yang memancar kepada sesama.

“Dari sinilah lahir tiga nilai utama: Silih Asah (saling mengasah pengetahuan), Silih Asih (saling mengasihi), dan Silih Asuh (saling membimbing),” kata Kang Oos Supyadin, anggota Dewan Kebudayaan Jawa Barat, dalam obrolan  pada  Jumat malam ( 5/12/2025).

Menurut Kang Oos, ketiga nilai tersebut membentuk hubungan sosial yang “siliwangi”, yaitu hubungan yang saling mengharumkan, saling memperbaiki, dan saling menguatkan.

Perjumpaan Sunda dan Islam: Harmoni yang Mengakar

Masuknya Islam ke tanah Sunda pada abad ke-15 tidak menimbulkan benturan budaya. Ajaran Tauhid, akhlak, dan adab justru menemukan ruang yang selaras dalam kearifan lokal Sunda.

Ajaran waspada, mawas diri, serta kebersihan perilaku yang telah lama hidup dalam budaya Sunda bertemu dengan konsep ihsan dan akhlakul karimah di dalam Islam.

Ungkapan “Waspada permana tinggal” menjadi pengingat agar manusia menjaga anggota tubuh dan perilakunya:Kuping dijaga ku runguna — menjaga pendengaran. Panon dijaga ku awasna — menjaga pandangan. Irung dijaga ku angseuna — menjaga penciuman. Létah dijaga ku ucapna — menjaga ucapan. Manah dijaga ku ikhlasna — menjaga hati.

Dalam pandangan Sunda, manusia yang mampu menjaga semuanya akan hidup dalam permanah – kejernihan nurani yang membuatnya bermanfaat bagi sesama,”ujar Kang Oos yang juga Ketua Yayasan Salatina Nasa Raya yang bermarkas di kota Dodol, Garut, Jawa Batat.

Humanisme Sunda: Nulung, Nalang, Nganteur, Nyaangan

Nilai kasih sayang yang diwariskan leluhur Sunda hadir dalam praktik sosial sehari-hari. Humanisme Sunda diterjemahkan ke dalam tindakan: Nulung kanu butuh — menolong yang membutuhkan. Nalang kanu susah — membantu yang kesulitan. Nganteur kanu sieun — mendampingi yang ketakutan. Nyaangan kanu poekeun — menerangi mereka yang diliputi masalah.

Nilai ini selaras dengan misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Ungkapan “sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salogak” menggambarkan betapa kuatnya persatuan dan solidaritas dalam masyarakat Sunda.

Di tengah arus modernitas yang cepat dan kerap mengaburkan nilai, falsafah Sunda tetap menjadi panata lengkah—penuntun langkah dalam bersikap dan berperilaku.

Masyarakat Sunda percaya bahwa hidup yang merenah (tertata), leuleus (lembut), rancagé (sigap membantu), dan muhun (penuh keikhlasan) akan mengundang keberkahan dari Gusti Nu Maha Agung, Sang Pencipta, Allah SWT.

Islam Teh Sunda, Sunda Teh Islam. Ungkapan ini bukan bermaksud menyamakan Islam dan Sunda secara identik. Yang ditekankan adalah bahwa dalam sejarah panjangnya, ajaran Islam memperkuat nilai lokal Sunda, sementara kearifan Sunda memberi ruang bagi ajaran Islam untuk tumbuh secara damai, halus, dan membumi. Hasil perpaduan ini melahirkan karakter masyarakat Sunda yang dikenal ramah, lembut, menghormati sesama, dan penuh kasih sayang.—(***)

Rahayu

*). Penulis: Pengurus Paguyuban Pasundan di Banten

Pos terkait