Oleh: H. Syahida (aa)
Raden Ibrahim Jaya Perbata adalah tokoh Cianjur yang namanya dikenang sebagai bagian penting dari sejarah Sunda. Ia, ulama besar dan sekaligus pendekar. Perjalanan hidupnya memadukan ilmu lahir dan batin, menganyam spiritualitas dan seni bela diri hingga melahirkan sebuah aliran silat legendaris: Maenpo Cikalong.
Cianjur sejak lama dikenal sebagai tanah yang subur, indah, dan kaya akan tradisi. Lebih dari itu, Cianjur tumbuh sebagai kota santri dan tempat bernaungnya para pendekar yang menghidupkan ilmu bela diri dalam harmoni dengan nilai-nilai agama.
Di wilayah inilah berbagai aliran silat besar lahir dan berkembang: Cimande, Sabandar, hingga Cikalong. Silat tidak hanya dilihat sebagai teknik bertarung, tetapi sebagai jalan hidup, cermin dari falsafah Sunda yang halus namun kuat, sopan namun berani.
Maenpo Cikalong dikenal sebagai aliran dengan gerakan yang lembut, fleksibel, dan penuh perhitungan. Pendekatannya bukan agresi, tetapi kepekaan. Tidak mengandalkan kekerasan, tetapi kecerdasan tubuh dan kejernihan pikiran.
Filosofinya sejalan dengan karakter masyarakat Cianjur: Halus dalam sikap, namun tegas dalam keberanian.
Di balik setiap gerakan Cikalong terdapat kemampuan membaca energi lawan, mematahkan serangan tanpa perlu melukai. Keindahan aliran ini justru terletak pada kelembutannya.
Lahir pada 1816, Raden Ibrahim Jaya Perbata berasal dari keluarga bangsawan Cianjur, putra dari Rd Raja Direja, seorang ahli silat aliran Cimande. Dari sang ayah, ia mendapatkan tempaan awal—ilmu pencak, adab, dan dasar-dasar keilmuan yang kelak menjadi fondasi hidupnya.
Setelah menunaikan ibadah haji, ia dikenal dengan nama Rd Ibrahim Jaya Perbata, menandai babak baru kedewasaan dan laku spiritualnya.
Semangat menuntut ilmunya tidak pernah surut. Konon, Raden Ibrahim berguru kepada 40 pendekar dari berbagai daerah. Beberapa di antaranya: Rd Ateng Alimundin, tokoh bangsawan Cianjur. Bang Maruf, pendeka Betawi berbekal teknik tangan kosong yang matang, Bang Madi, ahli “bendung tenaga lawan” di Batavia, dan Bang Kari di Tangerang, pendekar dengan pukulan cepat dan efektif.
Dari perjalanan panjang itulah ia menghimpun berbagai aliran, menyaring kelebihannya, dan menyusun sistem silat yang lebih sempurna.
Maenpo Cikalong dari Perenungan dan Khalwat
Sepulang ke tanah kelahirannya, Rd Ibrahim menghabiskan waktu untuk menyepi dan merenung di gua-gua sekitar Cikalong. Dalam khalwat itulah ia menyatukan seluruh ilmu yang dipelajari, kemudian merumuskannya menjadi sebuah aliran yang halus, rasional, dan sangat filosofis.
Sebagaimana pepatah Cimande yang ia pegang teguh: “Silat bisa merusak tubuh, maka harus pula bisa menyembuhkan.”
Karena itu Maenpo Cikalong bukan hanya tentang mengalahkan lawan, tetapi tentang keseimbangan dan kemanusiaan—melumpuhkan tanpa melukai.
Rd Ibrahim Jaya Perbata wafat pada tahun 1906. Ia dimakamkan di Kampung Majalaya, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Cianjur, tidak jauh dari tanah tempat ia lahir dan membangun ajaran besar maenpo yang kini dikenal di seluruh Nusantara.
Warisan Silat Maenpo Cikalong bukan sekadar teknik bela diri, tetapi pelajaran tentang kehalusan budi, kejernihan pikiran, dan keberanian yang lahir dari kebijaksanaan.–(***)
*).Penulis pegiat Seni dan Budaya, pendiri Padepokan Badai Sagara








