Oleh: H Edi Murpik
Malam Minggu kemarin, saya pulang kampung menengok tanah leluhur di Desa Gununganten, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini pernah menjadi tempat berkumpulnya para pejuang Kerajaan Sumedang Larang. Patih Raden Jaya Sakti, Pangeran Dalem Buku, menetap di desa ini hingga akhir hayatnya.
Mumpung sedang senggang, saya mengajak keluarga—sambil membawa secuil harapan: siapa tahu masih bisa melihat kunang-kunang yang dulu rajin “nongkrong” di pesawahan depan rumah. Namun, harapan itu pupus. Suasana malam terasa seperti layangan putus: gelap tanpa kerlip, sepi tanpa cahaya kecil yang dulu setia menemani masa kanak-kanak.
Padahal, ketika saya masih bocah sekolah dasar—lari cepat seperti kijang, meski akal belum seberapa—kunang-kunang mudah ditemui. Di sawah, pekarangan, hingga pinggir sungai, serangga bercahaya itu selalu ada. Bahkan saat mengobor belut di pesawahan Cikalong yang luasnya lebih dari 75 hektare, cahaya kunang-kunang masih gemerlap di tengah hamparan sawah kala malam.
Kini, sawahnya memang masih ada. Tetapi isinya tinggal kenangan. Belut menghilang, kunang-kunang pun entah ke mana.

Di akhir pekan itu, sahabat-sahabat sepermainan berdatangan. Ada yang rambutnya sudah memutih seluruhnya, ada yang jalannya miring seperti padi diterpa angin, ada pula yang giginya ompong sehingga ketika tertawa mirip lampu redup. Justru dari sanalah letupan tawa muncul—lebih ramai dibandingkan masa kami ngeliwet di pos ronda puluhan tahun silam.
Saya memulai cerita sambil menatap hamparan sawah yang telah berubah rupa.
“Dulu mah, di sini kunang-kunang berjajar seperti lampu stadion. Sekarang jangankan kunang-kunang, jangkrik saja rasanya malas berbunyi,” celetuk saya.
Mang Subro, sahabat lama, menimpali sambil memegang pinggangnya yang pegal.
“Kunang-kunangnya sudah pindah ke kota. Di pesawahan sini kebanyakan pestisida. Sama seperti saya—tersingkir oleh umur,” ujarnya, disambut tawa kami semua.
Kunang-Kunang: Dari Cahaya Romantis dan Alarm Lingkungan

Dalam kearifan Sunda, ada pepatah lama: “Aya kunang-kunang tandana aya cai hirup.” Artinya, keberadaan kunang-kunang menandakan masih adanya air dan lingkungan yang sehat.
Masalahnya, kini kunang-kunang kian jarang muncul. Itu pertanda alam sedang “meriang”. Serangga kecil ini sangat sensitif. Kunang-kunang hanya betah hidup di lingkungan dengan air bersih. Cahaya buatan berlebihan mengacaukan komunikasi mereka, sementara pestisida membunuh larvanya sebelum sempat tumbuh dewasa.
Maka ketika kunang-kunang pergi, yang hilang bukan sekadar hiasan malam. Itu adalah tanda alam mengirimkan peringatan—semacam notifikasi darurat versi tradisional—lewat cahaya kecil yang lenyap.
Orang-orang kampung dulu meyakini kunang-kunang sebagai jelmaan roh baik atau penjaga alam. Jika jumlahnya banyak, berarti air berlimpah. Jika menghilang, berarti ada yang tidak beres dengan ekosistem.
Kini, yang tersisa tinggal cerita. Cahaya kunang-kunang berubah menjadi legenda yang diulang saat berkumpul malam sambil ngopi—ditemani tawa sahabat yang sebagian giginya sudah tak lengkap.
Kenapa Kunang-Kunang Menghilang?
Sejumlah penelitian global menunjukkan setidaknya tiga penyebab utama berkurangnya populasi kunang-kunang. Pertama, hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan sawah dan penyempitan sungai. Kedua, polusi cahaya yang berlebihan, membuat kunang-kunang gagal “berkomunikasi” dengan pasangannya. Ketiga, penggunaan pestisida yang membasmi larva sebelum sempat tumbuh.
Ditambah perubahan iklim, polusi, dan cuaca ekstrem. Alam yang dulu memanjakan kami—mengobor belut dan dalam waktu kurang dari satu jam bisa mendapatkan satu ember—kini hanya menyisakan nostalgia.
Padahal, untuk mengembalikan kunang-kunang tidak diperlukan ilmu setingkat dewa. Cukup dengan langkah sederhana: mengurangi pestisida, membiarkan area basah tetap alami, mematikan lampu berlebih di malam hari, menanam vegetasi lokal, dan menjaga air tetap bersih.
Jika itu dilakukan, bukan mustahil suatu malam cucu kita akan bertanya, “Eyang, itu yang nyala-nyala apa?”
Dan kita bisa menjawab dengan bangga, “Itu kunang-kunang, cucuku. Dulu eyangmu juga sering mengejar-ngejar mereka, tapi kalah cepat. Terbangnya kencang di udara.”
Malam itu, di tengah keheningan sawah, saya menyadari satu hal: kunang-kunang bukan sekadar serangga. Ia adalah saksi masa kecil, teman di gelap gulita, sekaligus penanda bahwa alam pernah benar-benar sehat.
Kini, ketika mereka menghilang, yang tersisa hanyalah tawa sahabat yang menua, aroma masa kecil yang datang sebentar, dan doa agar suatu hari cahaya kecil itu kembali menari di malam desa.
Karena kata para kolot, “Cahaya kunang-kunang adalah cahaya alam. Jika ia hilang, berarti bumi sedang sakit.”
Wallahualam.–(****)
*). Penulis Pegiat Seni dan Budaya, dan Pengurus Paguyuban Pasundan di Banten








