Apa Itu Bank Air? Gagasan Menabung Air Hujan yang Sedang Dirangkum Sudirman Indra

Bantengate.id, Apa jadinya jika air hujan yang selama ini dianggap sumber banjir justru menjadi tabungan kehidupan di masa depan? Pertanyaan itu menjadi pintu masuk gagasan yang kini tengah dirangkum Sudirman Indra dalam sebuah buku yang sedang ia susun, membahas konsep Bank Air sebagai solusi krisis air nasional.

Dalam naskah buku yang tengah dirampungkan tersebut, Sudirman Indra mengajak pembaca melihat krisis air dari sudut pandang yang berbeda. Indonesia, dengan curah hujan melimpah, sejatinya tidak kekurangan air. Namun, lemahnya sistem penyimpanan membuat air hujan mengalir sia-sia ke laut, meninggalkan kekeringan saat musim kemarau tiba.

Melalui buku ini, pembaca diajak memahami gagasan sederhana namun jarang dibahas: air hujan seharusnya ditabung, bukan dibuang. Bank Air digambarkan sebagai sistem yang meniru cara alam bekerja—menyerap, menyimpan, dan mengembalikan air ke tanah—dengan teknologi yang dapat diterapkan dari skala rumah tangga hingga kawasan permukiman.

Menariknya, buku yang sedang disusun ini tidak hanya memaparkan teori. Sudirman Indra menyelipkan pengalaman lapangan dari berbagai lokasi implementasi Bank Air, termasuk kawasan perumahan rakyat dan lingkungan pendidikan. Dari cerita-cerita tersebut, pembaca diajak melihat bagaimana perubahan kecil pada cara memperlakukan air hujan dapat berdampak besar pada ketersediaan air bersih.

Pada bagian lain, naskah buku mengungkap sisi yang jarang disentuh dalam diskursus lingkungan, yakni dimensi sosial dan spiritual air. Air tidak sekadar diposisikan sebagai sumber daya, tetapi sebagai amanah kehidupan. Konsep “menabung air” dipaparkan bukan hanya sebagai solusi teknis, melainkan sebagai gerakan kesadaran bersama untuk menjaga keberlanjutan generasi mendatang.

Sudirman Indra dalam bukunya juga menyoroti kegagalan pendekatan konvensional yang terlalu bergantung pada infrastruktur besar. Ia menawarkan sudut pandang alternatif: ketahanan air bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan banyak orang secara serempak. Di sinilah Bank Air diposisikan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai perubahan cara berpikir.

Meski masih dalam tahap penyusunan, buku ini digadang-gadang akan menjadi bacaan penting bagi pengambil kebijakan, pengembang perumahan, akademisi, hingga masyarakat umum yang ingin memahami persoalan air secara utuh—dari aspek teknis, sosial, hingga nilai-nilai kehidupan.

Tanpa menyebutkan tanggal rilis, Sudirman Indra berharap buku yang sedang ia susun dapat membuka diskusi baru tentang cara bangsa ini memperlakukan air. Bukan sebagai musuh saat hujan datang, dan bukan pula sebagai barang langka saat kemarau tiba, melainkan sebagai aset kehidupan yang harus dijaga bersama. (dimas)

Pos terkait