Mengembangkan Potensi Kampung Adat Dukuh Garut: Ziarah, Tradisi, dan Harapan yang Bertumbuh

Mengembangkan Potensi Kampung Adat Dukuh: Ziarah, Tradisi, dan Harapan yang Bertumbuh
Kang Oos Supyadin SE MM, Pengurus Dewan Adat Kabupaten Garut
Oleh : Kang Oos Supyadin., S.E., M.M.

(Pengurus Dewan Adat Kabupaten Garut )

SETIAP  Sabtu pagi, jalanan menuju Kampung Adat Dukuh di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, tak pernah sepi. Deru kendaraan pelan-pelan memecah sunyi perbukitan. Dari berbagai penjuru daerah, orang-orang datang dengan satu tujuan yang sama: berziarah, menepi sejenak dari hiruk pikuk dunia, berwisata, lalu pulang membawa ketenangan.

Di kampung adat Dukuh bersemayam Makam Syekh Abdul Jalil—sosok yang diyakini sebagai Sembah Dalem Lebe Warta Kusumah, ayahanda Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, salah satu waliyullah penyebar Islam di Tatar Sunda. Bagi para peziarah, tempat ini bukan sekadar tujuan perjalanan, melainkan ruang kontemplasi, tempat doa-doa dilangitkan dengan khusyuk.

Selain tujuan ziarah, Kampung Adat Dukuh juga memiliki daya tarik kuat berupa kelestarian adat dan tradisi masyarakatnya yang telah dijaga selama ratusan tahun. Kehidupan masyarakat yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai leluhur menjadi bukti bahwa Kampung Adat Dukuh memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi dan budaya berbasis kearifan lokal.

Melihat potensi tersebut, sudah sepatutnya Pemerintah Kabupaten Garut bersama Pemerintah Desa Ciroyom mengambil peran aktif dalam pengembangan pariwisata di wilayah ini.

Pengembangan pariwisata yang terencana tidak hanya berdampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisata, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Salah satu langkah awal yang krusial adalah peningkatan kualitas infrastruktur pendukung.

Perkampungan Adat Dukuh, di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.–(foto: dok/ist)

Pembangunan infrastruktur memiliki peran penting dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Infrastruktur yang memadai bertujuan memberikan kenyamanan bagi wisatawan dan peziarah tanpa mengorbankan nilai budaya maupun kelestarian lingkungan Kampung Adat Dukuh. Di sisi lain, pembangunan yang tepat juga dapat mendukung kesejahteraan masyarakat, perlindungan lingkungan, serta penguatan ekonomi lokal.

Infrastruktur yang dimaksud meliputi pembangunan dan penataan akses jalan serta fasilitas pendukung lainnya, seperti area parkir, pintu gerbang atau gapura, mushala, toilet umum, sarana air bersih, serta kios UMKM yang menyediakan cinderamata dan kuliner khas. Seluruh pembangunan tersebut perlu dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak, baik pemerintah, organisasi nonpemerintah, maupun masyarakat lokal.

Selain fasilitas dasar, kebutuhan akomodasi juga perlu diperhatikan. Di Kampung Adat Dukuh, konsep akomodasi yang sesuai adalah homestay atau bale tunggu yang dibangun di area parkir atau lokasi strategis lainnya. Homestay ini bersifat terbatas dan selektif, hanya diperuntukkan bagi peziarah, peneliti, atau pengunjung yang memiliki tujuan edukatif, sehingga tetap menjaga tatanan adat dan nilai-nilai lokal.

Pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung tersebut diperkirakan akan memberikan berbagai dampak positif bagi masyarakat Kampung Adat Dukuh. Dalam konteks pariwisata berkelanjutan, pembangunan ini menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas dan keberlangsungan aktivitas wisata di kawasan adat.

Beberapa dampak yang berpotensi dirasakan antara lain; Diversifikasi Pendapatan. Infrastruktur yang memadai akan memudahkan wisatawan berkunjung, sehingga berpotensi meningkatkan jumlah pengunjung. Wisatawan dapat mengikuti aktivitas masyarakat, membeli produk kerajinan, hingga memanfaatkan penginapan lokal. Hal ini membuka peluang penghasilan tambahan bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pertanian.

Kemudian peningkatan Aksesibilitas. Perbaikan infrastruktur jalan akan memudahkan mobilitas masyarakat setempat maupun wisatawan. Akses yang lebih baik tidak hanya meningkatkan kenyamanan, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan jumlah kunjungan yang berdampak langsung pada perekonomian lokal.

Selain itu. dampak Sosial dan Interaksi Budaya. Meningkatnya kunjungan wisatawan membuka ruang interaksi antara masyarakat Kampung Adat Dukuh dan pendatang. Interaksi ini berpotensi memengaruhi pola pikir dan wawasan masyarakat lokal melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan, selama tetap berada dalam koridor adat dan nilai yang dijunjung tinggi.

Dengan perencanaan yang matang dan berorientasi pada pelestarian budaya, Kampung Adat Dukuh dapat tumbuh sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga berkelanjutan dan bermartabat.–(***)

Rahayu

Pos terkait