Oleh: H. Edi Murpik
(Ketua DPD KWRI Provinsi Banten)
“Bagi perempuan Baduy, menenun bukan sekadar pekerjaan tangan. Ia adalah warisan leluhur yang diturunkan secara turun-temurun. Kaum perempuan Baduy belajar menenun (wastra) bukan dari buku, melainkan dari pengamatan dan kebiasaan. Pola motif tidak digambar, tidak pula ditulis. Semuanya hidup dalam ingatan.”
Pada pekan terakhir Desember 2025, saya berkunjung ke wilayah Baduy Luar bersama Kepala Kantor Pertanahan (Kakantah) ATR/BPN Kabupaten Lebak, Akhda Jauhari, didampingi sejumlah pejabat fungsional dan struktural. Kunjungan ini merupakan bagian dari silaturahmi dengan para tokoh adat sekaligus sosialisasi pertanahan di wilayah adat Baduy Luar, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.
Usai kegiatan, rombongan berjalan santai di sekitar balai adat Kampung Kadu Ketug 1. Di sanalah perhatian kami tertuju pada pemandangan yang nyaris tanpa suara: perempuan-perempuan Baduy duduk bersila, jemari mereka bergerak pelan namun pasti, menata benang di atas alat tenun tradisional. Tidak ada mesin, tidak ada listrik—hanya irama alam dan ketekunan.

Salah satu perempuan Baduy Luar yang tengah menenun adalah Teh Saonah, akrab disapa Teh Anah. Rumahnya berdampingan dengan balai adat, sebuah penanda tak tertulis bahwa aktivitas menenun adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Baduy.
Dengan wajah teduh dan tangan terampil, Teh Saonah menenun kain wastra Baduy dengan kesabaran yang mencerminkan filosofi hidup masyarakatnya: sederhana, tertib, dan selaras dengan alam. Sejak kecil, anak-anak perempuan Baduy belajar menenun melalui pengamatan dan praktik sehari-hari. Motif-motif yang mereka hasilkan tidak pernah digambar atau dicatat. Semuanya diwariskan secara lisan dari ibu kepada anak perempuannya.
Untuk menghasilkan kain berukuran sekitar 1 meter x 2 meter, waktu pengerjaannya bisa mencapai satu minggu, bahkan lebih. “Nenun mah teu tangtu,” tutur Teh Saonah sambil tersenyum—menenun tidak bisa dipaksakan oleh waktu.
Wastra Baduy hadir dalam beragam motif dan ukuran, mulai dari selendang hingga sarung. Harga kain tenun berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung motif dan kualitas.
“Motif dengan kualitas tertinggi disebut Wastra Janggawari,” ujar Teh Anah.
Wastra Janggawari berukuran sekitar 2 meter x 1,5 meter dan proses pembuatannya bisa memakan waktu hingga satu bulan atau lebih. Kain ini bermotif indah, sejuk, dan bernilai tinggi. Namun bagi masyarakat Baduy, menenun bukan soal mengejar keuntungan semata. Produksi dilakukan secukupnya, mengikuti waktu luang dan kebutuhan hidup.

Kain Janggawari hasil tenunan itu bukan sekadar penutup tubuh, melainkan identitas budaya. Tenun motif Janggawari mencerminkan prinsip hidup masyarakat Baduy yang menjunjung keseimbangan dan menolak kemewahan berlebihan—sederhana dalam tampilan, namun kaya makna.
Sebagai bentuk apresiasi, Akhda Jauhari bersama rombongan turut memborong beberapa potong hasil tenunan Teh Saonah dan para pengrajin lainya di sekitar balai adat.
“Hatur nuhun parantos mésér hasil karajinan warga kami,” ucap Jaro Kanekes, Jaro Oom, dengan senyum tulus.
Ikhsan Nugraha, Kasi PHP Kantah Lebak, sangat mengapresiasi wastra Baduy. Produk kaum perempuan Baduy perlu didukung oleh semua pihak sebagai potensi ekonomi dan saling terikat dalam geliat saba Baduy, kebudayaan dan pariwisata. “Hasil tenunya nrapih, motifnya indah dan sejuk.”
Perempuan Baduy menenun saat menunggu masa panen ladang. Sementara kaum lelaki mengisi waktu dengan menjual madu hutan, koja, dan produk tradisional lainnya ke luar wilayah adat. Pola pembagian peran ini telah berlangsung lama dan menopang ekonomi keluarga secara berkelanjutan.
Dengan tatanan hidup yang tertib dan sederhana, masyarakat Baduy dikenal memiliki ketahanan pangan yang kuat. Sejak dahulu hingga kini, keseimbangan antara alam, adat, dan kerja kolektif menjadi fondasi kehidupan mereka.
Bagi perempuan Baduy, menenun adalah ruang sunyi untuk menjaga tradisi. Di tengah arus modernisasi, wastra Baduy menjadi penanda bahwa kearifan lokal masih berdenyut—dijaga oleh tangan-tangan perempuan yang setia pada tradisi leluhurnya.–(****)








