Haul ke-345 Raden Aria Wangsakara: Menjemput Jejak Pendiri Tangerang dan Merawat Api Perjuangan Bangsa

Haul ke-345 Raden Aria Wangsakara: Menjemput Jejak Pendiri Tangerang dan Merawat Api Perjuangan Bangsa
Gubernur Banten Andra Soni, Bupati Tangerang Maesyal Rasyid, bersama PYM H.R.I Lukman Soemadisoeria, Sri Radya Karaton Sumedang Larang.--(foto: BG)

Oleh: H. Edi Murpik

(Pengurus Paguyuban Pasundan Banten)

Pagi itu di Taman Makam Pahlawan Lengkong, Tangerang, terasa  sunyi  namun  khidmat. Di sana berjejer deretan nisan para pahlawan.  Doa-doa dari para peziarah mengalir,  menembus batas waktu.  Sunyi menjadi saksi ribuan langkah yang datang membawa ingatan. Di sini pula,  sebuah acara Haul ke-345 Raden Aria Wangsakara, Pahlawan Nasional sekaligus pendiri Tangerang, digelar.

Di Taman Makam Pahlawan Nasional Lengkong, sejarah dan masa kini bersua. Gubernur Banten Andra Soni, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid,  melangkah perlahan menuju pusara, didampingi Dewan Karesian H. Rd. Endy Setiaji. Di belakang mereka, tokoh adat, ulama, pejabat daerah, serta warga dari berbagai penjuru Banten berkumpul, membentuk lingkaran besar penghormatan.

Tak ada gegap gempita. Yang ada hanya keheningan, doa, dan getaran kesadaran: bahwa di tempat ini, seorang tokoh besar Raden Aria Wangsakara,  pernah mengabdikan hidupnya untuk martabat tanah air.

Raden Aria Wangsakara hidup dalam dua dunia: spiritual dan perjuangan. Ia bukan hanya panglima yang mengangkat senjata melawan kolonialisme VOC, tetapi juga ulama yang menanamkan nilai Islam sebagai pondasi peradaban.

Sejarah mencatat, pada abad ke-17, wilayah Banten dan sekitarnya menjadi medan tarik-menarik kekuasaan antara Kesultanan Banten dan kepentingan dagang VOC. Dalam pusaran itulah, Wangsakara tampil sebagai sosok yang mempersatukan perlawanan rakyat.

Namun perjuangannya tidak semata bersenjata. Ia membangun basis sosial melalui dakwah, pengajaran, dan keteladanan. Di tangan Wangsakara, Islam bukan hanya ajaran ibadah, melainkan kekuatan moral yang menggerakkan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Raden Aria Wangsakara, bersama sahabat seperjuangannya dari Kerajaan Sumedang Larang; Raden Aria Mangun Yudha dan Raden Aria Jayasentika, membangun Tangerang. Dan ke tiga para pejuang ini dikenang sebagai pendiri Tangerang.

Di banyak kampung tua Tangerang, kisah tentang Wangsakara masih dituturkan sebagai legenda hidup. Tentang pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyatnya, tentang ulama yang berani berdiri di garis depan, dan tentang negarawan yang memandang jauh ke masa depan.

Bagi Wangsakara, perlawanan terhadap penjajah menjadi jalan panjang yang melahirkan tatanan sosial baru. Dari basis perjuangan itulah, komunitas-komunitas berkembang, sistem pemerintahan lokal dibangun, dan kehidupan bermasyarakat ditata.

Budayawan Tangerang, Ali Taba, mengatakan,  dari proses inilah embrio  semangat Kabupaten Tangerang lahir. Wangsakara bukan hanya mengusir dominasi asing, tetapi menanam fondasi peradaban: hukum, adat, pendidikan, dan tata kelola masyarakat.

Pengakuan negara dengan menganugerahkan  gelar Pahlawan Nasional menjadi penegasan bahwa perjuangan  Raden Aria Wangsakara,  melampaui batas lokal. Ia adalah bagian dari arus besar sejarah bangsa Indonesia.

Haul Refleksi Kebangsaan

Haul bukan sekadar ritual tahunan. Di Lengkong, haul menjelma ruang sunyi tempat bangsa bercermin. Gubernur Banten Andra Soni, dalam sambutannya menegaskan, bahwa mengenang leluhur tidak boleh berhenti pada simbol. Nilai perjuangan harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang nyata.

“Semangat perjuangan para pendahulu harus hidup dalam kebijakan yang berpihak pada rakyat. Itulah cara kita menghormati jasa para pejuang secara nyata,” ujar Andra di hadapan para peziarah dalam acara Haul ke 345  Raden Aria Wangsakara, Rabu (21/1/2026).

Pesan itu menjadi semacam jembatan antara masa lalu dan masa kini. Bahwa sejarah tidak boleh terkurung dalam buku, melainkan mengalir dalam program-program pembangunan.

Di bawah kepemimpinan Andra Soni – Dimyati Natakusumah, Pemerintah Provinsi Banten menempatkan pembangunan desa sebagai prioritas. Melalui Program Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra), jalan-jalan perdesaan dibuka, konektivitas diperkuat, dan keterisolasian wilayah diputus.

Sementara di sektor pendidikan, program sekolah gratis bagi siswa SMA, SMK, dan SKh swasta dijalankan untuk memastikan bahwa akses belajar tidak lagi dibatasi oleh kemampuan ekonomi.

Dua program itu merepresentasikan semangat Wangsakara: membebaskan rakyat dari belenggu ketertinggalan dan ketidakadilan. Infrastruktur membuka jalan fisik, pendidikan membuka jalan kesadaran.

Suara Sejarah dari Karaton Sumedang Larang

Dalam acara Haul ke-345 Raden Aria Wangsakara,  hadir  PYM H.R.I Lukman Soemadisoeria, Sri Radya Karaton Sumedang Larang, menyampaikan refleksi yang dalam.

“Haul ini bukan sekadar mengenang, tetapi meneguhkan jati diri dan arah langkah bangsa agar tetap berpijak pada nilai luhur para leluhur,” tuturnya.

Ia menekankan pentingnya kesinambungan antara sejarah, budaya, dan pembangunan. Menurutnya, bangsa yang tercerabut dari akar sejarah akan kehilangan orientasi. Sebaliknya, bangsa yang mampu merawat warisan leluhur akan melangkah dengan percaya diri menghadapi masa depan.

Haul ke-345 ini bukan hanya peristiwa seremonial, melainkan momentum membangun kesadaran kolektif. Di antara doa dan tabur bunga, generasi hari ini diingatkan bahwa kemerdekaan, pembangunan, dan kesejahteraan adalah buah dari pengorbanan panjang. Raden Aria Wangsakara telah meletakkan fondasi. Tugas generasi kini adalah merawat dan melanjutkannya.

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, kisah Wangsakara menjadi jangkar moral. Tentang keberanian melawan ketidakadilan, keteguhan menjaga nilai, dan kebijaksanaan memimpin masyarakat.–(***)

Pos terkait