Garut, Kota Dodol: Manis yang Melegenda, Filosofi yang Menghidupi

Garut, Kota Dodol: Manis yang Melegenda, Filosofi yang Menghidupi
Kang Oos Supyadin

Oleh: Kang Oos Supyadin

(Pemerhati Kebijakan Publik, Kesejarahan & Budaya)

Pagi di Garut selalu menghadirkan aroma yang khas. Dari dapur-dapur tradisional di sudut kampung hingga sentra industri rumahan, wangi santan, gula aren, dan tepung ketan perlahan menyatu dengan udara pegunungan yang sejuk. Di sanalah dodol Garut dilahirkan—bukan sekadar penganan manis, melainkan warisan rasa, nilai, dan filosofi yang telah mengakar sejak hampir satu abad lalu.

Dodol Garut dikenal luas sejak 1926. Dodol Garut tumbuh menjadi ikon kuliner yang melampaui sekadar status oleh-oleh. Ia menjelma simbol identitas daerah, penanda peradaban, sekaligus cermin watak masyarakat Garut: tekun, ramah, dan bersahaja. Dari proses pembuatannya yang panjang hingga kehangatan rasa yang tertinggal di lidah, dodol Garut menyimpan kisah tentang kesabaran dan kebersamaan.

Sejarah mencatat, dodol Garut lahir dari kearifan lokal dalam mengolah bahan-bahan alam sekitar: tepung ketan, santan kelapa, dan gula aren. Proses memasaknya memerlukan waktu 7–8 jam, diaduk tanpa henti hingga adonan mengental sempurna. Sebuah ritual kerja yang sarat makna: ketekunan, ketelatenan, dan kesabaran.

Di sinilah filosofi itu bermula. Setiap putaran sendok pengaduk adalah pengabdian, setiap tetes keringat adalah doa agar hasilnya manis dan membawa berkah. Tak heran, dodol Garut kemudian dikenal luas, bahkan menembus pasar mancanegara seperti Brunei, Jepang, Malaysia, Singapura, hingga Inggris. Kuliner sederhana ini menjadi duta budaya, membawa nama Garut  ke pentas global.

Filosofi di Balik Sepotong Dodol

Garut Kota Dodol bukan sekadar slogan, melainkan refleksi mendalam tentang nilai-nilai hidup masyarakatnya.  Pertama, ketekunan dan kesabaran. Proses memasak yang panjang melambangkan daya juang dan semangat pantang menyerah. Dalam budaya Sunda, nilai ini sejalan dengan prinsip someah hade ka semah, hade gawe, hade hate, yakni ramah, rajin bekerja, dan tulus hati.

Sudut Kota Garut, Provinsi Jawa Barat.–(foto:ist)

Kedua, keharmonisan dan persatuan. Tekstur dodol yang lengket menjadi simbol ikatan sosial yang erat, kebersamaan, serta semangat gotong royong yang masih hidup dalam denyut nadi masyarakat Garut.

Ketiga, keramahtamahan. Rasa manis dan legit mencerminkan sikap terbuka, hangat, dan bersahabat terhadap siapa pun yang datang. Tak berlebihan bila Garut dikenal sebagai daerah yang someah, penuh senyum, dan ringan tangan.

Keempat, kelenturan dan adaptasi. Sifat dodol yang kenyal menyimbolkan kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Seperti alam Garut yang elok—mooi—masyarakatnya lentur menghadapi perubahan zaman, namun tetap teguh memegang nilai tradisi.

Kelima, kebanggaan dan identitas. Dodol Garut telah menjadi ikon daerah, penggerak ekonomi lokal, sekaligus simbol kejayaan UMKM berbasis kearifan lokal. Setiap bungkus dodol adalah narasi tentang Garut: alamnya, budayanya, dan manusianya.

Di tengah gempuran produk modern dan makanan instan, dodol Garut tetap bertahan. Ini bukan sekadar soal rasa, melainkan kekuatan tradisi yang dirawat lintas generasi. Industri dodol rumahan telah menjadi penopang ekonomi rakyat, membuka lapangan kerja, serta menjaga denyut ekonomi desa.

Literasi budaya menyebutkan bahwa kuliner tradisional berfungsi sebagai “penjaga identitas” (cultural identity keeper), yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam konteks ini, dodol Garut bukan hanya produk pangan, tetapi medium pewarisan nilai, sejarah, dan karakter lokal.

Oleh karena itu, keberlanjutan dodol Garut adalah tanggung jawab bersama. Masyarakat dapat berperan nyata dengan menjadikan dodol sebagai oleh-oleh wajib saat berkunjung, mempromosikannya di ruang-ruang publik dan digital, serta mengapresiasi produk UMKM lokal agar tetap eksis dan berdaya saing.

Pada akhirnya, setiap gigitan dodol Garut bukan sekadar rasa manis di lidah, melainkan cerita panjang tentang kesabaran, persatuan, dan cinta pada tradisi. Ia adalah simbol bagaimana kearifan lokal mampu bertahan, berkembang, dan mendunia.

Garut Kota Dodol adalah perwujudan filosofi hidup: bahwa manis sejati lahir dari proses panjang, kebersamaan, dan ketulusan. Dan di sanalah, di balik sepotong dodol, Garut menyapa dunia dengan senyum yang tak pernah pudar.–(***)

Pos terkait