Ramadan: Membakar Dosa, Melembutkan Hati, Menyehatkan Jiwa dan Raga

Ramadan: Membakar Dosa, Melembutkan Hati, Menyehatkan Jiwa dan Raga
H. Edi Murpik

Oleh: H. Edi Murpik

“Ramadan adalah madrasah kehidupan. Ia mengajarkan disiplin, kesederhanaan, empati, dan kesadaran diri. Dari hikmah puasa itulah lahir manusia yang lebih lembut hatinya, lebih sehat raganya,  dan lebih dekat kepada Tuhannya.”

Umat Islam di seluruh dunia bersiap menyambut Ramadan 1447 Hijriah. Sebagian memulai puasa pada Rabu (18/2/2026), sementara lainnya pada Kamis (19/2/2026). Namun, lebih dari sekadar penanggalan, Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda—lebih hening, lebih hangat, dan lebih menyentuh batin.

Ramadan bukan hanya bulan ibadah tahunan. Ia adalah proses pemurnian diri—pembakaran yang menyentuh dimensi spiritual, psikologis, hingga biologis manusia. Secara etimologis, sejumlah ulama menjelaskan bahwa kata Ramadan berasal dari akar kata ramidha atau ar-ramdha’, yang berarti panas yang membakar. Makna ini memberi isyarat simbolik: Ramadan adalah bulan yang “membakar” dosa dan meluruhkan kekerasan hati.

Ramadan adalah madrasah kehidupan. Ia mengajarkan disiplin, kesederhanaan, empati, dan kesadaran diri. Dari “api” itulah lahir manusia yang lebih lembut hatinya, lebih sehat raganya, dan lebih dekat kepada Tuhannya.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, hati kerap mengeras oleh ambisi, rutinitas, dan ego. Ramadan hadir sebagai jeda. Lapar dan dahaga bukan sekadar menahan fisik, melainkan melatih batin agar kembali peka.

Dalam khazanah tasawuf dikenal ungkapan: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” (Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya).

Ungkapan ini memang bukan hadis sahih secara sanad, tetapi hidup dalam tradisi hikmah Islam sebagai pesan moral: pengenalan diri adalah pintu menuju pengenalan kepada Allah Swt. Ramadan menjadi momentum paling efektif untuk proses itu—mengenal keterbatasan diri, menyadari kelemahan, dan menumbuhkan kerendahan hati.

Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Tujuan utama puasa adalah takwa—kesadaran penuh bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi. Saat seseorang mampu menahan diri dari yang halal seperti makan dan minum, ia sedang dilatih untuk lebih mudah meninggalkan yang haram.

Rasulullah saw. bersabda: “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perisai dari dosa, dari amarah, dan dari hawa nafsu yang tak terkendali. Bahkan, ketika seseorang dicaci saat berpuasa, ia dianjurkan berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Pesan ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi dan ego.

Ramadan: Membakar Kekerasan Hati

Kehidupan modern sering kali menjauhkan manusia dari keheningan batin. Persaingan, tekanan ekonomi, dan materialisme membuat hati mudah keras dan sensitif. Ramadan menjawab kegelisahan itu. Lapar menundukkan kesombongan. Tarawih dan tadarus melunakkan batin. Sedekah mengikis keakuan. Tangis dalam doa melembutkan jiwa yang lama kering.

Allah berfirman: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid [57]: 16)

Selain berdimensi spiritual, puasa juga membawa manfaat kesehatan jika dijalankan secara seimbang dan tidak berlebihan.

  1. Istirahat sistem pencernaan. Selama berpuasa, tubuh tidak menerima asupan kalori dalam rentang waktu tertentu. Hal ini memberi kesempatan sistem pencernaan beristirahat dan memperbaiki diri. Metabolisme tubuh beralih menggunakan cadangan energi yang tersimpan.
  2. Mengontrol gula darah dan berat badan. Dengan pola sahur dan berbuka yang sehat, puasa membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil serta mengontrol berat badan. Prinsip moderasi menjadi kunci.
  3. Regenerasi sel. Dalam kondisi tertentu, tubuh memasuki fase perbaikan sel yang dalam kajian medis modern sering dikaitkan dengan pola puasa berkala. Ini menjadi bentuk pembaruan alami bagi tubuh.

Jauh sebelum kajian medis berkembang, Rasulullah SAW. telah mengingatkan pentingnya tidak berlebihan: “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya…” (HR. Tirmidzi)

Puasa mendidik pola makan yang moderat—sebuah prinsip kesehatan yang relevan sepanjang zaman. Ramadan juga memberi dampak psikologis yang signifikan. Intensitas ibadah—salat malam, zikir, dan membaca Al-Qur’an—menciptakan ketenteraman batin.

Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Ketenteraman hati berkorelasi dengan menurunnya tingkat stres dan meningkatnya daya tahan tubuh. Jiwa yang damai melahirkan tubuh yang lebih sehat.

Puasa dalam Tradisi Umat Manusia

Al-Qur’an menyebut bahwa puasa juga diwajibkan atas umat sebelum Islam. Artinya, praktik ini bersifat universal. Dalam tradisi Kristen dikenal masa Prapaskah sebagai bentuk pengendalian diri dan pertobatan. Dalam Yudaisme terdapat puasa Yom Kippur sebagai hari penebusan dosa. Dalam Hindu dan Buddha, puasa menjadi disiplin spiritual.

Di Banten, masyarakat adat Baduy di Desa Kanekes menjalankan ritual Kawalu sejak Januari hingga Maret. Dalam periode tersebut, mereka berpuasa pada hari-hari tertentu sebagai bentuk pensucian diri. Setelah Kawalu, dilaksanakan tradisi Seba—melaporkan hasil bumi dan ketaatan adat kepada pemerintah daerah.

Puasa, dengan demikian, adalah praktik universal manusia dalam mencari kedekatan dengan Tuhan dan menyucikan diri.

Ramadan mengajak manusia bertanya: siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan ke mana akan kembali?.  Kesadaran atas keterbatasan melahirkan empati sosial. Karena itu, Ramadan juga menjadi bulan zakat, infak, dan sedekah. Puasa bukan hanya relasi vertikal kepada Allah, tetapi juga relasi horizontal kepada sesama.

Jika Ramadan bermakna panas yang membakar, maka ia bukan api yang menghancurkan, melainkan api yang menyucikan—membakar dosa, melembutkan hati, dan memperbarui tubuh yang lelah.

Allah Swt. berfirman: “Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 184)

Ramadan adalah madrasah kehidupan. Ia mengajarkan disiplin, kesederhanaan, empati, dan kesadaran diri. Dari hikmah puasa  itulah lahir manusia yang lebih lembut hatinya, lebih sehat raganya, dan lebih dekat kepada Tuhannya.

Ramadan bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah perjalanan pulang—menuju diri yang sejati dan menuju Allah Swt.–(***)

Marhaban ya Ramadan.

 

*). Penulis Pengurus Paguyuban Pasundan di Banten, tinggal di Kota Rangkasbitung-Banten

Pos terkait