Ramadhan: Saatnya ‘Unsubscribe’ dari Drama Dunia dan Re-Install Software Diri

Ilustrasi detoks digital dan self improvement di bulan Ramadhan

Bantengate.id, Banyak orang mengira Ramadhan hanyalah soal memindahkan jam makan atau menahan haus di siang hari. Tapi kalau kita tarik garis lebih dalam, Ramadhan sebenarnya adalah Proyek Detoksifikasi Terbesar yang pernah ada dalam sejarah manusia.

Di era di mana jempol kita lebih sibuk daripada otak, dan notifikasi HP lebih sering terdengar daripada suara hati, Ramadhan hadir sebagai tombol “Force Quit” dari segala hiruk-pikuk yang melelahkan.

Diet Sosmed, Bukan Cuma Diet Gorengan

Kita sering sibuk menghitung kalori saat berbuka, tapi lupa menghitung berapa banyak “sampah visual” yang kita telan lewat scroll TikTok atau Instagram seharian. Ramadhan adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan Digital Minimalism.

Coba bayangkan: Apa gunanya menahan lapar kalau hati masih panas melihat pamer healing orang lain di story? Ramadhan mengajak kita untuk Unsubscribe dari rasa iri dan Log out dari perdebatan yang tidak perlu di kolom komentar.

Melatih ‘Otot’ Sabar yang Mulai Atrofi

Di zaman serba instan—pesan makanan tinggal klik, mau nonton tinggal streaming—otot kesabaran kita seringkali melempem. Kita jadi manusia yang gampang “meledak” kalau koneksi internet lambat sedikit saja.

Puasa melatih kembali otot itu. Menunggu adzan Maghrib adalah latihan menunggu paling puitis. Di sana ada seni mengendalikan diri, sebuah skill yang harganya mahal banget di dunia kerja maupun pergaulan.

Re-Install Software Spiritual

Kalau HP kita sudah mulai lag, biasanya kita bakal restart atau hapus aplikasi yang nggak guna. Diri kita pun sama. Selama 11 bulan, mungkin “software” kita penuh dengan malware berupa ghibah, ego, atau ambisi yang kebablasan.

Ramadhan adalah fase Scanning dan Updating. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar mengejar khatam, tapi membaca kembali “Manual Book” kehidupan kita yang mungkin sudah berdebu di pojok lemari.

Solidaritas Tanpa Konten

Ramadhan juga mengajarkan kita bahwa empati itu dirasakan di perut, bukan cuma diposting di feed. Merasakan lapar adalah cara Tuhan memaksa kita untuk mengerti posisi mereka yang kurang beruntung tanpa perlu penjelasan teoretis. Ini bukan soal seberapa banyak paket sembako yang kita bagi sambil difoto, tapi seberapa tulus kita merasa “satu frekuensi” dengan sesama manusia.

Kesimpulan: Menjadi Versi 2.0

Keluar dari bulan Ramadhan bukan berarti kembali ke setelan pabrik yang lama. Tujuannya adalah menjadi Versi Terbaru yang lebih ringan, lebih stabil, dan lebih fungsional. Jadi, buat pembaca Bantengate, jangan cuma puas dengan “Ganti Jadwal Makan”. Mari kita manfaatkan bulan ini untuk benar-benar Clean Up ruang batin kita.

Selamat berpuasa, selamat menemukan kembali diri yang sempat hilang di balik layar gawai! (dimas)

Pos terkait