Bantengate.id – Banyak orang mengira kalau sifat pemalas, gampang marah, atau sulit fokus adalah “bawaan lahir” yang nggak bisa diubah. Tapi sains modern berkata lain. Ada sebuah fenomena luar biasa yang disebut Neuroplasticity.
Secara teknis, otak kita terdiri dari sekitar 86 miliar sel saraf (neuron). Antar neuron ini saling berkomunikasi lewat sambungan yang disebut Sinapsis. Dulu, ilmuwan mengira otak orang dewasa itu kaku (static). Faktanya? Otak kita itu malleable (bisa dibentuk ulang) layaknya plastik atau tanah liat.
Teori Hebbian: “Cells that Fire Together, Wire Together”
Dalam dunia neurosains, ada hukum terkenal bernama Hebbian Theory. Intinya: Sel saraf yang sering aktif bersamaan akan membentuk jalur yang makin kuat.
-
Kalau kamu sering mengulang pikiran negatif, otakmu membangun “jalan tol” untuk depresi.
-
Kalau kamu sering mengulang zikir atau bacaan Al-Qur’an, otakmu membangun “jalur cepat” untuk ketenangan.
Di sinilah kaitan eratnya dengan Surah Ar-Ra’d ayat 11:
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Secara sains, “mengubah apa yang ada pada diri” adalah instruksi untuk melakukan Rewiring Otak. Allah nggak akan mengubah nasib kita kalau kita nggak mau repot-repot mengubah “jalur kabel” di kepala kita lewat perubahan habit.
Baca juga: Proses Autofagi: Cara Tubuh Me-recycle Diri Saat Puasa
Al-Qur’an sebagai “Input Data” untuk Update Sistem
Gimana caranya Al-Qur’an melakukan update pada struktur fisik otak kita?
-
Repetisi (Murottal & Tilawah) = Strengthening Pathways Neuroplasticity sangat bergantung pada pengulangan. Saat kita membaca Al-Qur’an secara rutin (Istiqamah), kita sedang memaksa neuron kita untuk melakukan sinkronisasi. Pola nada (tajwid) dan ritme Al-Qur’an terbukti secara klinis bisa menurunkan aktivitas di Amygdala (pusat rasa takut) dan memperkuat Prefrontal Cortex (pusat logika dan kendali diri).
-
Visual & Auditory Sync Membaca Mushaf melibatkan mata (visual) dan mulut (motorik), serta telinga (auditori) sekaligus. Aktivasi multi-sensori ini mempercepat proses pembentukan sinapsis baru. Ini adalah cara paling efektif untuk “menghapus” program lama yang buruk dan meng-install nilai-nilai baru.
-
Khusyuk = Deep Work untuk Otak Khusyuk dalam ibadah sebenarnya adalah kondisi Extreme Focus. Dalam sains, fokus yang mendalam memicu pelepasan Asetilkolin, zat kimia yang menandai neuron mana yang harus berubah. Tanpa fokus, neuroplasticity nggak akan terjadi. Itulah kenapa shalat yang terburu-buru nggak akan “mengubah” karakter seseorang sehebat shalat yang khusyuk.
Kita Adalah Apa yang Kita “Coding”
Allah memberikan kita otak yang sangat adaptif. Al-Qur’an bukan cuma kitab untuk dibaca, tapi Manual Book untuk melakukan biohacking pada diri sendiri.
Setiap ayat yang kamu renungkan dan setiap sujud yang kamu lamakan adalah proses rewiring. Kamu bukan sedang terjebak dengan dirimu yang lama; kamu hanya perlu konsisten meng-update “coding” di kepalamu agar sistem hidupmu berjalan lebih lancar.(dimas)
*) Ditulis dari berbagai sumber








