Seribu Pendekar dan Debus Banten Semarakkan Alun-alun Rangkasbitung, Perkuat Silaturahmi dan Pelestarian Budaya

Seribu Pendekar dan Debus Banten Semarakkan Alun-alun Rangkasbitung, Perkuat Silaturahmi dan Pelestarian Budaya

Lebak, BantenGate.id –Seribu pendekar dari berbagai perguruan pencak silat memadati Alun-alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, dalam pentas seni budaya pencak silat dan debus Banten, Minggu (11/10/2026). Selain menampilkan ketangkasan seni bela diri tradisional, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi Garuda Satu Komando Federasi sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Milad ke-10 PaguyubanKumpulan Budak Lebak Banten (KBLB).

Tak sekadar menjadi panggung pertunjukan, kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan berbagai perguruan pencak silat, paguyuban, dan komunitas untuk mempererat persaudaraan sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Direktur Utama Garuda Satu Komando, Adi Kurniawan, S.H., hadir sebagai tamu kehormatan dalam kegiatan tersebut, mengatakan,  Pencak silat dan debus menjadi daya tarik utama. Keduanya merupakan bagian dari kekayaan tradisi Banten yang tidak hanya menyuguhkan ketangkasan dan keberanian, tetapi juga menyimpan nilai-nilai kedisiplinan, pengendalian diri, penghormatan terhadap sesama, serta tanggung jawab.

“Pencak silat dan debus bukan hanya hiburan, tetapi juga mencerminkan keberanian, kedisiplinan, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap sesama,” kata Adi Kurniawan.

Menurutnya, silaturahmi ant pendekar memiliki arti penting dalam membangun solidaritas di antara perguruan, paguyuban, dan komunitas yang memiliki perhatian terhadap pelestarian seni budaya tradisional.

“Silaturahmi ini diharapkan mampu memperkuat solidaritas dan menjaga hubungan baik di antara para pendekar, paguyuban, serta komunitas yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya,” ujarnya.

Pencak silat telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia. Di Banten, seni bela diri ini tumbuh berdampingan dengan debus, kesenian tradisional yang dikenal luas karena memadukan unsur ketangkasan, keberanian, dan pertunjukan yang khas.

Di balik atraksi yang memikat perhatian penonton, terdapat nilai-nilai yang dapat ditanamkan kepada generasi muda. Disiplin dalam berlatih, menghormati guru dan sesama, menjunjung sportivitas, serta mampu mengendalikan diri merupakan bagian penting dari pembelajaran pencak silat.

Karena itu, pentas seni budaya seperti ini diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan acara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pengenalan seni tradisional kepada masyarakat, khususnya kalangan generasi muda.

Pembinaan perguruan, regenerasi pendekar, dan pengenalan filosofi pencak silat juga menjadi bagian penting agar tradisi tersebut tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi tetap berkembang sebagai warisan budaya yang memiliki nilai pendidikan.

Peringati HUT ke-81 TNI dan Satu Dekade Paguyuban KBLB

Pentas seni budaya di Alun-alun Rangkasbitung ini juga dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-81 TNI tahun 2026. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat semangat kebangsaan, nasionalisme, dan persatuan melalui kegiatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Semangat kebersamaan yang terbangun di antara para pendekar dinilai sejalan dengan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah keberagaman. Perbedaan perguruan, latar belakang, dan komunitas tidak menjadi penghalang untuk bertemu dalam satu ruang kebudayaan.

Sementara itu, peringatan Milad ke-10 Paguyuban KBLB menandai perjalanan satu dekade organisasi tersebut dalam membangun kebersamaan dan mempererat hubungan antaranggotanya.

Memasuki usia sepuluh tahun, semangat solidaritas diharapkan terus dipertahankan dan diwujudkan melalui kegiatan yang memberikan manfaat bagi anggota maupun masyarakat luas.

Dengan demikian, peringatan hari jadi organisasi tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen terhadap persaudaraan, kepedulian sosial, dan pelestarian budaya daerah.

Selain pentas pencak silat dan debus, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pengenalan Sekolah Paranormal bersama Yayasan Surya Mudana Rahayu Nusantara (SAMUDRA). Yayasan tersebut diketuai oleh  Ki Raden Surya Mudana, yang akrab disapa Pangeran Pengasih.

Pangeran Pengasih mengatakan, pengenalan sekolah tersebut menjadi salah satu agenda yang disampaikan dalam rangkaian kegiatan di Alun-alun Rangkasbitung.

Namun, penjelasan lebih terperinci mengenai tujuan pendidikan, materi pembelajaran, metode, dan bentuk kegiatan Sekolah Paranormal masih memerlukan keterangan resmi lebih lanjut dari pihak penyelenggara. Secara keseluruhan, kegiatan ini menjadi wadah pertemuan bagi para pendekar, paguyuban, dan komunitas untuk menjalin silaturahmi sekaligus memperkenalkan seni budaya tradisional Banten kepada masyarakat.

Pangeran Pengasih berharap, kegiatan semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya leluhur, terutama melalui keterlibatan generasi muda. Pelestarian budaya, menurutnya, membutuhkan kebersamaan dan komitmen berbagai pihak agar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tetap dikenal dan dihargai.--(sunarya)

Pos terkait