Laporan: Otang Sunarya
(Wartawan BantenGate.id)
Bagi masyarakat di wilayah perbukitan Citorek, Kabupaten Lebak, Banten, Jalan bukan sekadar hamparan beton atau aspal yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Kegiatan TMMD ke-130 di Lebak, diantaranya memangun jalan sepanjang 1,4 kilometer yang menghubungkan wilayah Citorek dengan Situs Lebak Sibedug. Jalan adalah juga sebuah kemudahan menjangkau sekolah, membawa hasil pertanian, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas.
Harapan itulah yang menyertai pengerjaan pengecoran jalan dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 0603/Lebak. Di tengah pekerjaan fisik tersebut, personel TNI dan masyarakat bergotong royong, mengerahkan tenaga untuk membangun akses yang diharapkan memberi manfaat bagi kehidupan warga.
Pekerjaan jalan itu menjadi salah satu gambaran bagaimana pembangunan desa tidak hanya bertumpu pada ketersediaan anggaran dan peralatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Ketika prajurit dan warga bekerja bersama, pembangunan menjadi ruang perjumpaan antara tugas pengabdian dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Jalan yang Menghubungkan Kehidupan
Wilayah Citorek berada di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Kawasan ini dikenal memiliki bentang alam perbukitan, potensi pertanian, serta kekayaan budaya masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul.
Karakter geografis tersebut menjadikan aksesibilitas sebagai salah satu aspek penting dalam pembangunan. Jalan yang memadai dapat membantu masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari, mengangkut hasil pertanian, dan menjangkau pusat pelayanan publik.
Dalam program TMMD ke-130 Tahun Anggaran 2026, pembangunan infrastruktur jalan menjadi salah satu sasaran fisik utama. Pembangunan jalam direncanakan meliputi pengecoran jalan sepanjang 1,4 kilometer dengan lebar tiga meter, disertai sejumlah pekerjaan pendukung lainya. Jalan ini menghubungkan Desa Citorek Barat dengan kawasan sejarah Situs Cibedug, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak.
Pekerjaan fisik dimulai pada hari kedua pelaksanaan program dan dijadwalkan selesai beriringan dengan berakhirnya masa TMMD ke-130. Jalan tersebut diharapkan memperbaiki konektivitas wilayah sekaligus mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Bagi warga desa, manfaat jalan tidak selalu diukur dari panjang ruas yang dibangun. Kemudahan yang diperoleh ketika bepergian, kelancaran membawa hasil kebun, serta akses menuju sekolah dan layanan kesehatan merupakan bagian penting dari nilai sebuah infrastruktur.
Namun, manfaat itu baru benar-benar terasa apabila jalan selesai sesuai perencanaan, dapat digunakan dengan aman, dan dirawat secara berkelanjutan.
Ketika Prajurit dan Warga Bekerja Bersama
Pengecoran jalan dalam program TMMD memperlihatkan pentingnya gotong royong sebagai modal sosial pembangunan desa.
Personel TNI bersama masyarakat terlibat dalam pekerjaan fisik untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Kolaborasi tersebut mempertemukan kemampuan teknis, tenaga, dan partisipasi warga dalam satu tujuan: menghadirkan fasilitas yang dibutuhkan masyarakat.
TMMD sendiri merupakan program yang mempertemukan TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam kegiatan pembangunan fisik maupun nonfisik. Karena itu, keberhasilannya tidak semata-mata dilihat dari pekerjaan konstruksi, tetapi juga dari kemampuan membangun kerja sama dan mendorong partisipasi masyarakat.
Kegiatan TMMD ke-130 di wilayah Citorek, Kabupaten Lebak, di buka Komandan Korem 064/Maulana Yusuf, Brigjen TNI Daru Cahyadi Soeprapto, pada Selasa (13/10/2026). Danrem dalam amanatnya menekankan pentingnya membangun negeri dari desa dan memastikan hasil pembangunan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Semangat tersebut relevan dengan pekerjaan jalan di Citorek. Infrastruktur yang dibangun melalui kerja bersama diharapkan tidak berhenti sebagai hasil kegiatan program, tetapi menjadi aset yang dijaga dan dimanfaatkan oleh warga dalam jangka panjang.
Gotong royong juga menumbuhkan rasa memiliki. Ketika masyarakat ikut terlibat dalam pembangunan, mereka memiliki kesempatan untuk memahami proses pengerjaan, mengenali kebutuhan lingkungan, dan turut menjaga fasilitas yang telah dibangun.
Citorek, Potensi Desa yang Membutuhkan Akses
Citorek tidak hanya memiliki kebutuhan infrastruktur, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi, wisata, dan budaya.
Dalam artikel Bantengate.id sebelumnua, pernah mengulas pengembangan budidaya ikan mas dan potensi wisata Gunung Luhur yang dikenal dengan sebutan Negeri di Atas Awan. Pemberitaan tersebut menggambarkan bagaimana potensi lokal dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat apabila didukung akses dan sarana yang memadai.
Di sisi lain, Citorek merupakan bagian dari wilayah masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul yang masih memelihara tradisi leluhur. Konteks tersebut memberi gambaran bahwa pembangunan infrastruktur perlu berjalan seiring dengan perhatian terhadap karakter sosial dan budaya setempat.
Jalan yang lebih baik berpotensi mempermudah mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian. Akses yang memadai juga dapat mendukung kegiatan ekonomi lain yang berkembang di wilayah tersebut.
Meski demikian, pembangunan jalan saja tidak otomatis menjamin peningkatan kesejahteraan. Manfaat ekonominya akan bergantung pada kondisi jalan setelah selesai, aktivitas produksi warga, akses terhadap pasar, serta keberlanjutan pengelolaan potensi desa.
Karena itu, pembangunan infrastruktur perlu dipandang sebagai salah satu fondasi yang membuka peluang, bukan satu-satunya penentu keberhasilan ekonomi masyarakat.
TMMD Tidak Hanya Membangun Jalan
Program TMMD ke-130 Kodim 0603/Lebak juga mencakup sejumlah sasaran fisik dan nonfisik yang dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Dandim 0603/Lebak, Letkol Inf I Gede Mahendra Subrata, S.I.P., M.I.P., M.Sc., mengatakan, bahwa kegiatan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Citorek meliputi kegiatan pembangunan fisik dan non fisik.
Selain pengecoran jalan, juga pembangunan fasilitas pendukung jalan, penyediaan sumur bor, rehabilitasi rumah tidak layak huni, penanaman pohon, serta sejumlah kegiatan sosial dan penyuluhan.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pembangunan desa membutuhkan pendekatan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari infrastruktur, kebutuhan dasar, hingga pemberdayaan masyarakat.
Jalan yang layak memang penting, tetapi kualitas hidup warga juga berkaitan dengan ketersediaan air bersih, hunian yang aman, lingkungan yang terjaga, dan pengetahuan yang mendukung kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan jalan di Citorek tidak cukup dinilai dari selesainya pengecoran atau panjang jalan yang berhasil dikerjakan.
Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana jalan tersebut digunakan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setelah program berakhir. Apakah mobilitas warga menjadi lebih mudah? Apakah pengangkutan hasil pertanian menjadi lebih lancar? Apakah anak-anak memperoleh akses yang lebih baik menuju sekolah? Dan apakah masyarakat dapat menjaga kondisi jalan agar tetap berfungsi dalam jangka panjang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting untuk memastikan bahwa pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Pemerintah daerah, aparat pelaksana, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlanjutan hasil pembangunan. Perencanaan yang sesuai kebutuhan, pengerjaan dengan memperhatikan kualitas, serta pemeliharaan secara berkala akan menentukan seberapa lama manfaat jalan dapat dirasakan.
Bagi masyarakat Citorek, pengecoran jalan melalui TMMD ke-130 merupakan bagian dari ikhtiar memperbaiki akses dan membuka peluang yang lebih luas. Di balik pekerjaan fisik itu, terdapat harapan agar kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah dan potensi desa dapat berkembang.—(***)








