Anggota DPRD Sumbar H. Rony Mulyadi Gelar Bimtek Bundo Kanduang dan Puti Bungsu

Anggota DPRD Sumbar H. Rony Mulyadi.--(Foto: yen)

Tanah Datar, BantenGate.id – Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, H. Rony Mulyadi SE. Dt. Bungsu, menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) peningkatan kapasitas Bundo Kanduang dan Puti Bungsu di Aia Angek Cottage, Nagari Aia Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Kamis (28/8/2025).

Bacaan Lainnya

Bimtek yang mengangkat tema “Ka pai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito” (saat pergi seseorang akan bertanya dan meminta nasihat di tempat mana yang tepat, dan saat pulang ia aka bercerita apa yang telah ia peroleh) ini bertujuan menanamkan nilai moral dan spiritual kepada generasi muda (Gen Z). Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memahami filosofi adat dan budaya Minangkabau sekaligus menumbuhkan penghargaan terhadap kekayaan tradisi lokal.

Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Dr. H. Jefrinal Arifin, SH, M.Si, Ketua Bundo Kanduang Tanah Datar Hj. Raudha Thaib, serta Anggota DPRD Sumbar H. Rony Mulyadi SE. Dt. Bungsu.

Kadis Kebudayaan Sumbar, Jefrinal Arifin, menyebutkan kegiatan ini merupakan kerja sama Dinas Kebudayaan dengan DPRD Sumbar melalui pokok-pokok pikiran (pokir) H. Rony Mulyadi. Bimtek berlangsung selama tiga hari, melibatkan peserta dari berbagai kecamatan dan nagari di Tanah Datar.

Peserta Bimtek peningkatan kapasitas Bundo Kanduang dan Puti Bungsu, di Aia Angek Cottage, Nagari Aia Angek, Kecamatan X Koto.-(foto: yen)

“Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang peran, fungsi, serta tata cara kehidupan Bundo Kanduang dalam adat Minangkabau. Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat ditularkan kepada generasi muda agar mereka memahami sumbang duo baleh, kato nan ampek, dan nilai adat lainnya. Jika generasi muda paham, budaya Minangkabau akan tetap hidup. Jika tidak, budaya kita bisa hilang,” ujarnya.

Sementara itu, H. Rony Mulyadi menekankan pentingnya membekali generasi muda dengan nilai adat agar tetap berakar meski menghadapi derasnya arus modernisasi.

“Budaya adalah jati diri dan identitas yang tidak boleh digerus oleh kemajuan teknologi. Merawat dan melestarikan budaya berarti menjaga serta menghidupkan jati diri itu sendiri, yang memberi semangat dan rasa kebersamaan,” jelasnya.

Rony juga menegaskan bahwa adat Minangkabau berpijak pada falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Pepatah “Syarak mangato, Adat mamakai” menggambarkan hubungan fungsional antara hukum Islam sebagai sumber aturan dan adat sebagai penerapan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penghulu pucuak, Rony menilai kompleksitas persoalan sosial saat ini menuntut penguatan adat bagi generasi muda. Ia bahkan berencana mengagendakan pelatihan khusus bagi pemuda Minangkabau seperti tradisi lama di surau, di mana mereka ditempa dengan ilmu agama, silat, politik, hingga adat istiadat.--(yen)

Pos terkait