Serang, BantenGate.id — Sepanjang tahun 2025, kepemimpinan Gubernur Banten Andra Soni bersama Wakil Gubernur Achmad Dimyati Natakusumah terus menggerakkan pembangunan Provinsi Banten ke arah pemerataan dan keberlanjutan. Pembangunan tidak semata difokuskan pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan dan kesehatan, agar manfaat pembangunan dapat dirasakan merata di seluruh wilayah tanpa kesenjangan antardaerah.
“Arah pembangunan Provinsi Banten periode 2025–2030 dirumuskan dalam tiga program unggulan, yakni Banten Bagus, Banten Sehat, dan Banten Cerdas. Ketiganya menjadi fondasi utama dalam memperkuat infrastruktur dasar, meningkatkan kualitas layanan kesehatan, serta memperluas akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat,”kata Kabiro Adpim Setda Pemprov. Banten, Arif Agus Rakhman, di Serang Rabu (31/12/2025).
Banten Bagus: Dorong Jalan Desa Dorong Pemerataan Wilayah
Melalui program Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra), hingga akhir 2025 Pemerintah Provinsi Banten telah membangun 62 infrastruktur desa yang terdiri atas 61 ruas jalan dan 1 jembatan. Pembangunan tersebut tersebar di berbagai daerah, meliputi Kabupaten Pandeglang sebanyak 29 ruas jalan dan 1 jembatan, Kabupaten Lebak 17 ruas jalan, Kabupaten Serang 8 ruas jalan, Kabupaten Tangerang 2 ruas jalan, serta Kota Serang 5 ruas jalan.
Porsi pembangunan lebih difokuskan di wilayah selatan Banten, seiring luas wilayah dan keterbatasan kapasitas fiskal daerah. Jalan-jalan desa tersebut diarahkan untuk menunjang aktivitas ekonomi masyarakat perdesaan, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, pendidikan, hingga pariwisata.
“Program ini sejalan dengan Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan,” ujar Gubernur Andra Soni.

Banten Sehat: Akses Kesehatan
Di sektor kesehatan, Pemprov Banten meresmikan sejumlah fasilitas strategis, di antaranya Gedung Bunker Radioterapi dan Pelayanan Kemoterapi di RSUD Banten, RSUD Uwes Qorny Cilograng di Kabupaten Lebak, serta RSUD Irsyad Djuwaeli Labuan di Kabupaten Pandeglang. Selain itu, layanan Mobile Clinic berbasis telemedicine diluncurkan untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah dimanfaatkan oleh 4.147.520 warga Banten. Pemprov Banten juga menyediakan Rumah Singgah di Jakarta bagi pasien rujukan, berlokasi di Jalan Tebet Timur Raya No. 51, dengan kapasitas 20 orang bagi pasien dan pendamping.
“Penyediaan fasilitas radioterapi dan kemoterapi ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan layanan penanganan kanker di Banten. Dua rumah sakit baru di wilayah selatan juga kami siapkan agar akses layanan kesehatan berkualitas semakin dekat,” jelas Andra Soni.
Program CKG melalui mobile clinic turut difokuskan pada deteksi dini tuberkulosis (TBC). Hingga Desember 2025, cakupan penemuan kasus TBC di Banten mencapai 107 persen, melampaui target provinsi maupun nasional. Layanan ini juga mencakup penyuluhan kesehatan, imunisasi, pemeriksaan ibu dan anak, layanan laboratorium sederhana, serta penanganan kegawatdaruratan.
Sebagai penguatan layanan, pada 18 Desember 2025 Pemprov Banten mengoperasionalkan Faskin Link, layanan telekonsultasi gratis oleh dokter Puskesmas yang kini tersedia di 16 Puskesmas.
Banten Cerdas: Sekolah Gratis hingga Sarjana Penggerak Desa
Di bidang pendidikan, program Banten Cerdas diwujudkan melalui kebijakan Sekolah Gratis bagi siswa SMA, SMK, dan SKh swasta, serta Program Sarjana Penggerak Desa. Pada tahun pertama pelaksanaan 2025, Sekolah Gratis diikuti oleh 801 sekolah swasta dengan total 60.705 siswa terverifikasi.
Kebijakan ini difokuskan pada sekolah swasta guna memastikan seluruh anak mendapatkan akses pendidikan yang setara dan berkualitas, sekaligus mendorong keadilan sosial dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pemprov Banten juga mengimplementasikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara kolaboratif lintas sektor. Hingga akhir 2025, telah terbentuk 537 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan jumlah penerima manfaat lebih dari 1,5 juta orang, terdiri atas siswa, ibu hamil, balita, dan kelompok rentan.
Selain itu, empat Sekolah Rakyat telah dioperasionalkan, yakni di Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Lebak, dan Kota Serang. Program Sarjana Penggerak Desa pun memberikan beasiswa hingga Rp20 juta per orang, dengan fokus pada bidang-bidang strategis seperti pertanian, perikanan, ekonomi, dan teknologi informasi.
“Generasi muda desa adalah pihak yang paling memahami potensi dan tantangan desanya. Merekalah yang kelak melanjutkan pembangunan dengan bekal ilmu pengetahuan sebagai investasi jangka panjang,” ungkap Andra Soni.
Melalui harmonisasi program Banten Bagus, Banten Sehat, dan Banten Cerdas, perekonomian Provinsi Banten pada triwulan III 2025 tumbuh sebesar 5,29 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 77,25 dan masuk kategori tinggi.
Realisasi investasi mencapai Rp91,5 triliun, menempatkan Banten di peringkat keempat nasional. Di sektor pertanian, Banten masuk 10 besar nasional sebagai produsen padi dengan luas panen 347.700 hektar dan produksi 1.804.002 ton.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi sebesar 11,73 persen, disusul sektor jasa pendidikan sebesar 8,70 persen.
“Ketika jalan sudah baik, kesehatan terjamin, dan anak-anak bersekolah dengan tenang, masyarakat akan lebih percaya diri untuk beraktivitas ekonomi dan berani bermimpi lebih tinggi,” tutup Andra Soni.–(red)








