Jejak Eyang Kuncung Putih di Gunung Susuru Bungbulang Garut

Jejak Eyang Kuncung Putih di Gunung Susuru Bungbulang Garut
Kang Oos Supyadin.-

Oleh: Kang Oos Supyadin

(Pemerhati Kesejarahan & Budaya)

Di perbatasan Desa Hanjuang, Kecamatan Bungbulang, dengan Desa Mekarsari, Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut bagian selatan, berdiri sebuah gunung yang menyimpan kisah panjang tentang pengasingan, perjuangan, dan laku spiritual: Gunung Susuru.

Gunung Susuru tergolong tinggi dan terjal. Sebagian orang mengenalnya sebagai Gunung Cisuru atau Gunung Haruman. Gunung ini bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang sunyi tempat sejarah bernaung dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Untuk mencapainya, peziarah atau peneliti harus menapaki jalan kecil berkelok, menanjak ratusan meter dengan kemiringan tanah mencapai 60–70 derajat. Semak belukar kerap menjadi penghalang, seolah alam sengaja menguji niat siapa pun yang ingin sampai ke puncaknya. Namun, di balik medan yang berat itu, tersimpan panorama menakjubkan: hamparan wilayah Bungbulang, Mekarmukti, kecamatan-kecamatan sekitarnya, hingga birunya laut pakidulan yang membentang luas.

Rasa penasaran itulah yang menggerakkan saya untuk mendatangi Gunung Susuru. Perjalanan ini bukan semata pendakian fisik, melainkan upaya membuka kembali lembaran sejarah yang lama terlipat. Dengan ditemani Kang Dadan, menantu kuncen setempat, saya akhirnya sampai ke puncak gunung dan bertemu langsung dengan penjaga petilasan, Abah Uloh Hasbuloh—seorang sesepuh yang telah melampaui usia 80 tahun dan setia menjaga amanat leluhur.

Menurut penuturan Abah Uloh Hasbuloh bin Abah Sarjah bin Abah Marjasih bin Eyang Alhipan (Tegal Laja), di Gunung Susuru terdapat petilasan Eyang Kuncung Putih. Tokoh ini, kata beliau, berasal dari tanah Jawa, dari lingkungan keraton Mangkunegaran dan Yogyakarta (Mataram). Dalam masa pelariannya, Eyang Kuncung Putih mengganti nama menjadi Eyang Syekh Leukah Putih. Tak jauh dari sana, di bawah petilasan utama yang ditandai oleh pohon teureup raksasa, terdapat pula petilasan Eyang Jayanegara, pengawal setia dalam perjalanan sang tokoh.

Siapakah Eyang Kuncung Putih sebenarnya?

Dalam khazanah sejarah Sunda, julukan Eyang Kuncung Putih memang kerap muncul. Namun merujuk pada cerita kuncen Gunung Susuru dan berbagai literatur sejarah Jawa, tokoh yang dimaksud di sini bukanlah bangsawan Sunda, melainkan Pangeran Djojokusumo, yang juga dikenal sebagai Pangeran Kudratullah atau Eyang Santri.

Pangeran Djojokusumo lahir pada tahun 1770. Ia adalah cucu Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I) dan putra Pangeran Prabuamidjojo, hasil pernikahan dengan Puteri Ayu Trikusumo dari Madura. Sejak muda, ia dikenal memiliki kecerdasan pikiran dan kekuatan batin yang luar biasa. Ia menimba ilmu agama dan kebatinan di berbagai tempat, termasuk Pasiriyan, Jawa Timur.

Sejarah mencatat, Pangeran Djojokusumo adalah guru dan rujukan spiritual bagi banyak tokoh besar: para raja Jawa, HOS Tjokroaminoto, Dr. Wahidin Sudirohusodo, hingga Bung Karno. Namun jalan hidupnya berubah ketika ia terlibat dalam dukungan strategis terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kolonialisme Belanda. Demi menghindari kehancuran yang lebih luas, dukungan itu dilakukan secara rahasia.

Ketika Perang Diponegoro meletus dan jaringan perlawanan terbongkar, Pangeran Djojokusumo menjadi target kecurigaan Belanda. Ia pun memilih jalan sunyi: meninggalkan keraton, menyamar sebagai rakyat biasa, dan mengasingkan diri. Dalam pelarian panjangnya menyusuri jalur selatan Jawa, sangat mungkin ia singgah dan menetap sementara di puncak Gunung Susuru, Bungbulang. Di sanalah, menurut cerita lisan yang dijaga turun-temurun, ia hidup sebagai Eyang Syekh Leukah Putih.

Perjalanan pengasingan itu berakhir di Cidahu, Sukabumi. Di sana, ia hidup sebagai petani dan guru mengaji, dikenal masyarakat sebagai Eyang Santri. Meski menjauh dari gemerlap kekuasaan, rumahnya justru menjadi tempat singgah para pejuang, pemikir, dan tokoh kebangsaan. Dari sanalah benih-benih kesadaran nasional, harga diri manusia, dan kekuatan batin ditanamkan.

Eyang Santri wafat pada tahun 1929 dalam usia yang diyakini mencapai 159 tahun. Ia menjadi saksi runtuhnya kejayaan lama dan tumbuhnya semangat kebangsaan Indonesia. Hingga kini, petilasan Eyang Kuncung Putih di Gunung Susuru tetap dirawat dengan penuh hormat oleh keluarga Abah Uloh, sebagaimana amanat leluhur mereka sejak masa Eyang Alhipan.

Kisah Gunung Susuru bukan sekadar cerita tentang seorang pangeran pelarian, melainkan tentang pilihan hidup: meninggalkan kekuasaan demi menjaga martabat, memilih sunyi demi masa depan bangsa. Petilasan Eyang Kuncung Putih di puncak Gunung Susuru menjadi pengingat bahwa sejarah besar kerap bersembunyi di tempat-tempat terpencil, dijaga oleh alam dan kesetiaan masyarakat adat.

Semoga kisah ini menambah khazanah kesejarahan lokal dan nasional, serta mengajak kita untuk lebih menghargai jejak-jejak sunyi para pendahulu bangsa.–(***)

Wallahualam.

*). Penulis; Pemerhati Kesejarahan dan Budaya, Ketua Yayasan Salatina Nasaba Raya, tinggal di Garut, Jabar

Pos terkait