Menelusuri Asal-usul Nama Kabupaten Garut: Antara Legenda Lokal dan Pendekatan Toponimi Flora

Menelusuri Asal-usul Nama Kabupaten Garut: Antara Legenda Lokal dan Pendekatan Toponimi Flora
Kang Oos Supyadin

Oleh: Kang Oos Supyadin, SE., MM.
(Pemerhati Kesejarahan dan Budaya)

Nama suatu daerah sering kali menyimpan jejak sejarah, kondisi lingkungan alam, serta budaya masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. Dalam kajian sejarah dan kebudayaan, penelusuran asal-usul nama tempat dikenal sebagai toponimi, yakni studi mengenai penamaan geografis yang dapat merefleksikan kondisi alam, bahasa, maupun peristiwa sosial pada masa lalu.

Salah satu contoh menarik adalah asal-usul nama Kabupaten Garut di Provinsi Jawa Barat. Dalam tradisi lisan masyarakat, terdapat kisah populer yang menyebutkan bahwa nama Garut berasal dari legenda tentang kata kakarut, yang muncul akibat kesalahpahaman komunikasi antara seorang pejabat Belanda dan masyarakat lokal. Legenda ini cukup dikenal dan kerap dikutip dalam berbagai tulisan populer mengenai sejarah daerah Garut.

Namun demikian, dalam pendekatan akademik, legenda semacam itu perlu ditinjau secara lebih kritis. Kajian toponimi membuka kemungkinan lain bahwa nama Garut tidak semata-mata berasal dari cerita rakyat, melainkan memiliki keterkaitan dengan nama tanaman lokal, yakni tanaman garut atau ararut, yang dalam beberapa daerah juga disebut patat. Secara ilmiah, tanaman ini dikenal dengan nama Maranta arundinacea.

Seorang ahli flora pernah mengemukakan pernyataan sekaligus pertanyaan: “Saya kurang mengetahui apakah ada hubungan antara nama tanaman garut dengan nama Kabupaten Garut di Jawa Barat. Yang jelas, tanaman dengan nama latin Maranta arundinacea ini di Jawa Barat memang disebut garut.”

Menariknya, tanaman umbi-umbian ini memiliki berbagai sebutan lokal di Nusantara yang relatif mirip, di antaranya: Sunda: Garut, Ararut, Patat Sagu. Di daerah Jawa Tengah tanaman ini disebut; Lerut, Garut, Klarut, Jlarut, Irut, Waerut.  Sementara di daerah Jawa Timur, disebut; Larut, Pirut, Kirut.  Di Madura, disebut  Arut, Larut, Salarut, dan di Bali disebut  Klarus, Marus.

Dalam bahasa Inggris, tanaman garut dikenal dengan nama arrowroot, West Indian arrowroot, atau St. Vincent arrowroot. Adapun nama ilmiahnya adalah Maranta arundinacea, yang juga memiliki sinonim Maranta sylvatica.

Asal-usul Tanaman Garut

Tanaman Garut, tumbuh subur di tatar sunda.–( Foto: istimewa)

Tanaman garut atau ararut (Maranta arundinacea) diduga berasal dari wilayah Amerika Tengah dan Amerika Selatan bagian utara, khususnya wilayah Ekuador bagian barat. Saat ini tanaman tersebut telah menyebar luas di berbagai kawasan tropis, termasuk Indonesia.

Di wilayah asalnya, tanaman ini telah dibudidayakan selama ribuan tahun. Tanaman hutan hujan ini memiliki rimpang yang dapat dimakan dan menjadi sumber pati penting bagi masyarakat lokal. Beberapa catatan menyebutkan bahwa tanaman ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat Amerika Selatan dan Karibia sejak sekitar 7.000 tahun lalu.

Dikutip dari Atlas Obscura, Maranta arundinacea mulai dibudidayakan secara luas di kawasan tropis Amerika pada abad ke-19. Hal tersebut dapat dilihat dari sejumlah buku masak Amerika pada masa itu yang mencantumkan resep puding susu dan blancmange yang menggunakan tepung garut sebagai bahan pengental.

Tepung garut memiliki fungsi yang mirip dengan tepung jagung (maizena), yakni memberikan kekentalan pada makanan berkuah maupun hidangan penutup. Sejak saat itu, popularitas tanaman ini sebagai sumber pati menyebabkan berbagai tanaman lain yang menghasilkan pati serupa juga kerap disebut dengan nama umum arrowroot.

Diduga tanaman garut masuk ke wilayah Indonesia pada masa kolonial, kemungkinan besar dibawa oleh bangsa Belanda dari wilayah Amerika Selatan. Sejak saat itu tanaman ini mulai dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat di berbagai daerah.

Di Indonesia, garut pernah menjadi salah satu sumber pangan alternatif, terutama pada masa-masa sulit. Umbinya dapat dikonsumsi setelah direbus atau diolah menjadi tepung untuk berbagai kebutuhan kuliner. Bahkan pada masa perang atau masa perjuangan, tanaman ini kerap dimanfaatkan sebagai sumber makanan darurat karena mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan.

Umbi garut juga dikenal memiliki daya simpan yang relatif baik serta dapat bertahan pada kondisi musim kering tanpa memerlukan perawatan intensif. Oleh sebab itu, pada masa lalu masyarakat sering memanen tanaman ini di sekitar sungai, ladang, atau kawasan hutan untuk dikonsumsi secara langsung.

Selain itu, garut juga dapat diolah menjadi tepung yang berfungsi sebagai bahan pengental dalam berbagai jenis masakan dan kue. Kandungan nutrisinya menjadikan tanaman ini sebagai bahan pangan yang potensial untuk memperkaya ragam kuliner, baik dalam bentuk makanan tradisional maupun inovasi kuliner modern.

Garut dalam Perspektif  Toponimi

Dalam kajian toponimi, penamaan suatu wilayah sering kali berkaitan dengan unsur alam yang dominan, seperti sungai, gunung, atau vegetasi yang tumbuh di wilayah tersebut. Dalam konteks budaya Sunda, penamaan daerah berdasarkan nama tanaman merupakan hal yang cukup lazim.

Oleh karena itu, apabila nama Garut dikaitkan dengan keberadaan tanaman garut (Maranta arundinacea), maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang aneh dalam tradisi penamaan wilayah. Dengan kata lain, sangat mungkin nama Garut yang kini menjadi nama kabupaten di Jawa Barat berasal dari nama tanaman yang pernah tumbuh atau dikenal luas di wilayah tersebut.

Pendekatan ini tentu tidak serta-merta meniadakan keberadaan legenda lokal tentang kata kakarut. Namun, dari sudut pandang kajian ilmiah, pendekatan toponimi berbasis flora memberikan alternatif penjelasan yang lebih rasional mengenai asal-usul nama Garut.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa nama Garut berpotensi merujuk pada jenis tanaman garut (Maranta arundinacea), yang dalam berbagai daerah juga dikenal dengan sebutan ararut atau patat. Hal ini sekaligus menunjukkan bagaimana hubungan antara lingkungan alam dan kebudayaan dapat tercermin dalam penamaan suatu wilayah.–(***)

Rahayu.

Pos terkait