Oleh : Edi Murpik
Di malam akhir pekan ini, saya berbincang santai dengan Hayat Syahida—salah seorang pegiat seni dan budaya, yang kini tengah membesarkan Padepokan Badai Sagara di Garut, Jawa Barat. Percakapan ringan itu, entah bagaimana, membawa kami pada kisah panjang tentang silat Cimande, tentang sosok pendirinya, dan tentang nilai hidup yang diwariskan.
Dari bincang ringan itu, ingatan saya terlempar jauh ke masa remaja di Desa Gununganten, Kabupaten Lebak, Banten. Pada dekade 1960–1980-an, hampir setiap desa di wilayah Banten memiliki paguron Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKDH).
Anak-anak seusia saya saat itu, setelah mengaji di musala atau di rumah kiai, biasanya langsung menuju tempat latihan silat. Latihan jurus-jurus bela diri dan olah kanuragan—biasanya dilakukan pada malam Jumat. Tepak gendang berirama lagu Buah Kaung atawa Ketuk Tilu yang diiringi suara terompet hingga larut malam membuat suasana perkampungan menjadi hidup. Kendati hanya diterangi lampu oncor dan obor dari tabung bambu — sesekali memakai lampu Petromak — pinjaman dari Pak Kades Gununganten, Haji Halimi (alm), suasana itu terasa begitu indah dan menyenangkan.
Saya masih ingat, Ketua TTKDH di Rangkasbitung pada 1960-an adalah Pak Saad (alm) dari Kampung Jeruk. Di pertigaan Jalan Kitarung, terpampang papan besar bertuliskan “Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKDH)”, sebuah paguron yang menjadi pusat belajar anak-anak di pedesaan di Rangkasbitung.
Di Gununganten, paguron atau padepokan dengan guru yang saya kenal antara lain Mang Sainan (alm), Mang Kamid (alm), Pak Juju (alm), Pak Guru Emuk (alm), Ki Bukari (alm), dan banyak lagi. Di Malingping, ada Mang Salim (alm) dan Mang Saiman, jawara di Lebak Kidul. Latihan silat di Malingping biasa dilakukan di halaman tangsi (kantor polisi) dekat alun-alun. Di Rangkasbitung, selain di Kebon Jeruk, latihan juga dilakukan di halaman kantor Polisi Militer (CPM) Jalan Patih Derus. Sementara di Cikeuyeup, nama yang masih bertahan hingga kini adalah Abah Mali—lebih dikenal sebagai Abah Huis.
Belajar ilmu bela diri dan tentang hidup.
Cara hidup masyarakat seiring perkembangan zaman dan kemajuan IPTEK memang terus berubah. Anak-anak remaja, bahkan orang tua, kini lebih asyik dengan gawai. Perangkat seluler di genggaman tangan tampak lebih mengasyikkan, dapat membawa siapa pun berkelana ke berbagai belahan dunia. Budaya leluhur Sunda pun nyaris terlupakan, tertutup hiruk-pikuk media sosial.
Menurut cerita turun-temurun, Abah Khaer hidup sekitar abad ke-17 hingga awal abad ke-19—masa yang tidak jauh dari Perang Diponegoro. Tubuhnya biasa saja, sebagaimana laki-laki Nusantara pada masanya. Ia dikenal sederhana: selalu memakai baju kampret hitam dan ikat kepala merah. Sifatnya halus, santun, penuh tutur.
Abah Khaer mudah akrab dengan siapa pun, hingga namanya dikenal di Betawi, pelosok Banten, Priangan Timur, Sumedang, dan Garut. Sejak muda ia berdagang—ada yang bilang pedagang biasa, ada pula yang menyebut pedagang kuda. Perjalanan dagangnya membuat ia bertemu banyak tokoh persilatan dari Betawi, Cina, Minangkabau, hingga Sulawesi.
“Asal-usul Abah Khaer, memiliki banyak versi. Ada yang meyakini ia berasal dari Priangan Timur. Ada yang percaya ia keturunan Baduy dari garis Abah Bugis—panglima Pajajaran yang terkenal sakti. Ada pula yang meyakini ia warga asli Tarikolot Cimande Hilir, murid dari pedagang sakti bernama Mbah Buyut. Namun dari sekian versi, satu hal tidak berubah: ia selalu digambarkan santun, berilmu, dan sarat kearifan,”kata Ki Hayat Syahida yang akrab disapa aa.
Dalam perjalanan dagangnya ke Betawi, Abah Khaer kerap menghadapi begal, rampok, bahkan binatang buas. Namun ia tidak pernah mengambil nyawa lawannya—hanya melumpuhkan dengan cara yang tidak mematikan.
Di masa ketika kekerasan dianggap lumrah dan nyawa manusia murah, tindakannya membuat ia semakin dihormati. Kemampuan bela diri berpadu kehalusan hati itulah yang kelak menjadi napas utama Pencak Silat Cimande.
Pibu Cianjur dan Pertarungan yang Jadi Legenda
Suatu ketika, Dalem Cianjur Aria Wiratanu Datar VI menggelar pibu, semacam pertandingan kanuragan untuk mencari pelatih bagi lingkungan kabupaten. Abah Khaer hadir sebagai undangan.
Pertarungan paling terkenal adalah final melawan pesilat Tionghoa, ahli ghinkang (meringankan tubuh) dan chikang (tenaga dalam). Pertarungan itu berlangsung sengit dan disaksikan masyarakat umum.
Pada satu momen, pesilat Tionghoa melompat sangat tinggi sambil melancarkan pukulan bertenaga dalam. Abah Khaer memapaki serangan itu di udara. Benturan keras terjadi. Pesilat Tionghoa terpental dan mengalami luka dalam parah.
Namun yang dikenang bukan hanya kemenangannya, melainkan tindakannya setelah itu. Abah Khaer merawat lawannya hingga sembuh. Sejak itu mereka bersahabat. Pertarungan itu menjadi simbol bahwa kanuragan tanpa welas asih adalah kehampaan.
Setelah pibu itu, Abah Khaer menetap di Cianjur dan melatih putra-putri kabupaten dari 1776 hingga 1813. Ketika Aria Wiratanu Datar wafat, ia mengikuti Aria Nata Negara—yang kemudian menjadi Bupati Bogor—dan Abah Khaer ikut pindah ke Bogor.
Di sana, Abah Khaer membeli tanah di Tarikolot dengan menggunakan uang real. Tanah itu kemudian dikenal sebagai Tanah Sareal, wilayah yang hingga kini kental dengan tradisi Cimande.
Konon, Abah Khaer memiliki lima anak laki-laki. Namun tidak ada riwayat eksplisit bahwa ilmu silat Cimande diturunkan kepada mereka.
Ketika usia Abah Khaer beranjak senja, ia menitipkan ilmunya kepada seorang santri saleh bernama Mbah Rangga Wulung. Istilah “dititipkan” memiliki makna mendalam: ilmu bukan warisan, melainkan amanah. Titipan itu mengandung tanggung jawab moral bahwa silat tidak boleh diajarkan kepada orang yang tidak berakhlak.
Karena titipan maka lahirlah aturan talek — tradisi pengesahan atau peneguhan batin bagi murid — serangkaian perintah dan larangan bagi calon murid Cimande yang bersumber dari syariat Islam. Talek menjadi pakem utama perguruan yang tetap setia pada Cimande Tarikolot Kebonjeruk Hilir—khususnya TTKDH—dan menyebar ke Bogor, Betawi, Banten, hingga Lampung.
Latihan Cimande dikenal sangat keras, melelahkan, dan membutuhkan kesabaran luar biasa. Tangan dipukuli batang tiwu (tebu) hingga remuk, lalu diurut dengan minyak Cimande. Latihan ini tidak sekadar melatih tubuh, tetapi membentuk karakter. Dalam Cimande ada empat unsur yang tidak terpisahkan: silat – urut – balur – kecer.
Warisan Abah Khaer tidak hanya melekat pada jurus-jurus seperti; Jurus Satu Cimande atau Kelid Pamacan, tetapi juga filosofi hidup yang menekankan keseimbangan antara ilmu lahir dan batin. Di tengah modernisasi, ajaran dan tradisinya tetap hidup.
Sebuah semboyan lama selalu diingatkan para guru: “Silat eta ngaruksak awak, makana kudu bisa ngabenerkeuna deui (Silat itu merusak tubuh, maka harus bisa memperbaikinya kembali.)
Setelah Abah Khaer wafat pada 1825, ilmu Cimande dikembangkan para muridnya. Salah satu yang paling tersohor adalah Abah Jumarta, pengelana yang membawa Cimande ke berbagai daerah. Di tangannya, Cimande berkembang sekaligus bercabang. Sebagian murid memegang teguh pakem, sebagian lain mengolah dan merenung hingga lahir aliran-aliran baru.
Di lingkungan Dalem Cikundul, misalnya, lahir aliran Cikalong dari Rd Ibrahim Jayaperbata—aliran lembut yang mengutamakan olah rasa. Demikian juga Panglipur, Maenpo Peupeuhan, dan banyak aliran lain yang tetap mengakui satu sumber: Cimande.
Menurut cerita Abah Huis, semasa hidupnya Abah Khaer pernah menetap di Desa Gununganten. Di desa yang juga pernah didiami Raden Jaya Sakti – panglima perang Kerajaan Sumedang Larang–ada sebuah nisan di hutan sekitar Bojong, kawasan Cikapek—yang kini tengah dibangun kawasan agrowisata—terdapat makam Abah Khaer. Sampai hari ini, makam itu masih banyak diziarahi masyarakat dari berbagai daerah.
Cimande bukan sekadar jurus. Ia adalah falsafah, etika, kedisiplinan, dan keikhlasan dalam gerak. Ia mengajarkan bahwa kekuatan harus dipagari welas asih(belas kasih), dan ilmu tidak boleh digunakan untuk menindas.
Abah Khaer sudah lama berpulang, tetapi nilai-nilainya terus hidup dalam setiap jurus Cimande yang dipelajari jutaan pesilat Indonesia hari ini. Selama pakem itu terus dijaga, selama para guru dan paguron tetap menyalakan ajaran leluhur, maka nama Abah Khaer akan tetap hidup—bukan hanya sebagai legenda, tetapi sebagai cahaya kecil yang menuntun dunia persilatan di Nusantara. —(***)
*).Penulis: Pegiat Seni Budaya dan Pengurus Paguyuban Pasundan di Banten








