Seniman, Panggung, dan Kejujuran Nurani: Laku Seni Sunda di Tengah Pergulatan Hidup

Seniman, Panggung, dan Kejujuran Nurani: Laku Seni Sunda di Tengah Pergulatan Hidup
Ua Muhi Saridam Sambas

Oleh: Ua Muhi Saridam Sambas

(Pelaku Seni Lengser )

Seniman Sejati, Panggung, dan Kejujuran Nurani: Laku Seni Sunda di Tengah Pergulatan Hidup

Di tengah kehidupan masyarakat, seniman menempati ruang yang unik sekaligus mulia. Ia hadir sebagai penghibur, penutur kegelisahan, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Di atas panggung, seniman menghadirkan tawa dan keindahan. Namun di balik gemerlap itu, sering kali tersimpan pergulatan batin, persoalan keluarga, dan  persolan lainya yang tidak ringan.

Meski demikian, laku seorang seniman sejati menuntut profesionalisme dan kejujuran nurani. Ia dituntut tetap utuh saat tampil, jujur dalam karya, dan bijak dalam sikap—bahkan ketika dirinya sedang rapuh sebagai manusia. Di sinilah seni bukan sekadar pekerjaan, melainkan pengabdian.

Seorang seniman sejati bukan hanya pencipta hiburan, tetapi juga penjaga nurani publik. Ia menjadi cermin yang memantulkan wajah zaman, menyuarakan kegelisahan sosial, sekaligus mengingatkan masyarakat akan nilai-nilai yang kerap terabaikan. Tugas ini tidak selalu mudah, sebab menyampaikan kebenaran sering kali berisiko disalahpahami. Karena itu, kebijaksanaan menjadi kunci.

Dalam khazanah budaya Sunda, kita mengenal figur legendaris Si Kabayan. Ia tampak lugu, santai, bahkan terkesan malas. Namun di balik keluguannya, Kabayan adalah tokoh yang cerdas dan penuh siasat. Melalui humor yang membumi, ia menyindir ketimpangan sosial, kemunafikan, dan keserakahan tanpa menyakiti. Yang disindir tidak marah, justru tertawa—dan sering kali tersadar. Inilah kritik sosial yang lahir dari kearifan lokal: ringan, halus, namun mengena.

Jejak laku Kabayan itu kemudian diteruskan oleh seniman Sunda modern seperti almarhum Kang Ibing. Dengan bahasa yang egaliter, gestur bersahaja, dan humor yang cerdas, Kang Ibing mampu menyentil perilaku masyarakat—bahkan kebijakan—tanpa kehilangan rasa hormat. Ia tidak memaki, tidak menggurui. Ia mengajak tertawa, lalu berpikir. Di tangannya, humor menjadi jalan dakwah kultural dan pendidikan karakter.

Tradisi ini sejatinya hidup di berbagai kesenian rakyat Nusantara: lenong Betawi, ludruk Jawa Timur, ketoprak, hingga wayang dengan punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Mereka adalah figur jenaka yang menyampaikan kebenaran lewat tawa. Kritik dibungkus guyonan, petuah diselipkan dalam candaan. Yang ditegur tidak tersinggung, justru diajak bercermin.

Dalam banyak pemikiran tentang seni, seniman dipahami sebagai manusia dengan kepekaan rasa yang tinggi. Leo Tolstoy dalam What Is Art? menegaskan bahwa seni adalah sarana komunikasi emosi yang tulus dari pencipta kepada masyarakat. Ketulusan itulah yang menuntut kejujuran—bukan hanya dalam karya, tetapi juga dalam etika kerja. Seniman boleh terluka sebagai manusia, tetapi ia tidak boleh menipu publik dengan karya yang asal-asalan atau sikap yang sembrono.

Tak jarang kita menyaksikan seniman tetap naik ke panggung meski sedang dilanda persoalan pribadi atau kesehatan. Bukan karena mereka kebal terhadap penderitaan, melainkan karena mereka memegang janji moral kepada penikmat karyanya. Panggung adalah ruang amanah.

Saya sendiri, sebagai pelaku seni Lengser di Banten Kidul, sangat merasakan getirnya perjalanan ini. Seni leluhur Sunda seperti Lengser kini semakin jarang tampil. Sekalipun ada panggung, jedanya sering kali panjang—kadang tiga bulan sekali. Itu pun dengan bayaran seikhlasnya. Persoalan hidup datang silih berganti. Namun apa pun keadaannya, sebagai seniman saya berusaha tetap tegar dan mengikuti arah zaman, tanpa meninggalkan jati diri seni tradisi.

Seniman sejati sering kali tetap berkarya meskipun sedang menghadapi luka batin atau keterbatasan fisik. Mereka menjaga kualitas dan kejujuran dalam berkarya, karena di situlah martabat seni dipertaruhkan.

Lebih dari sekadar menghibur, seniman juga kerap menyelipkan kritik sosial. Namun kritik yang disampaikan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan amarah dan penolakan. Sejarah mencatat figur Abunawas sebagai contoh satiris yang piawai. Ia menyindir kekuasaan dan perilaku manusia dengan kecerdasan dan humor, sehingga yang tersindir tertawa, tersipu, lalu merenung.

“Seniman itu menghibur. Kalaupun menyindir, jika ia pandai mengemasnya dalam seni, yang tersindir pun ikut tertawa.”

Kalimat ini menegaskan bahwa kecerdasan artistik adalah kunci. Sindiran yang cerdas tidak menghakimi, melainkan mengetuk kesadaran. Ia tidak memukul, tetapi mengajak berpikir. Dengan kemasan seni yang matang, kritik berubah menjadi ruang refleksi, bukan ajang saling mencaci.

Dalam konteks inilah, seniman dituntut mampu memisahkan persoalan pribadi dari panggung publik. Bukan berarti membohongi diri, melainkan menempatkan masalah pada ruang yang tepat. Panggung adalah ruang pengabdian, sementara persoalan pribadi adalah ruang kontemplasi—yang kelak mungkin dapat diolah menjadi karya, bukan diluapkan secara mentah.

Pada akhirnya, menjadi seniman adalah laku hidup. Ia menuntut kedewasaan, kejujuran, dan kebijaksanaan. Seniman yang besar bukanlah mereka yang paling lantang menyindir, melainkan yang paling piawai mengemas kebenaran dengan keindahan. Ketika publik tertawa sekaligus berpikir, ketika kritik diterima tanpa luka, di sanalah seni menjalankan fungsinya yang paling mulia: menghibur, menyadarkan, dan memanusiakan manusia. (***)

Pos terkait