Oleh: H. Edi Murpik
Di tengah zaman yang serba cepat, derasnya arus informasi, dan riuhnya perdebatan publik, manusia kerap terjebak dalam reaksi tanpa refleksi. Banyak orang berbicara, tetapi sedikit yang merenung. Banyak yang mengikuti arus, namun sedikit yang menimbang dengan akal sehat. Padahal, Islam sejak awal telah meletakkan fondasi peradaban di atas instrumen paling agung yang dianugerahkan Allah kepada manusia: akal.
Al-Qur’an berulang kali memanggil manusia dengan pertanyaan retoris, “Afala ta’qilun?” (Tidakkah kalian berpikir?). Seruan ini bukan sekadar ajakan intelektual, melainkan panggilan keimanan. Berpikir dalam Islam adalah bagian dari ibadah.
Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 100, Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad), tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang mempunyai akal (ulil albab), agar kamu beruntung.”
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kebenaran bukanlah kuantitas atau popularitas, melainkan kualitas dan nilai hakiki. Dalam kehidupan sosial dan politik, sering kali yang banyak dianggap benar. Namun, Al-Qur’an justru mengingatkan bahwa yang banyak belum tentu baik. Yang mampu membedakan itu semua hanyalah ulil albab—mereka yang menggunakan akalnya secara jernih dan hatinya secara bersih.
Perintah agar manusia menggunakan akalnya juga ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 190–191. Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab.”
Ayat berikutnya menjelaskan siapa yang dimaksud dengan ulil albab: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia. Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.’”
Di sini tampak jelas bahwa ulil albab bukan sekadar orang yang cerdas secara intelektual. Mereka adalah pribadi yang menggabungkan dzikir dan pikir. Mereka merenungkan ciptaan Allah, membaca tanda-tanda alam, lalu kesimpulannya membawa mereka pada pengakuan tauhid dan ketundukan.
Inilah pola pikir Qur’ani: berpikir yang menumbuhkan iman, bukan kesombongan.
Akal Sebagai Fondasi Tanggung Jawab
Dalam ajaran Islam, akal adalah syarat seseorang dibebani hukum (taklif). Rasulullah ﷺ bersabda: “Pena diangkat dari tiga golongan: dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia baligh, dan dari orang yang tidak berakal sampai ia sadar.”
Hadis ini menunjukkan bahwa akal merupakan dasar tanggung jawab. Tanpa akal, tidak ada kewajiban hukum. Artinya, ketika seseorang diberi akal sehat, sesungguhnya ia sedang diberi amanah besar.
Terdapat pula riwayat yang menyebutkan, “Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.” Para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan sanad riwayat ini. Sebagian menilainya lemah, tetapi maknanya sejalan dengan prinsip bahwa agama menuntut kesadaran dan tanggung jawab akal.
Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, akal adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati manusia untuk membedakan kebenaran dan kesesatan. Jika cahaya itu dipadamkan oleh hawa nafsu, fanatisme, dan kepentingan sesaat, manusia akan kehilangan arah moralnya.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, Allah menyatakan bahwa manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi. Amanah ini tidak diberikan kepada malaikat, melainkan kepada manusia yang dibekali akal.
Sebagai khalifah, manusia memikul tanggung jawab besar: mengelola bumi dengan bijaksana, menegakkan keadilan, dan menjalankan perintah serta menjauhi larangan Allah.
Semua itu tidak mungkin dijalankan tanpa proses berpikir yang matang. Tanpa akal, manusia hanya mengikuti hawa nafsu atau arus mayoritas. Tanpa nalar, manusia mudah dimanipulasi, diadu domba, bahkan dijauhkan dari jati dirinya.
Akal menjadikan manusia mampu menimbang akibat sebelum bertindak, memeriksa kebenaran sebelum mempercayai, dan merenung sebelum memutuskan. Inilah fondasi kepemimpinan yang beradab.
Mengenal Diri, Mengenal Rabb
Berpikir yang mendalam akan membawa manusia pada kesadaran eksistensial: siapa dirinya dan siapa Rabb-nya. Ketika seseorang merenungkan penciptaan langit dan bumi, keteraturan alam, serta keterbatasan dirinya, ia akan sampai pada kesimpulan bahwa semua ini tidak diciptakan sia-sia.
Kesadaran itu melahirkan kerendahan hati. Manusia menyadari bahwa ia bukan pusat semesta, melainkan hamba. Ia memiliki hak, tetapi juga kewajiban. Ia memiliki kebebasan, tetapi juga pertanggungjawaban.
Berpikir membuat manusia memahami bahwa: hak sebagai hamba adalah mendapatkan rahmat dan petunjuk, kewajiban sebagai hamba adalah taat dan beribadah, hak sebagai anggota masyarakat adalah memperoleh keadilan dan perlindungan, dan kewajiban sosial adalah menjaga harmoni dan menebar kemaslahatan.
Tanpa berpikir, manusia mudah menuntut hak tetapi lupa kewajiban. Tanpa akal yang jernih, agama bisa dipahami secara sempit, bahkan digunakan untuk membenarkan kepentingan pribadi.
Ironisnya, di era digital saat ini, manusia justru sering meninggalkan proses berpikir mendalam. Informasi dikonsumsi tanpa verifikasi. Opini dibangun tanpa literasi. Emosi lebih dominan daripada refleksi.
Padahal, dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah Swt. secara tegas memerintahkan orang-orang beriman untuk meneliti dan memverifikasi setiap berita yang datang, terutama jika bersumber dari pihak yang belum jelas kredibilitasnya, agar tidak terjadi kesalahan yang berujung pada penyesalan. Prinsip tabayyun (klarifikasi dan verifikasi) ini sangat relevan dalam kehidupan modern yang dipenuhi arus informasi cepat, media sosial, dan potensi disinformasi.
Berpikir bukan berarti meragukan wahyu, melainkan memastikan bahwa kita memahaminya dengan benar. Berpikir bukan berarti melawan agama, tetapi justru cara memuliakan agama.
Semoga kita termasuk golongan yang tidak hanya mendengar ayat, tetapi juga merenungkannya. Karena dalam Islam, berpikir bukan sekadar aktivitas otak—melainkan jalan menuju cahaya dan keselamatan.–(***)
*). Penulis adalah Pengurus Paguyuban Pasundan di Provinsi Banten








