Spirit Kepemimpinan Putri Karlina: Mengakui Kegagalan, Refleksi Integritas Wakil Bupati Garut

Spirit Kepemimpinan Putri Karlina: Mengakui Kegagalan, Refleksi Integritas Wakil Bupati Garut
Kang Oos Supyadin
Oleh: Kang Oos Supyadin, SE., M.M.

Media massa lokal di Garut, Jawa Barat dan medsos saat ini menyoroti dan ramai memberitakan ungkapan Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, yang secara terbuka mengakui bahwa dirinya belum mampu menghadirkan perubahan signifikan selama satu tahun pertama masa kepemimpinannya. Pernyataan itu disampaikan di hadapan jajaran birokrasi dan ASN Pemerintah Kabupaten Garut pada Senin (23/2/2026).

“Saya sudah bisa mengevaluasi diri saya sendiri bahwa saya gagal dalam satu tahun ini. Saya pribadi gagal, tidak ada perubahan yang signifikan. Saya mengakui, saya memohon maaf,” ungkap Putri Karlina, Wakil Bupati Garut periode 2025–2030.

Pengakuan kegagalan dari seorang unsur pimpinan kepala daerah, apalagi disampaikan secara terbuka di hadapan para bawahannya, dapat disebut sebagai fenomena langka dalam lanskap kepemimpinan publik saat ini. Di tengah budaya birokrasi yang kerap defensif dan cenderung menjaga citra, pernyataan seperti ini tentu mengundang perhatian sekaligus rasa penasaran: apa makna spirit di balik ungkapan tersebut?

Penting untuk dipahami bahwa semangat seorang pemimpin yang berani mengakui kegagalannya bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, hal itu merupakan refleksi dari kekuatan karakter, integritas, dan kedewasaan. Pengakuan semacam ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin lebih mengutamakan kejujuran dan perbaikan daripada sekadar mempertahankan ego atau citra politik.

Setidaknya terdapat beberapa spirit penting yang terkandung dalam sikap kepemimpinan yang berani mengakui kegagalan.

Pertama, integritas dan kejujuran (authenticity).
Pemimpin yang mengakui kegagalan adalah sosok yang autentik. Ia berani jujur kepada diri sendiri, kepada tim, dan kepada publik. Ia memilih kebenaran daripada kepura-puraan, serta tidak membangun narasi semu demi terlihat sempurna.

Kedua, kerendahan hati (humility).
Mengakui kesalahan membutuhkan kerendahan hati yang tinggi. Ini menunjukkan kesadaran bahwa seorang pemimpin tetaplah manusia yang memiliki keterbatasan. Kerendahan hati inilah yang menjadi fondasi kepemimpinan yang membumi dan tidak berjarak dengan rakyatnya.

Ketiga, tanggung jawab dan akuntabilitas (accountability).
Pemimpin sejati tidak melemparkan kesalahan kepada bawahan, sistem, atau keadaan. Ia mengambil tanggung jawab atas capaian maupun kegagalan. Sikap ini penting untuk membangun kepercayaan publik, karena akuntabilitas adalah roh dari tata kelola pemerintahan yang baik.

Keempat, berorientasi pada pembelajaran (growth mindset).
Dalam perspektif ini, kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju perbaikan. Spirit ini mengubah kegagalan menjadi bahan evaluasi dan pijakan untuk langkah yang lebih terarah di masa depan.

Kelima, keberanian (courage).
Tidak mudah berdiri di hadapan publik dan mengakui kegagalan. Dibutuhkan keberanian moral yang besar. Keberanian ini menunjukkan mentalitas pantang menyerah dan kesediaan untuk bangkit memperbaiki diri.

Keenam, membangun keamanan psikologis (psychological safety).
Ketika seorang pemimpin berani mengakui kesalahan, ia sedang membangun budaya organisasi yang terbuka. Bawahan akan merasa lebih aman untuk menyampaikan kritik, gagasan, bahkan mengakui kekurangan, tanpa takut disalahkan. Dari sinilah inovasi dan perbaikan berkelanjutan dapat tumbuh.

Dalam persepsi publik, apa yang dilakukan oleh Putri Karlina tentu memiliki nilai positif. Pengakuan kegagalan yang tulus berpotensi meningkatkan respek dari bawahan maupun masyarakat. Ia dapat memperkuat loyalitas dan menumbuhkan budaya kerja yang lebih transparan.

Tentu saja, pengakuan saja tidak cukup. Masyarakat menanti langkah konkret, perbaikan kebijakan, percepatan program prioritas, serta terobosan yang berdampak nyata. Namun, sebagai langkah awal, keberanian untuk bercermin dan mengakui kekurangan patut diapresiasi sebagai fondasi etika kepemimpinan.

Semoga Kabupaten Garut benar-benar memiliki pemimpin yang berkarakter, berintegritas, jujur, amanah, dan bertanggung jawab dalam mengemban tugasnya. Sehingga “Garut Hebat” bukan sekadar slogan tertulis, melainkan menjadi obsesi bersama yang diwujudkan melalui kerja nyata dan keberpihakan pada kepentingan rakyat.–(***)

Rahayu.

*). Penulis adalah  Pemerhati Kebijakan Publik, tinggal di Kota Garut, Jawa Barat

Pos terkait