Lebak, Bantengate.id– Ribuan tusuk sate ayam mengepulkan aroma khas sejak pagi di halaman Pondok Pesantren Daarul Falah 1, Kampung Tapos, Desa Kerta, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Kamis (25/6/2026). Di balik sekitar 4.500 tusuk sate yang dibakar bergotong royong itu, tersimpan cerita tentang kepedulian, kebersamaan, dan senyum 109 anak yatim yang kembali merasakan hangatnya kasih sayang pada momentum 10 Muharam 1448 Hijriah.
Hari Asyura yang dikenal sebagai waktu istimewa untuk memperbanyak amal kepada anak yatim menjadi lebih bermakna melalui kegiatan yang digelar Sahabat Kokobok Tapos. Lantunan ayat suci Al-Qur’an membuka rangkaian acara, disusul doa bersama yang dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan. Suasana sederhana di lingkungan pesantren itu berubah menjadi ruang kebahagiaan yang mempertemukan masyarakat dalam satu tujuan, yakni berbagi.
Bagi sebagian orang, santunan mungkin hanya dipandang sebagai penyerahan bantuan. Namun bagi Sahabat Kokobok Tapos, kegiatan ini adalah ikhtiar menjaga nilai kemanusiaan agar tetap hidup di tengah masyarakat. Selama lima tahun terakhir, tradisi berbagi kepada anak yatim terus dilaksanakan secara konsisten dua kali dalam setahun, yakni pada Ramadan dan Muharam.

Di balik terselenggaranya kegiatan tersebut, ada kerja bersama yang tidak selalu terlihat. Para anggota Sahabat Kokobok, tokoh masyarakat, para donatur, hingga warga sekitar saling membantu menyiapkan segala kebutuhan acara. Ada yang mengumpulkan donasi, menata lokasi, menyiapkan paket sembako, hingga memanggang ribuan tusuk sate sejak pagi agar seluruh tamu dapat menikmati makan bersama.
Pelaksana kegiatan, Abah H. Jahid Bustomi yang juga merupakan Kasepuhan Kampung Tapos, mengungkapkan rasa syukurnya karena kegiatan santunan tahun ini kembali berjalan lancar.
“Kami bersama teman-teman Sahabat Kokobok Alhamdulillah sudah melaksanakan kegiatan silaturahmi sekaligus santunan kepada anak yatim dan piatu. Jumlahnya cukup banyak, yaitu 109 orang, dan semuanya sudah disalurkan kepada anak-anak yang telah terdata,” ujarnya.
Menurut Abah Jahid, kepedulian kepada anak yatim tidak cukup diwujudkan melalui bantuan materi semata. Kehadiran masyarakat yang berkumpul, makan bersama, dan berbagi kebahagiaan menjadi bentuk kasih sayang yang sama pentingnya agar anak-anak tetap merasakan bahwa mereka tidak sendiri.
Karena itu, setelah prosesi santunan selesai, seluruh peserta diajak menikmati makan bersama. Ribuan tusuk sate ayam yang telah dipersiapkan menjadi simbol kebersamaan tanpa sekat. Anak-anak, warga, relawan, hingga para tamu duduk berdampingan menikmati hidangan yang disiapkan dengan semangat gotong royong.
“Alhamdulillah kami mengadakan gebyar makan bersama dengan menyediakan sekitar 4.500 tusuk sate ayam. Selain itu kami juga menyerahkan paket sembako berupa beras, mi instan, minyak goreng, serta kebutuhan pokok lainnya. Alhamdulillah seluruh rangkaian acara berjalan lancar,” tutur Abah Jahid.
Tak hanya menikmati hidangan, seluruh anak yatim juga menerima santunan dan paket sembako yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Bantuan itu memang tidak selalu mampu menyelesaikan seluruh persoalan hidup, tetapi setidaknya menjadi penguat bahwa masih banyak tangan yang peduli.
Di antara ratusan penerima manfaat, Isah, warga Kampung Kadulalai, datang mewakili dua keponakannya. Wajah harunya sulit disembunyikan ketika menerima bantuan.

“Saya mewakili dua keponakan saya mengucapkan terima kasih kepada Sahabat Kokobok atas bantuan sedekahnya. Ini sangat bermanfaat bagi kami,” ucapnya lirih.
Kalimat sederhana itu seolah menjadi jawaban atas seluruh kerja keras para relawan yang sejak jauh hari mempersiapkan kegiatan. Di balik setiap tusuk sate yang dibakar, setiap paket sembako yang dikemas, dan setiap santunan yang diserahkan, tersimpan harapan agar anak-anak yatim tetap tumbuh dengan keyakinan bahwa masih banyak orang yang mencintai dan memperhatikan mereka.
Semangat itu pula yang terus dijaga oleh Sahabat Kokobok melalui moto mereka, “Mendidik Diri dari Hal Kecil” dan “Bersama Kita In Sya Allah Berkah.” Sebuah kalimat sederhana yang mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil, seperti menyisihkan sebagian rezeki, meluangkan waktu membantu sesama, dan menjaga tradisi berbagi agar tidak pernah padam.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, apa yang dilakukan Sahabat Kokobok Tapos menjadi pengingat bahwa budaya gotong royong masih tumbuh kuat di pelosok Banten. Tradisi yang telah bertahan selama lima tahun itu bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang untuk mempererat persaudaraan sekaligus menanamkan nilai kepedulian kepada generasi berikutnya.
Bagi 109 anak yatim yang hadir hari itu, santunan mungkin akan habis digunakan dalam beberapa waktu. Namun perhatian, doa, kebersamaan, dan senyum yang mereka bawa pulang akan menjadi kenangan yang jauh lebih lama tersimpan di hati.
Dan selama masih ada orang-orang yang percaya bahwa kebaikan harus diwariskan dari satu tangan ke tangan lainnya, nyala kepedulian seperti yang dijaga Sahabat Kokobok Tapos akan terus menerangi kehidupan banyak orang.—(ridwan)








