Saat Air Bendungan Karian Surut, Kampung Somang dan Masjid yang “Hilang” Itu Kembali Menyapa

Saat Air Bendungan Karian Surut, Kampung Somang dan Masjid yang "Hilang" Itu Kembali Menyapa
Masjid Kampung Somang, setelah dua tahun "tengegelam" kini muncul seiring dengan air Bendung Karian, surut.--(foto: hendrik/BG)

Lebak, BantenGate.id– Air Bendungan Karian di Desa Sindangmulya, Kabupaten Lebak, Banten, kembali surut seiring dengan musim kemarau. Perlahan, dari dasar waduk yang selama dua tahun terakhir menenggelamkan perkampungan penduduk, dalam beberapa pekan ini kembali muncul bangunan rumah, masjid dan area tegalan,  membangunkan ingatan akan  jejak-jejak kehidupan yang pernah ada.

Bekas rumah, jalan kampung dan bangunan masjid di Kampung Somang, Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, terlihat Kembali.  Pada sore hari Kamis (30/7/2026), wartawan BantenGate.id menyambangi perkampungan ini. Nampak masyarakat yang pernah tinggal di kampung tersebut dan warga luar, berdatangan, menyaksikan kemunculan bangunan bekas rumah penduduk.

Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin hanya sisa bangunan yang ditinggalkan. Namun bagi warga Kampung Somang,  itulah tempat mereka dilahirkan, dibesarkan, dan menyimpan ribuan kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.

Di tepian kali Ciberang, bekas jembatan gantung Somang, Husen (42) berdiri cukup lama. Pandangannya tak lepas dari hamparan tanah yang kembali terlihat setelah permukaan air menyusut akibat musim kemarau. Tangannya menunjuk ke arah bekas dinding bangunan  rumah yang mulai tampak.

“Itu bekas bangunan rumah saya, sambil menunjuk ke deretan tembok  bangunan rumah yang muncul di Kampung Somang,”ucapnya lirih.

Kemudian, Husen menunjuk lagi,  itu tidak jauh dari bekas bangunan rumah saya, masjid Kampung Somang dipinggir kali Ciberang yang masih kokoh berdiri. Dari masjid itu menjelang tiba sholat, terdengar suara lantunan adzan, memanggil warga untuk segera bersimpuh menghadap sang pencipta, Allah SWT.  Di dalam masjid,  anak-anak dan remaja menjelang waktu Sholat Magrib, ramai melantunkan salawat Nabi Muhammad SAW. Apalagi pada bulan Ramadan, masjid itu ramai dengan  tadarus dan kegiatan keagamaan lainya.

Tembok bangunan bekas rumah penduduk di Kampung Somang yang sempat “tenggelam” kini muncul kembali seiring dengan debit air Bendung Karian surut.–(foto: hendrik/BG)

Bagi Husen, musim kemarau yang datang kali ini dan air Bendungan Karian surut, kerinduan terhadap kampung halamannya kembali menguat. Seolah waktu diputar mundur, memperlihatkan kembali tempat yang pernah menjadi pusat kehidupannya. Di sana ia bersama anak dan isterinhya serta tetangga pernah hidup dalam sebuah drama  orchestra kehidupan.

Ia masih mengingat bagaimana Kampung Somang dahulu dipenuhi suara anak-anak bermain dengan riang.  Warga yang saling menyapa, serta aktivitas masyarakat yang menggeliat sejak pagi hingga malam.

Semua itu tinggal kenangan.

“Sedih melihat kampung sendiri. Dulu ramai, sekarang sepi. Dulu perekonomian juga jalan, sekarang sudah berubah. Kenangannya banyak sekali. Dulu semua warga berkumpul di satu kampung, sekarang sudah terpencar ke mana-mana,” kata Husen.

Sebelum pembangunan Bendungan Karian, Kampung Somang dihuni lebih dari seribu jiwa. Somang salah satu perkampungan terbesar dan padat di wilayah Kecamatan Sajira. Warga menggantungkan hidup dari bertani, berkebun, dan berbagai aktivitas ekonomi yang tumbuh di sepanjang aliran Sungai Ciberang.

Ketika proyek bendungan dimulai, mereka harus merelakan rumah dan tanah kelahiran yang kemudian berubah menjadi kawasan genangan. Sebagian direlokasi ke Kampung Cipager, Kampung Kopi, Rangkasbitung, kawasan sekitar Pasir Tanjung, dan sejumlah wilayah lain di Kabupaten Lebak.

Meski telah memiliki tempat tinggal baru, ikatan batin dengan kampung lama rupanya tidak pernah benar-benar putus.

Perjalanan menuju bekas Kampung Somang pun tidak mudah. Pengunjung harus menggunakan rakit untuk menyeberangi sebagian area bendungan. Karena akses yang terbatas, banyak orang akhirnya memilih menikmati pemandangan dari seberang.

“Banyak yang datang, tetapi kebanyakan hanya melihat dari seberang karena menyeberangnya sulit kalau tidak pakai rakit,” ungkapnya.

Fenomena menyusutnya air Bendungan Karian memang menjadi salah satu dampak musim kemarau yang tengah melanda Kabupaten Lebak, Banten, dan daerah lainya. Namun di balik perubahan bentang alam itu, tersimpan kisah tentang sebuah kampung yang pernah hidup dengan segala dinamika warganya.

Dari Kampung Menjadi Waduk Strategis

Bendungan Karian merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dibangun di atas aliran Sungai Ciberang. Pintu bandungan berada di Desa SIndangmulya, Kecamatan Maja. Bendungan ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 8 Januari 2024 setelah melalui proses pembangunan selama beberapa tahun.

Untuk mewujudkan bendungan berkapasitas sekitar 314 juta meter kubik tersebut, sejumlah kawasan permukiman harus direlokasi. Ada 11 desa di tiga kecamatan; Sajira, Cimarga, Maja, dan Curugbitung, terdampak pembangunan dan kawasan genangan waduk. Ribuan warga meninggalkan rumah, lahan pertanian, serta kampung yang telah mereka tempati selama puluhan tahun.

Di balik pengorbanan itu, Bendungan Karian kini menjadi infrastruktur vital bagi Banten dan Jakarta. Waduk ini mampu menyuplai air baku sekitar 14,6 meter kubik per detik untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah Tangerang, Jakarta dan kawasan industri. Bendungan Karian mengairi sekitar 22 ribu hektare lahan pertanian, sekaligus berfungsi sebagai pengendali banjir di wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciberang dan Cisadane.

Sejak diresmikan dua tahun lalu, keberadaan Bendung Karian,  juga mulai dimanfaatkan sebagai kawasan wisata air. Di seputar bendungan banyak tumbuh warung UMKM yang menjajakan makanan bagi warga yang berwisata maupun kegiatan mincing ikan.

Namun, bagi Husen dan ratusan mantan warga lainnya, Bendungan Karian bukan hanya tentang fungsi strategis dan manfaat pembangunan. Setiap kali air waduk surut, bendungan itu seolah membuka kembali lembaran sejarah yang selama ini tersembunyi di dasar genangan.

Ketika puing-puing rumah kembali muncul ke permukaan, yang bangkit bukan hanya sisa-sisa bangunan. Yang ikut muncul adalah cerita tentang kebersamaan, tawa anak-anak di jalan kampung, suara azan dari masjid yang kini tinggal reruntuhan, hingga kenangan ribuan warga yang pernah menyebut Kampung Somang sebagai rumah.

Bendungan Karian mungkin telah mengubah wajah wilayah ini menjadi salah satu infrastruktur penting di Indonesia. Namun di hati para mantan warganya, Kampung Somang tak pernah benar-benar tenggelam. Ia hanya menunggu musim kemarau datang, agar sesaat bisa kembali menyapa mereka yang masih menyebutnya sebagai kampung halaman.—( hendrik)

Pos terkait