Abu Vulkanik Anak Krakatau Terasa di Lebak, Warga Mulai Pakai Masker

Abu Vulkanik Anak Krakatau Terasa di Lebak, Warga Mulai Pakai Masker
Warga Citeras Rangkasbitung, menggunakan masker untuk keselamatan sebagai dampak erupsi vulkanik Anak Gunung Krakatau.--( Foto: Ridwan)

Lebak, BantenGate.id — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda membuat warga di sejumlah wilayah Kabupaten Lebak meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik.

Di Desa Citeras, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, sejumlah warga mulai mengenakan masker sebagai langkah perlindungan terhadap saluran pernapasan dan mata dari paparan abu vulkanik.

Salah seorang warga, Nihla (13), mengatakan penggunaan masker dilakukan sebagai langkah antisipasi menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan abu vulkanik terbawa angin ke sejumlah wilayah Banten.

“Karena Gunung Anak Krakatau sedang erupsi, kita menggunakan masker agar abu vulkanik tidak terhirup dan mengganggu pernapasan. Selain mengganggu pernapasan, abu juga bisa membuat mata terasa pedih,” ujar Nihla saat ditemui di Desa Citeras, Minggu (6/9/2026).

Kewaspadaan serupa dilakukan Raden Roro Mami Nur Indah Setiawati (71), warga Kampung Tanahara, Lebak. Ia mengaku telah menggunakan masker sejak masih berada di Jakarta saat hendak melakukan perjalanan pulang ke Lebak.

“Saya pakai masker. Abu vulkaniknya sampai ke tempat saya. Anak saya juga bilang karena abunya banyak, orang-orang sebaiknya menggunakan masker semuanya,” katanya.

Raden Roro Mami mengatakan masker tetap digunakannya selama perjalanan dari Jakarta menuju Kampung Tanahara. Ia juga menggunakan masker bersama anggota keluarganya.

“Saya dari Jakarta, mau pulang. Dari Jakarta sudah pakai masker. Tadi saya juga sama kakak saya menggunakan masker,” ujarnya.

Erupsi Anak Gunung Krakatau.–(Foto:ist)

Abu Vulkanik Menyebar ke Sejumlah Wilayah

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memang terpantau mencapai sejumlah wilayah. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut abu vulkanik terpantau menyebar ke atmosfer menuju Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu.

Sementara itu, BMKG pada Minggu (6/9/2026) menyatakan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dilakukan secara intensif selama 24 jam. Berdasarkan analisis citra satelit, terdapat sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga wilayah lainnya.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, tetap tenang, menyaring informasi yang beredar, serta mengacu pada informasi resmi dari BMKG, Badan Geologi/PVMBG dan pemerintah daerah.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri masih berstatus Level III atau Siaga. Badan Geologi mencatat rangkaian erupsi terus berlangsung dan menghasilkan lontaran material vulkanik serta abu.

Warga diminta Waspada dan Pakai Masker

Gubernur Banten Andra Soni sebelumnya telah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengarah ke wilayah Banten dan Jawa Barat.

Andra mengatakan Pemprov Banten melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus berkoordinasi dengan pos pengamatan gunung api dan pihak terkait untuk memantau perkembangan aktivitas serta sebaran abu vulkanik.

Dalam pemantauan langsung di Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau (PGA GAK), Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Minggu (6/9/2026), Andra menegaskan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama.

Ia meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dan mendapatkan informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau hanya dari lembaga resmi.

“Keselamatan masyarakat adalah hal yang paling utama. Itu yang harus kita kerjakan,” tegas Andra.

Untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik, Pemprov Banten juga menyiapkan dukungan perlindungan bagi masyarakat, termasuk distribusi masker melalui Dinas Kesehatan Provinsi Banten.

“Sekarang lima ribu box masker kita distribusikan melalui dinas kesehatan ke wilayah prioritas,” ungkap Andra.

Andra kembali mengingatkan masyarakat Banten agar tetap tenang, waspada, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Penggunaan masker oleh warga di Desa Citeras dan Kampung Tanahara menjadi bentuk kewaspadaan masyarakat terhadap kemungkinan paparan abu vulkanik.

Paparan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi pada mata. Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak disarankan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan serta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi sebaran abu meningkat.

Selain itu, masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi dari pemerintah dan lembaga berwenang karena arah sebaran abu sangat bergantung pada kondisi angin dan dapat berubah.

Kepala PVMBG Rita Susilawati menjelaskan arah sebaran abu dapat berubah dari waktu ke waktu mengikuti arah angin. Masyarakat, nelayan, dan wisatawan juga diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas.

Dengan kondisi tersebut, warga Lebak diharapkan tetap tenang namun tidak mengabaikan potensi dampak abu vulkanik. Penggunaan masker, perlindungan mata, serta mengikuti informasi resmi menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.—(Ridwan)

Pos terkait