Oleh: Edi Murpik
(Pengurus Paguyuban Pasundan di Banten)
Timbanganten di Garut dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam perjalanan sejarah Tatar Sunda. Dari kawasan ini, berbagai tokoh, keluarga, ulama, dan jaringan keagamaan berkembang serta menyebar ke berbagai daerah.
Namun, ada jejak lain yang menarik untuk ditelusuri. Nama Timbanganten ternyata juga dikenal di Provinsi Banten, tepatnya dalam riwayat lokal yang berkaitan dengan Desa Gununganten, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak.
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat setempat, wilayah tersebut dahulu dikenal dengan nama Timbanganten. Nama itu dikaitkan dengan salah seorang pejabat Kerajaan Sumedang Larang yang dikenal sebagai Pangeran Dalem Buku.
Pangeran Dalem Buku dimakamkan di sebuah bukit di Sabrang Barat, Kampung Cikeuyeup. Makamnya hingga kini kerap dikunjungi peziarah, terutama dari Sumedang dan Garut. Wilayah Cikeuyeup, pada tempo dulu merupakan salah satu onderdistrik (Staatsblad No. 381 Tahun 1925)
Abah Hambali (81), warga Cikeuyeup yang akrab disapa Abah Huis, mengatakan bahwa nama asli Pangeran Dalem Buku maupun jabatan yang disandangnya pada masa itu tidak diketahui secara pasti.
“Sejak dahulu, bahkan kakek saya, Taba, yang pernah menjabat sebagai jaro atau kepala desa Gununganten, tidak pernah menyebutkan nama asli Pangeran Dalem Buku. Buyut saya hanya mengatakan bahwa beliau merupakan pejabat dari Kerajaan Sumedang yang terpukul mundur bersama pasukan Raden Adipati Ukur Sumadikara ketika menggempur VOC di Batavia,” tutur Abah Hambali.
Tokoh masyarakat sekaligus jawara Cilangkahan, almarhum H. Bisrun, semasa hidupnya juga pernah menyampaikan bahwa Pangeran Dalem Buku merupakan sahabat seperjuangan Raden Adipati Ukur Sumadikara dalam perlawanan terhadap VOC.
Bisrun disebut sebagai salah seorang cicit Adipati Ukur Sumadikara, tokoh yang lebih dikenal dengan sebutan Uyut Ukur, yang dimakamkan di Gunung Tilu, Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang.
Dalam perkembangannya, nama Timbanganten diyakini mengalami perubahan pelafalan hingga kemudian dikenal sebagai Gununganten. Namun, perubahan nama tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui sumber tertulis maupun tradisi lisan yang dapat diverifikasi.

Selain kisah Pangeran Dalem Buku, riwayat lokal juga menghubungkan asal-usul nama Kampung Timbanganten di Lebak dengan seorang tokoh dari Tatar Sunda, Raden Jayasakti, yang disebut sebagai salah seorang patih Kerajaan Sumedang Larang.
Sebuah catatan sejarah lokal mengenai Gununganten menyebut Raden Jayasakti dan Raden Jayaperkasa sebagai dua panglima perang Kerajaan Sumedang Larang yang diperintahkan untuk menggempur pasukan Kesultanan Banten.
Dalam kisah tersebut, kedua pasukan terlibat pertempuran sengit di kawasan Cikatomas, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Di tengah pertempuran, Syekh Mubarok dikisahkan menasihati kedua belah pihak agar menghentikan peperangan karena banyak korban jiwa berjatuhan.
Nasihat tersebut konon diterima oleh kedua pihak hingga pertempuran berakhir.
Raden Jayaperkasa kemudian kembali ke Sumedang dan dimakamkan di Dayeuh Luhur. Sementara itu, Raden Jayasakti dikisahkan memilih menetap di Banten, di sebuah kampung yang kemudian dikenal dengan nama Timbanganten. Kisah tersebut menjadi salah satu bagian dari tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat.
Di sinilah pertanyaan sejarah mulai terbuka. Apakah Timbanganten di Garut dan Timbanganten dalam riwayat asal-usul Gununganten di Lebak memiliki hubungan sejarah, ataukah kesamaan nama tersebut muncul secara terpisah?
Mungkinkah terdapat perpindahan tokoh, keluarga, keturunan, atau jaringan masyarakat Sunda dari satu wilayah ke wilayah lainnya?
Sejauh ini, belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa kedua wilayah tersebut memiliki hubungan langsung. Meski demikian, kesamaan nama itu layak ditelusuri lebih jauh.
Sejarah masyarakat Sunda mengenal mobilitas tokoh dan keluarga antarkawasan. Perpindahan dapat berlangsung karena hubungan kekerabatan, perjalanan keagamaan, pencarian wilayah baru, kepentingan politik, maupun penyebaran Islam melalui jaringan ulama dan pesantren.
Karena itu, keberadaan nama Timbanganten dalam riwayat lokal di Lebak dapat menjadi petunjuk awal untuk meneliti persebaran jaringan masyarakat Sunda dari wilayah Priangan menuju Banten.
Apakah Ada Jejak Syekh Nur Faqih di Lebak?

Sebuah tulisan di BantenGate.id pada 6 Oktober 2026 berjudul “Syekh Nur Faqih dan Tanjung Singuru: Jejak Ulama Garut yang Disegani Belanda”, Kang Oos Supyadin mengulas hubungan Syekh Nur Faqih dengan Kerajaan Timbanganten di Garut.
Kang Oos, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Adat Sunda Kabupaten Garut, menguraikan silsilah Syekh Nur Faqih yang disebut memiliki hubungan genealogis dengan Kerajaan Timbanganten melalui garis ibu. Sementara itu, dari garis ayah, nasabnya disebut terhubung dengan jaringan Kesultanan Cirebon hingga Sunan Gunung Jati.
Silsilah tersebut menarik untuk ditelaah lebih lanjut melalui sumber primer, seperti naskah keluarga, dokumen sejarah, atau catatan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jika hubungan genealogis itu dapat dibuktikan, penelitian mengenai Syekh Nur Faqih tidak hanya akan memperkaya pemahaman tentang hubungan Timbanganten dan Tanjung Singuru. Penelitian tersebut juga berpotensi membuka kajian lebih luas mengenai persebaran keluarga dan jaringan ulama Sunda ke wilayah Banten.
Namun, hingga kini, belum tersedia bukti primer yang cukup untuk menyatakan bahwa Timbanganten di Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, memiliki hubungan genealogis dengan Syekh Nur Faqih atau didirikan oleh keturunannya.
Kemungkinan bahwa nama Timbanganten di Lebak berkaitan dengan perpindahan keluarga dari Timbanganten di Garut juga masih merupakan hipotesis yang perlu diuji melalui penelitian sejarah.
Justru di situlah nilai penting penelusuran ini. Sebuah nama kampung terkadang menjadi serpihan kecil dari mozaik sejarah. Nama itu tidak serta-merta memberikan jawaban, tetapi dapat mengarahkan peneliti pada pertanyaan berikutnya.
Siapa yang pertama kali menggunakan nama Timbanganten di Lebak? Kapan nama tersebut mulai dikenal? Siapa tokoh yang membawa atau memperkenalkannya?
Apakah terdapat hubungan genealogis antara masyarakat Timbanganten di Garut dan masyarakat yang kemudian bermukim di kawasan Gununganten?
Adakah makam tua, naskah keluarga, pesantren, atau tradisi lisan yang dapat mempertemukan sejarah kedua wilayah tersebut?
Dan yang tidak kalah penting, apakah jaringan ulama yang berkembang dari Timbanganten di Garut pernah menjangkau wilayah Lebak dan Banten bagian selatan?
Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan penelitian lapangan, penelusuran arsip, serta pembandingan berbagai sumber sejarah.
Dari Nama Menjadi Jejak Sejarah
Dalam sejarah lokal, nama tempat tidak selalu muncul tanpa sebab. Nama sebuah kampung dapat berasal dari tokoh yang pernah tinggal di sana, nama leluhur, kondisi alam, peristiwa tertentu, atau perpindahan suatu kelompok masyarakat.
Karena itu, keberadaan nama Timbanganten dalam riwayat dua wilayah berbeda layak dijadikan salah satu pintu masuk penelitian sejarah.
Di Garut, Timbanganten merupakan bagian dari lanskap sejarah yang berkaitan dengan kerajaan, ulama, dan pesantren.
Sementara itu, di Lebak, nama Timbanganten—yang dalam riwayat lokal dikaitkan dengan asal-usul Gununganten—menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat tentang tokoh-tokoh Sunda yang diyakini pernah menetap di kawasan tersebut.
Sejarah memang tidak cukup dibangun hanya dari kemiripan nama atau cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Diperlukan penelitian yang mempertemukan tradisi lisan dengan bukti tertulis dan temuan lapangan.
Dari Timbanganten di Garut hingga Gununganten di Lebak, masih ada jejak yang perlu ditelusuri. Bisa jadi, di balik kesamaan nama tersebut tersimpan kisah perpindahan manusia, hubungan kekerabatan, atau jaringan keagamaan yang selama ini belum terungkap.—(***)
Wallahu a’lam bishawab.








