Pemkab Lebak Perkuat Promosi Kain Tenun Baduy

Pemkab Lebak Perkuat Promosi Kain Tenun Baduy
Kadisbudpar Lebak, Yosep Mohamad Holis., menggunakan kain khas tenun Baduy.--

Lebak, Bantengate.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Banten, terus memperkuat pelestarian dan promosi tenun Baduy melalui berbagai kegiatan pameran, pembinaan perajin, serta perluasan akses pasar. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga warisan budaya masyarakat adat Baduy sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk tenun lokal.

Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, para penenun Baduy dilibatkan dalam berbagai pameran, mulai dari tingkat daerah hingga nasional. Sejumlah kegiatan yang menjadi sarana promosi di antaranya Jakarta Fair dan rangkaian acara Seba Baduy.

Kepala Disbudpar Kabupaten Lebak, Dr. Yosep Mohamad Holis, mengatakan bahwa promosi tenun Baduy tidak hanya dilakukan dengan memamerkan produk jadi. Pemerintah daerah juga memberikan ruang bagi para penenun untuk memperlihatkan secara langsung proses pembuatan kain tenun dan koja, yakni tas tradisional masyarakat Baduy.

“Kami selalu menyertakan para penenun Baduy dalam pameran yang kami selenggarakan maupun ketika mengikuti pameran dari pemerintah provinsi. Pada Seba Baduy kemarin, kami memberikan stan premium agar mereka bisa memperlihatkan proses menenun dan membuat koja sekaligus berjualan,” ujar Yosep di Rangkasbitung, Jumat (23/10/2026).

Generasi penerus MHA Baduy di Kadu Ketug, tengah menenun kain batik.–(Foto: dok/BG)

Menurut Yosep, respons masyarakat terhadap produk tenun Baduy cukup positif.   Dalam kegiatan tersebut, sejumlah kain tenun Baduy dilaporkan terjual dengan harga lebih dari Rp1 juta per lembar. Hal ini menunjukkan adanya potensi ekonomi dari produk kerajinan tradisional apabila didukung promosi dan pemasaran yang tepat. Kain Tenun Baduy dengan kualitas tinggi disebut Janggawari.

Penenun Baduy Didorong Memanfaatkan Pembayaran Digital

Selain memperluas promosi melalui pameran, Disbudpar Lebak melakukan pembinaan terhadap para penenun, termasuk di kawasan Ciboleger. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pendampingan penggunaan sistem pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Pemanfaatan QRIS diharapkan dapat memudahkan transaksi jual beli, khususnya ketika penenun mengikuti pameran atau melayani wisatawan. Dengan pilihan pembayaran yang lebih beragam, konsumen dapat bertransaksi dengan praktis, sementara para penenun berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Selain menjaga kualitas dan keberlanjutan produk, akses pemasaran serta kemudahan transaksi dinilai penting untuk mendukung usaha para penenun.

Untuk memperkuat promosi tenun Baduy, Disbudpar Lebak juga tengah mengupayakan penyelenggaraan Festival Tenun Baduy di Alun-Alun Rangkasbitung. Kegiatan tersebut direncanakan melibatkan puluhan penenun beserta alat tenun tradisional mereka.

Festival ini diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan tenun Baduy, mulai dari keterampilan menenun hingga produk yang dihasilkan. Selain sebagai sarana edukasi budaya, kegiatan tersebut diharapkan membuka peluang pemasaran langsung bagi para penenun.

Yosep mengatakan, pihaknya masih berupaya mencari dukungan dari donatur dan sponsor untuk merealisasikan kegiatan tersebut. Salah satu pihak yang disebut telah menunjukkan keseriusan untuk mendukung rencana festival adalah Bank Indonesia.

“Kami sedang mencari dukungan donatur dan sponsorship untuk menyelenggarakan Festival Tenun Baduy. Salah satu pihak yang sudah menunjukkan keseriusan untuk mendukung adalah Bank Indonesia,” katanya.

Rencana festival tersebut diharapkan dapat mempertemukan para penenun dengan masyarakat, wisatawan, pelaku usaha, dan calon pembeli. Dengan demikian, promosi tenun Baduy tidak hanya berlangsung dalam kegiatan seremonial, tetapi juga dapat mendorong terbukanya peluang pemasaran yang berkelanjutan.

Tradisi menenun merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat adat Baduy, terutama bagi kaum perempuan. Keterampilan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk melalui proses belajar sejak usia dini dalam lingkungan keluarga.

Di tengah perkembangan zaman, keberlanjutan tradisi menenun menjadi bagian dari upaya menjaga identitas dan pengetahuan budaya masyarakat Baduy. Karena itu, promosi tenun tidak hanya berkaitan dengan penjualan produk, tetapi juga dengan pengenalan nilai budaya yang terkandung dalam setiap proses pembuatannya.

Pemkab Lebak melalui Disbudpar berupaya menggabungkan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui pameran, pembinaan, pemanfaatan pembayaran digital, serta rencana penyelenggaraan festival khusus.

Melalui langkah-langkah tersebut, tenun Baduy diharapkan semakin dikenal masyarakat luas, memiliki akses pasar yang lebih terbuka, dan memberikan manfaat ekonomi bagi para penenun. Pada saat yang sama, pelestarian keterampilan menenun diharapkan tetap berjalan dengan menghormati nilai, tradisi, dan ketentuan adat masyarakat Baduy.--(dian wahyudi)

Pos terkait