Bandung, BantenGate.id – Suasana penuh keakraban mewarnai reuni Paguyuban Bringka, perkumpulan alumni SMPN 4 Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, di kawasan wisata Situ Cileunca dan Arung Jeram di Sungai Palayangan, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu–Minggu (10–11 Oktober 2026).
Persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tak lekang dimakan waktu. Meski tahun demi tahun berlalu, kenangan masa putih biru selalu memiliki cara untuk mempertemukan kembali mereka yang pernah berbagi cerita, tawa, dan pengalaman di ruang kelas yang sama.
Sebanyak 22 orang alumni berkumpul dalam kegiatan reuni sekaligus buka arisan. Mengambil suasana alam terbuka dengan panorama danau, udara sejuk pegunungan, serta gemuruh aliran Sungai Palayangan, membuat pertemuan ini menjadi momen istimewa untuk kembali merajut kebersamaan yang mungkin sempat terpisah oleh jarak, kesibukan, dan perjalanan hidup masing-masing.
“Alhamdulillah alumni SMPN 4 Rangkasbitung angkatan tahun 1984 bisa berkumpul bersama di Pangalengan, Bandung. Ini moment yang sangat indah sekalipun untuk sementara baru bisa kumpul 22 orang dan semuanya kaum wanita. Kedepan semoga bisa kumpul dengan jumlah yang lebih banyak,”kata Omah Iyos, Mpo Imas, dan mpo Eli, usai rafting menyusuri sungai Palayangan
Di kawasan wisata glamping yang berada di tengah bentang alam Pangalengan, suasana akrab langsung terasa. Obrolan demi obrolan mengalir tanpa sekat. Cerita tentang masa sekolah kembali diungkit, mulai dari pengalaman di ruang kelas, tingkah teman yang mengundang tawa, hingga berbagai kisah sederhana yang kini justru terasa begitu berharga.
Canda dan tawa berkali-kali pecah di antara mereka. Waktu seolah berputar kembali, membawa para alumni pada masa ketika persoalan hidup belum serumit sekarang dan kebersamaan dengan teman sebaya menjadi bagian paling menyenangkan dalam keseharian.
Bagi mereka, reuni bukan sekadar pertemuan untuk melepas rindu. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merawat persahabatan, memperkuat kekompakan, serta menjaga ikatan emosional yang tumbuh sejak masa remaja.
Filosofi Kebersamaan dalam Bahasa Sunda

Sementara, Mis Titi, Bendahara Bringka menjelaskan, bahwa nama Bringka sendiri memiliki makna tersendiri bagi para anggotanya. Sebutan ini merujuk pada ungkapan dalam bahasa Sunda, yakni bring kaditu, bring kadieu, yang menggambarkan ajakan untuk bergerak ke sana dan kemari, berkumpul, serta menyatukan langkah demi kebersamaan.
Filosofi tersebut menjadi semangat yang menyatukan para alumni. Di tengah kesibukan masing-masing, selalu ada alasan untuk meluangkan waktu, menentukan tujuan, lalu kembali berkumpul sebagai sahabat.
Bringka yang dibentul sepuluh tahun lalu di Rangkasbitung, bukan sekadar nama paguyuban, melainkan simbol persaudaraan yang terus dipelihara. Tidak ada sekat profesi, status sosial, maupun perbedaan kesibukan. Ketika berkumpul, semua kembali menjadi teman lama yang memiliki akar kenangan sama.
“Melalui kegiatan reuni dan arisan, paguyuban ini berupaya menjaga komunikasi agar tetap terjalin. Arisan menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan anggota secara berkala, sementara reuni memberi kesempatan untuk menciptakan pengalaman baru di luar rutinitas sehari-hari,” kata Mis Titi
Pilihan Cileunca sebagai lokasi pertemuan pun menghadirkan pengalaman berbeda. Jika dahulu kebersamaan dibangun di lingkungan sekolah, kali ini alam terbuka menjadi ruang untuk mempererat persahabatan sekaligus menikmati petualangan bersama.
Menjemput Keseruan di Sungai Palayangan

Keseruan reuni semakin terasa ketika rombongan mengikuti kegiatan rafting atau arung jeram di kali Palayangan sejauh. Aktivitas ini menjadi salah satu agenda yang paling dinanti karena menawarkan pengalaman berbeda: menikmati keindahan alam sekaligus menguji keberanian dan kekompakan.
Petualangan diawali dengan menyusuri Situ Cileunca, danau yang menjadi salah satu daya tarik wisata di kawasan Pangalengan. Hamparan air dan panorama perbukitan menghadirkan suasana yang menenangkan. Udara sejuk pegunungan menjadi pelengkap perjalanan sebelum para peserta melanjutkan petualangan menuju aliran Sungai Palayangan.
Situ Cileunca dikenal sebagai danau buatan yang dibangun pada masa kolonial Belanda dan diresmikan pada 1926. Selain menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan air, danau ini berkembang menjadi destinasi wisata yang menawarkan pemandangan alam, aktivitas air, serta suasana rekreasi di kawasan dataran tinggi.
Dari danau tersebut, perjalanan berlanjut menuju Sungai Palayangan, sungai yang dikenal sebagai salah satu lokasi favorit untuk olahraga arung jeram di Pangalengan.
Dengan lintasan sekitar lima kilometer, peserta diajak menyusuri aliran sungai yang berkelok, melewati jeram demi jeram, serta menghadapi arus yang menantang. Riak air, percikan yang membasahi tubuh, dan suara gemuruh sungai menciptakan suasana yang jauh berbeda dari obrolan santai saat berkumpul di lokasi penginapan.
Di atas perahu karet, setiap peserta harus menjaga keseimbangan, mengikuti arahan pemandu, dan mengayuh dayung secara serempak. Di sinilah kekompakan benar-benar diuji. Perahu tak akan bergerak dengan baik jika setiap orang mengayuh sesuka hati. Dibutuhkan koordinasi, komunikasi, dan kepercayaan terhadap satu sama lain.
Tak jarang, teriakan semangat bercampur gelak tawa mengiringi perjalanan. Ketika perahu melewati jeram, adrenalin meningkat. Namun, justru pengalaman menghadapi tantangan bersama itulah yang membuat petualangan terasa semakin berkesan.
Rafting seolah menjadi gambaran kecil perjalanan persahabatan mereka. Ada arus yang tenang, ada pula jeram yang harus dilewati dengan penuh konsentrasi. Begitu pula kehidupan, yang tak selalu berjalan mulus, tetapi terasa lebih ringan ketika dijalani bersama orang-orang yang saling mendukung.
Bagi 22 alumni Bringka, menyusuri Sungai Palayangan bukan hanya soal menaklukkan arus. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk membangun kenangan baru, melengkapi cerita masa sekolah yang selama ini tersimpan dalam ingatan.
Selama dua hari, reuni Bringka di Cileunca menghadirkan perpaduan antara nostalgia, rekreasi, dan penguatan persaudaraan. Pertemuan yang diawali dengan obrolan penuh kenangan berkembang menjadi petualangan bersama yang menghadirkan pengalaman tak terlupakan.
Di tengah perubahan usia dan perjalanan hidup, persahabatan lama mengajarkan bahwa hubungan yang baik tidak harus selalu dirawat melalui pertemuan yang mewah. Terkadang, cukup dengan meluangkan waktu, berbagi cerita, tertawa bersama, dan menciptakan pengalaman sederhana yang bermakna.
Reuni ini sekaligus menjadi pengingat bahwa masa sekolah bukan hanya tentang pelajaran dan ijazah. Ada persahabatan, solidaritas, serta nilai kebersamaan yang dapat bertahan jauh setelah seseorang meninggalkan bangku pendidikan.
Melalui semangat bring kaditu, bring kadieu, Paguyuban Bringka terus berupaya menjaga ikatan ant alumni agar tidak terputus oleh jarak maupun kesibukan.
sebelum para anggota Bringka melakukan kegiatan arung jeram di Situ Cileunca dan adrenalin menyusuri Sungai Palayangan, pada pagi harinya, Sabtu (10/10/2026) menikmati suasana sejuk dan indahnya kawasan destinasi wisata Wayang Windu Panenjoan dan Nimo, kawasan kebun teh di Pangalengan dan Malabar.
Sebab, pada akhirnya, yang dibawa pulang dari perjalanan ke Cileunca bukan hanya foto bersama, cerita arung jeram, atau kenangan menikmati sejuknya Pangalengan. Ada kebahagiaan karena kembali bertemu, ada persaudaraan yang semakin erat, dan ada janji tak tertulis untuk kembali berkumpul pada kesempatan berikutnya. Bringka: datang bersama, tertawa bersama, dan menjaga persahabatan agar tetap menyala sepanjang masa.–(red)








