Pamarayan, BantenGate.id—Setelah sempat tertunda akibat persoalan teknis, tradisi Bedol Pamarayan akhirnya digelar, Sabtu (17/10/2026). Kerinduan masyarakat yang bertahun-tahun menunggu tradisi ini seolah tumpah dalam satu peristiwa. Arus kendaraan menuju lokasi sempat mengalami kemacetan, sementara warga dari berbagai daerah di Banten terus berdatangan.
Di antara kerumunan itu, seorang lelaki berusia 79 tahun tampak menyimpan cerita panjang tentang tradisi yang telah melekat dalam perjalanan hidupnya. Namanya Abah Adung, warga Cisonggom, Panyandungan, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak.
Bagi Abah Adung (79) , Bedol Pamarayan bukan sekadar kesempatan mendapatkan ikan gratis. Tradisi tersebut adalah bagian dari kenangan masa muda, perjumpaan dengan sahabat, sekaligus perjalanan yang terus ia ulang dari tahun ke tahun.
“Dulu saya berjalan kaki dari Rangkasbitung ke Bendung Pamarayan dengan jarak sekira 17 kilometer dan memerlukan waktu tempuh sekitar satu setengah jam. Sejak beduk subuh sudah berangkat sambil membawa jala dan serokan ikan. Tapi tadi pagi saya mengendarai sepeda motor bersama cucu,” tutur Sayuti sambil mengenang masa mudanya.
Puluhan tahun berlalu. Langkah kaki yang dahulu membawanya menempuh perjalanan jauh kini berganti sepeda motor. Namun, semangatnya untuk menyaksikan Bedol Pamarayan tak pernah padam.
Kehadirannya bersama rekan-rekan seusia menjadi gambaran bahwa tradisi ini memiliki ikatan emosional yang kuat. Ada kenangan yang hendak dirawat, ada persahabatan yang ingin dipertemukan kembali, dan ada kegembiraan sederhana yang tak mudah digantikan oleh hiburan modern.
Hal yang sama juga disampaikan Arsali (65), orang Cikande, Kecamatan Ciakande, Kabupaten Serang. Ia bersama tiga rekannya berjalan sejak pagi berangkat menuju pamarayan dengan membawa peralatan tangkap ikan dan berharap dapat ikan baung.
Sirene Berbunyi, Warga Bersiap Memburu Ikan

Sekitar pukul 10.30 WIB, pintu Bendung Pamarayan mulai dibuka sedikit. Suara sirene dari kantor Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC3) menjadi penanda dimulainya momen yang telah ditunggu-tunggu masyarakat. Sorak-sorai warga menyambut terbukanya pintu air. Mata mereka tertuju pada aliran Sungai Ciujung yang perlahan mengalami penurunan debit.
Air yang mengalir di Sungai Ciujung hingga Pamarayan ini bersumber dari sumber mata air di kaki Gunung Kendeng, kawasan masyarakat adat Baduy Jero ( Baduy Dalam). Oleh karena itulah, bagi warga Baduy tetap mempertahankan kelestarian alam dan sumber mata air ini untuk kehidupan masyarakat Banten.
Sekitar satu jam kemudian, air mulai menyusut. Di sejumlah bagian aliran, ikan-ikan bermunculan. Warga pun bergerak cepat, mengayunkan serokan dan jala untuk menangkap ikan yang terlihat di antara aliran air.
Sebagian warga memilih bertahan di tepi sungai, sedangkan yang lain turun ke bagian tengah saluran air di sisi barat untuk mencari ikan. Serokan diangkat berkali-kali, jaring ditebarkan, dan setiap ikan yang berhasil ditangkap disambut dengan tepuk tangan bersorak ria penuh kegembiraan.
Ikan tawes dan rancak menjadi sebagian hasil tangkapan warga. Namun, ada satu jenis ikan yang paling dinantikan: ikan caung atau baung, salah satu ikan khas sungai Ciujung yang dikenal masyarakat setempat.
Ikan baung berukuran besar menjadi buruan tersendiri. Tak heran, setiap gerakan jaring yang terasa berat dapat mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Bagi warga, mendapatkan baung besar bukan hanya soal hasil tangkapan, melainkan juga kebanggaan dan cerita yang akan dibawa pulang.
Bedol Pamarayan menghadirkan suasana yang khas. Orang-orang yang sebelumnya tak saling mengenal dapat berdiri berdampingan, berbagi ruang untuk menjaring ikan, saling bertukar kabar, dan merayakan kegembiraan yang sama.
Di tengah hiruk-pikuk itu, ikan bukan satu-satunya yang diburu. Kebersamaanlah yang membuat masyarakat terus merindukan tradisi ini.
Lima Tahun Penantian dan Kerinduan Warga
Bedol Pamarayan tahun 2026, nampaknya, terasa istimewa karena tradisi tersebut sempat lama tidak digelar. Warga menyebut kegiatan itu telah vakum sekitar lima tahun, sejak masa pandemi Covid-19 hingga tahun ini.

Kerinduan tersebut bahkan sempat memuncak ketika pelaksanaan yang direncanakan pada Sabtu (10/10/2026), dalam rangkaian HUT ke-500 Kabupaten Serang, dibatalkan.
Warga yang sudah mempersiapkan jaring dan peralatan untuk menangkap ikan mendatangi Kantor Unit Pengelolaan Irigasi Daerah Irigasi Ciujung, BBWSC3, di Desa Panyabrangan, Kecamatan Cikeusal. Protes juga sempat berujung pada penutupan akses Jembatan Pamarayan menggunakan pagar bambu dan pembakaran ban bekas.
Bagi masyarakat, pembatalan itu bukan sekadar perubahan agenda. Bedol Pamarayan merupakan pesta rakyat yang telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun.
Di balik kegembiraan masyarakat, pelaksanaan Bedol Pamarayan tahun ini juga menyimpan persoalan yang tidak sederhana.
Sebelumnya, pemerintah daerah bersama warga masih menunggu keputusan BBWSC3 mengenai kemungkinan pembukaan bendung. Persoalan teknis menjadi alasan penundaan karena pengosongan air secara penuh dikhawatirkan mengganggu pasokan irigasi bagi lahan pertanian di wilayah utara.
Pertimbangan tersebut penting karena Bendung Gerak Pamarayan Baru bukan sekadar lokasi kegiatan masyarakat. Infrastruktur ini merupakan bagian penting dari sistem irigasi yang menopang pertanian di wilayah Banten.
Karena itu, Bedol Pamarayan pada Sabtu ini berlangsung dengan pembukaan pintu secara terbatas. Air dibiarkan menyusut tanpa membuat saluran benar-benar kering.
Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Ramainya pengunjung turut membawa dampak bagi perekonomian masyarakat. Ketika warga datang berbondong-bondong, peluang usaha terbuka bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pedagang makanan, minuman, dan aneka kebutuhan pengunjung mendapatkan kesempatan melayani masyarakat yang memadati kawasan bendung. Aktivitas ekonomi tumbuh seiring meningkatnya mobilitas warga dari berbagai daerah.
Bagi pedagang kecil, keramaian semacam ini merupakan peluang yang tidak datang setiap hari. Satu perhelatan tradisi mampu mempertemukan penjual dan pembeli dalam jumlah besar, sekaligus menghidupkan suasana kawasan yang biasanya berjalan seperti hari-hari biasa.
Bedol Pamarayan pun memperlihatkan bahwa tradisi lokal memiliki potensi lebih luas daripada sekadar kegiatan budaya. Ia dapat menjadi daya tarik wisata masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi warga sekitar.
Meski demikian, manfaat tersebut perlu ditopang dengan pengelolaan yang baik. Ketertiban lalu lintas, keselamatan pengunjung, kebersihan sungai, serta ruang usaha yang tertata menjadi bagian penting agar kegiatan serupa dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Bendung Baru yang Menopang Pertanian Banten
Di balik tradisi yang telah lama dikenal masyarakat, Bendung Pamarayan juga menyimpan perjalanan sejarah panjang.
Bendung Pamarayan Lama dibangun pada masa kolonial Belanda sejak 1905 dan diselesaikan pada 1925. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dari pengembangan sistem irigasi untuk mengairi persawahan di wilayah Banten. Bendung bersejarah itu kini dikenal sebagai salah satu warisan infrastruktur sumber daya air yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Seiring berjalannya waktu, kerusakan bangunan dan persoalan teknis membuat bendung lama tidak lagi dapat diandalkan untuk menjalankan fungsi operasionalnya. Pemerintah kemudian membangun Bendung Gerak Pamarayan Baru pada dekade 1990-an.
Pembangunannya dimulai pada 1992 dan diselesaikan pada 1997. Bendung baru tersebut kemudian menggantikan peran bendung lama dalam mengatur aliran Sungai Ciujung untuk kebutuhan irigasi.
Bendung Gerak Pamarayan Baru memiliki bentang sekitar 137,5 meter dengan enam pintu pengendali serta dua bangunan pengambilan air di sisi kiri dan kanan. Infrastruktur ini dirancang untuk membantu pengaturan debit air dan mendukung pelayanan irigasi di kawasan pertanian.–(red)








