Oleh: Abah Kasep
(Pengurus Paguyuban Pasundan di Banten)
Dari aliran Sungai Ciujung yang berhulu di kawasan pedalaman Baduy, Kabupaten Lebak, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi perubahan zaman. Bendung Pamarayan bukan sekadar bangunan pengatur air, melainkan warisan teknologi pengairan yang menopang pertanian dan kehidupan masyarakat Banten selama lebih dari satu abad.
Air Sungai Ciujung terus mengalir melintasi bentang alam Banten. Dari kawasan hulu yang dilingkupi perbukitan dan hutan di wilayah pedalaman Kabupaten Lebak, air bergerak melewati permukiman, lembah, dan hamparan persawahan sebelum mencapai wilayah hilir.
Di sepanjang perjalanan itu, sungai menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Airnya menghidupi lahan pertanian, menopang aktivitas warga, sekaligus menyimpan cerita tentang hubungan manusia dengan alam.
Di Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, hubungan panjang antara manusia dan air tersebut meninggalkan sebuah penanda sejarah: Bendung Pamarayan.
Bagi masyarakat yang melintas di kawasan ini, bangunan bendung mungkin hanya terlihat sebagai konstruksi beton dengan pintu-pintu air dan saluran pengairan. Namun, di balik bentuk fisiknya, tersimpan perjalanan panjang pembangunan infrastruktur yang bermula pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1905, kemudian berlanjut melalui pembangunan bendung baru yang mulai beroperasi pada 1997.
Dua bangunan dari dua zaman berbeda itu memperlihatkan bagaimana air Sungai Ciujung sejak dahulu sebagai sumber daya strategis bagi pertanian dan kehidupan masyarakat Banten.
Sebelum mengenal bangunan bendung modern, masyarakat di sepanjang aliran sungai telah lama menggantungkan kehidupan pada air. Sungai menyediakan kebutuhan sehari-hari, menjadi bagian dari ekosistem, dan memungkinkan lahan pertanian memperoleh pasokan air.
Sungai Ciujung merupakan salah satu sungai utama di Provinsi Banten. Alirannya melintasi wilayah Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang, membentuk daerah aliran sungai yang memiliki peranan penting dalam sistem pengairan.
Dari berbagai sumber yang diperoleh, kawasan hulu Ciujung berada di lingkungan pegunungan dan perbukitan. Dalam perspektif bentang alam Kabupaten Lebak, kawasan Gunung Kendeng dan wilayah sekitar masyarakat Baduy menjadi bagian penting dari lanskap pegunungan yang perlu dijaga kelestariannya.
Bagi masyarakat Baduy, alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan bagian dari tatanan kehidupan yang harus dipelihara. Hutan, tanah, dan air memiliki hubungan yang erat dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Karena itu, ketika membicarakan Bendung Pamarayan, kisahnya tidak seharusnya berhenti pada bangunan beton di Kabupaten Serang. Ada perjalanan air yang jauh lebih panjang, bermula dari kawasan hulu, melewati daerah tangkapan air, kemudian mengalir menuju wilayah yang membutuhkan pengairan.

Secara hidrologis, sumber aliran Sungai Ciujung merupakan bagian dari sistem daerah aliran sungai yang luas. Oleh sebab itu, penyebutan Gunung Kendeng dan kawasan Baduy perlu dipahami dalam konteks bentang alam hulu dan lingkungan Lebak, bukan sebagai satu-satunya titik mata air Sungai Ciujung.
Air yang sampai di Pamarayan merupakan hasil perjalanan aliran sungai dan anak-anak sungainya dari kawasan hulu.
Di sinilah arti penting menjaga hutan dan lingkungan menjadi nyata. Ketika kawasan hulu terpelihara, fungsi daerah tangkapan air dapat tetap berjalan. Sebaliknya, kerusakan lingkungan berpotensi memengaruhi tata air, meningkatkan erosi, serta menambah sedimentasi di sungai dan bangunan pengairan.
Dengan demikian, keberlangsungan Bendung Pamarayan tidak hanya bergantung pada kekuatan konstruksinya, tetapi juga pada kesehatan lingkungan di sepanjang daerah aliran Sungai Ciujung.
Ketika Belanda Membangun Bendung Pamarayan
Sejarah Bendung Pamarayan berkaitan erat dengan perkembangan sistem irigasi pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Pemerintah kolonial menyadari bahwa pengaturan air merupakan faktor penting untuk mengembangkan pertanian di dataran rendah Banten. Air sungai yang sebelumnya mengalir mengikuti kondisi alam perlu diatur agar dapat disalurkan secara lebih terencana menuju kawasan persawahan.
Dalam papan informasi yang dibuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang, dinyatakan bahwa Bendung Pamarayan Lama, termasuk cagar budaya. Dalam papan informasi dituliskan, Bendung Pamarauan dibangun berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 11 tanggal 12 Januari 1905 yang menetapkan, bahwa Pamarayan akan dibangun pintu air aliran sungai Ciujung. Kemudian, pelaksanaan pembangunannya berdasarkan Surat Keputusan Nomor 8 Tanggal 28 April 1908.
Pintu-pintu air bendungan terbuat dari struktur besi yang dapat diautur dan dibuat oleh Risomes dan Rapher Ltd Makers dari Swiss England Tahun 1914. Pembangunan bendung selesai pada tahun 1925.
Pembangunan bendung ini bukan pekerjaan sederhana. Sungai memiliki arus yang berubah mengikuti musim, sedangkan konstruksi harus berdiri di atas kondisi tanah dan dasar sungai yang tidak selalu mudah dikendalikan.
Sejumlah catatan teknis menyebutkan bahwa pembangunan awal menghadapi persoalan konstruksi sehingga metode pengerjaan mengalami perubahan. Bendung yang semula direncanakan dengan pendekatan tertentu kemudian dikembangkan menjadi bendung gerak, lengkap dengan sistem pintu pengatur air.
Bendung lama tersebut memiliki sepuluh pintu air berbahan baja. Pintu-pintu itu menjadi bagian utama dari mekanisme pengaturan aliran, sementara bangunan menara dan ruang mesin digunakan untuk mendukung pengoperasian pintu.
Struktur tersebut memperlihatkan teknologi pengairan pada masanya. Air tidak lagi semata-mata dibiarkan mengalir mengikuti keadaan sungai, tetapi diatur melalui bangunan mekanis agar dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan jaringan irigasi.
Namun, di balik kemajuan teknis itu, pembangunan irigasi pada masa kolonial juga tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekonomi pemerintah Hindia Belanda. Pengembangan pertanian dan pengaturan air menjadi bagian dari sistem pengelolaan wilayah jajahan.
Warisan yang kemudian bertahan hingga sekarang adalah infrastruktur pengairan dan pengetahuan teknis yang berkembang melalui pembangunan tersebut.
Bendung Pamarayan Lama menjadi bukti bahwa sejarah pembangunan pertanian di Banten telah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka.
Sejarah pengairan di Banten sesungguhnya tidak dimulai ketika Belanda membangun Bendung Pamarayan. Jauh sebelumnya, masyarakat telah mengenal berbagai cara untuk mengalirkan air menuju lahan pertanian. Saluran sederhana dibangun dengan memanfaatkan kondisi alam, aliran sungai, dan kemiringan tanah.
Salah satu jejak sejarah pengairan yang sering dikaitkan dengan masa Kesultanan Banten adalah Kanal Sultan pada abad ke-17. Sejumlah catatan mengenai sejarah irigasi Banten menyebutkan adanya saluran yang berkaitan dengan pengembangan pertanian pada masa Sultan Ageng Tirtayasa.
Kanal tersebut dikenal sebagai bagian dari upaya mengalirkan air untuk kebutuhan pertanian di dataran rendah Banten. Namun, Kanal Sultan dan jaringan irigasi Ciujung Pamarayan merupakan sistem yang berbeda dan tidak boleh disamakan begitu saja.
Catatan ini penting untuk menempatkan Bendung Pamarayan dalam sejarah yang lebih luas.
Teknologi kolonial memang membawa pembangunan bendung berskala besar dan sistem pintu mekanis, tetapi kebutuhan masyarakat terhadap air telah ada jauh sebelumnya.
Dengan kata lain, sejarah pengairan Banten merupakan perjalanan panjang yang mempertemukan pengetahuan lokal, kebutuhan pertanian, kepentingan pemerintahan, dan perkembangan teknologi.
Bendung Pamarayan Lama

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Bendung Pamarayan Lama telah berdiri sebagai bagian dari infrastruktur pengairan peninggalan kolonial. Bangunan tersebut kemudian menjadi bagian dari sistem pengairan yang perlu dipelihara dan dikelola oleh pemerintah Indonesia.
Namun, usia bangunan yang terus bertambah menghadirkan persoalan tersendiri. Infrastruktur yang bekerja mengatur aliran sungai menghadapi tekanan dari arus air, perubahan kondisi dasar sungai, sedimentasi, serta kebutuhan pemeliharaan.
Sejumlah catatan teknis menyebutkan bahwa bendung lama pernah mengalami rehabilitasi pada masa pembangunan nasional. Meski demikian, kondisi strukturnya terus menjadi perhatian.
Pada 1985, tercatat adanya penurunan struktur bendung yang berkaitan dengan konsolidasi tubuh bendung dan perubahan kondisi sungai, termasuk aktivitas penggalian pasir di bagian hilir. Persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa infrastruktur pengairan tidak dapat dilepaskan dari dinamika sungai. Bangunan yang telah berfungsi selama puluhan tahun tetap membutuhkan pengawasan dan pemeliharaan agar keselamatan serta fungsinya terjaga.
Di sisi lain, kebutuhan pertanian terus berkembang. Jaringan irigasi harus mampu menyalurkan air secara lebih andal untuk mendukung kegiatan pertanian di wilayah layanan. Kondisi tersebut mendorong pembangunan bendung baru sebagai pengganti bendung lama.
Bendung Baru Dibangun pada 1992
Pembangunan Bendung Gerak Pamarayan Baru dimulai pada 1992. Pekerjaan ini merupakan bagian dari upaya memperbarui infrastruktur pengairan Sungai Ciujung agar pelayanan irigasi dapat terus berlangsung.
Bendung baru dibangun tidak jauh dari lokasi bendung lama, tetapi dengan struktur dan sistem yang berbeda. Kehadirannya bukan sekadar mempercantik bangunan lama, melainkan menyediakan infrastruktur yang lebih sesuai dengan kebutuhan operasi pengairan pada masa itu.
Pada Maret 1997, bendung baru mulai beroperasi dan menggantikan fungsi bendung lama dalam pelayanan irigasi dan menjadi tonggak penting dalam sejarah Bendung Pamarayan. Pembangunan bendung baru tersebut berlangsung pada masa Indonesia telah merdeka selama lebih dari lima dasawarsa. Pembangunannya merupakan bagian dari pembangunan infrastruktur nasional pada era Orde Baru.
Pembaruan ini menandai peralihan dari infrastruktur warisan kolonial menuju sistem pengairan yang dikembangkan kembali oleh pemerintah Indonesia. Bendung lama menyimpan jejak sejarah teknologi awal abad ke-20, sedangkan bendung baru melanjutkan fungsi pengairan dengan konstruksi dan sistem pengoperasian yang diperbarui. Keduanya merupakan bagian dari satu perjalanan sejarah yang saling berkaitan.
Manfaat paling nyata Bendung Gerak Pamarayan Baru adalah menyediakan air untuk Daerah Irigasi Ciujung.
Menurut informasi Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWS C3), bendung baru melayani daerah irigasi seluas sekitar 16.686 hektare. Luas layanan ini memperlihatkan besarnya peranan infrastruktur tersebut dalam menopang kegiatan pertanian di wilayah Banten.
Angka itu bukan sekadar ukuran administratif. Di balik ribuan hektare sawah terdapat kehidupan petani, kebutuhan keluarga, aktivitas ekonomi desa, dan ketersediaan pangan bagi masyarakat.
Air yang dialirkan melalui jaringan irigasi memungkinkan petani memperoleh pasokan untuk mengolah sawah. Ketersediaan air yang lebih teratur membantu perencanaan masa tanam dan mendukung produktivitas pertanian, meskipun hasil akhirnya tetap dipengaruhi cuaca, kondisi tanah, varietas tanaman, serta pengelolaan lahan.
Bagi petani, pengairan merupakan salah satu penentu keberhasilan usaha tani. Sawah yang memiliki akses air memadai mempunyai peluang lebih baik untuk ditanami sesuai jadwal dibandingkan lahan yang sepenuhnya bergantung pada hujan. Karena itu, Bendung Pamarayan mempunyai kedudukan strategis dalam menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian.—(red)








