Gubernur Jabar KDM : Garut Masuk Rute Perjalanan Kirab Budaya Napak Tilas Pajajaran

Gubernur Jabar KDM : Garut Masuk Rute Perjalalan Kirab Budaya Napak Tilas Pajajaran
Gubernur Jawa Barat KDM, merespon cepat harapan masyarakat kabupaten Garut.--(foto: ist)

Garut, BantenGate.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan cepat menjawab harapan masyarakat Kabupaten Garut agar daerah tersebut menjadi bagian dari lintasan Kirab Budaya Tatar Sunda dalam rangka Milangkala Napak Tilas Pajajaran 2026.

Melalui akun media sosial pribadinya, Minggu (3/5/2026), KDM—sapaan akrabnya—menyampaikan bahwa rute kirab mengalami penyesuaian, sekaligus memastikan Kabupaten Garut masuk dalam agenda perjalanan.

Untuk pelaksanaan Senin, 4 Mei 2026 pukul 16.30 WIB, kirab digelar di Kabupaten Tasikmalaya. Rute yang semula melintasi Kampung Naga diubah menjadi melalui Cisinga–Galunggung–Pendopo Kabupaten Tasikmalaya, dengan pertimbangan kondisi jalan yang sempit dan berpotensi menimbulkan kemacetan.

Selanjutnya, pada Selasa (5/5/2026), Kirab Budaya akan memasuki wilayah Kabupaten Garut dengan rute dari Korem Garut menuju Pendopo Kabupaten Garut. Setelah itu, kirab berlanjut ke Kabupaten Cianjur pada Rabu (6/5/2026), kemudian istirahat pada Kamis (7/5/2026), dan dilanjutkan Jumat malam menuju Kota Bogor dengan rute Kebun Raya Bogor – Batu Tulis.

Apresiasi Masyarakat Adat Garut

Kang Oos Supyadin, Dewan Adat Kabupaten Garut bersama pegiat budaya.–(foto: dok)

Masuknya Garut dalam rute kirab mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk Dewan Adat Kabupaten Garut (DAKG), Paguyuban Kandang Wesi, serta para pegiat budaya.

Tokoh DAKG, Oos Supyadin, menyampaikan rasa syukurnya atas respons cepat gubernur.

“Alhamdulillah, harapan kami agar Garut menjadi daerah lintasan Kirab Budaya langsung dijawab oleh Gubernur Jawa Barat melalui akun media sosialnya,” ujarnya, Minggu malam (3/5/2026).

Sebelumnya, ketidakhadiran Garut dalam rute kirab sempat menuai sorotan. Kirab Budaya Tatar Sunda sendiri resmi dimulai pada Sabtu (2/5/2026) dari Keraton Sumedang Larang, namun tidak mencantumkan Garut sebagai jalur lintasan.

Hal tersebut dipertanyakan oleh kalangan adat dan pemerhati sejarah, mengingat Garut dinilai memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Pajajaran.

Historis Garut dalam Mahkota Binokasih

Menurut Kang Oos, secara historis Garut memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan simbolik Mahkota Binokasih pasca runtuhnya Kerajaan Pajajaran pada 1579.

Ia menjelaskan bahwa mahkota tersebut sempat diamankan di wilayah Limbangan, Garut, sebelum diserahkan ke Kerajaan Sumedang Larang. Proses penyelamatan dilakukan melalui jalur pantai selatan guna menghindari kejaran pasukan Kesultanan Banten pada masa itu.

“Kalau Garut tidak masuk rute, seolah ada bagian sejarah yang hilang dalam napak tilas Pajajaran,” tegas Kang Oos sebagaimana dirilis BantenGate.id, edisi Sabtu (2/5/2026).

Dengan dimasukkannya Garut dalam rute kirab, menurutnya, narasi sejarah menjadi lebih utuh dan sesuai fakta.

Kirab Budaya Tatar Sunda 2026 menjadi agenda utama dalam peringatan Milangkala Napak Tilas Pajajaran, yang melintasi sejumlah daerah di Jawa Barat hingga berakhir di Kota Bandung pada 17 Mei 2026.

Tidak masuknya Garut menjadi lintasan atau rute kirab, juga menjadi sorotan ribuan pembaca dan ratusan masyarakat Garut yang memberikan komentar di medsos BantenGate.id. Diantara warga yang memberikan komentar @yusufa: “kedah namah mun bade  kirab budaya Pajajaran kedah saestuna, sadaya daerah pan sadayana oge lebetna Pajajaran nyaeta ngajajarkeun kerajaan sunda, sareng kerajaan sunda janten Pajajaran. Era ka era, masa ka masa, kedahna mah  Harut lebet , soalna di Garut aya putrana Pajajaran. pun paralun”

Mahkota Binokasih sendiri diarak menggunakan kereta kencana dari titik awal Museum Geusan Ulun. Prosesi penyerahan mahkota berlangsung khidmat dan disaksikan langsung oleh Raja Sumedang, H.R.I Lukman Soeriadisoeria, bersama jajaran pemerintah daerah dan provinsi.

Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa mulai tahun ini, arak-arakan Mahkota Binokasih dikemas dalam prosesi kebudayaan, tidak lagi menggunakan kendaraan modern seperti sebelumnya.

“Mulai tahun ini Mahkota Binokasih diarak dengan prosesi kebudayaan, dibawa keliling Jawa Barat, singgah di sejumlah titik, dan puncaknya di Kota Bandung sebelum kembali ke Sumedang,” ujar KDM.

Ia juga menambahkan, peringatan Hari Tatar Sunda ke depan akan menjadi agenda rutin tahunan, bahkan melibatkan wilayah-wilayah budaya Sunda di luar Jawa Barat, termasuk sebagian daerah di Banten dan Jawa Tengah.

Dengan masuknya Garut dalam rute Kirab Budaya Tatar Sunda 2026, masyarakat berharap peringatan sejarah Pajajaran tidak hanya meriah secara seremonial, tetapi juga akurat secara historis dan inklusif terhadap seluruh wilayah yang memiliki keterkaitan budaya dan sejarah.—(ridwan/red)

Pos terkait