Bantengate.id, Pasar keuangan global dan domestik bergerak semakin dinamis di awal 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat menembus level psikologis 9.000 poin, seiring melonjaknya harga emas dan sejumlah komoditas logam yang mencetak rekor tertinggi baru.
Pergerakan pasar ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan dalam negeri, mulai dari data tenaga kerja Amerika Serikat, kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral.
Dari Amerika Serikat, data ketenagakerjaan menunjukkan perlambatan. Jumlah tenaga kerja non-pertanian (non-farm payroll/NFP) pada Desember 2025 hanya bertambah sekitar 50 ribu orang, lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Meski demikian, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,4 persen, dari sebelumnya 4,6 persen. Kondisi ini membuat pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan memangkas suku bunga dua kali sepanjang tahun ini.
Sementara itu, dari dalam negeri, Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN 2025 mencapai 2,92 persen terhadap PDB, lebih tinggi dari target awal 2,53 persen dan mendekati batas maksimal regulasi sebesar 3 persen.
Pendapatan negara tercatat turun sekitar 3,3 persen secara tahunan, dipengaruhi oleh moderasi harga komoditas, peningkatan restitusi pajak, serta kebijakan fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha.
Di sisi lain, belanja negara justru naik sekitar 2,7 persen, didorong realisasi sejumlah program pemerintah, termasuk penyaluran program Makanan Bergizi Gratis.
Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan pendapatan negara tumbuh 14 persen dan belanja naik 11 persen, dengan defisit anggaran direncanakan sebesar 2,68 persen terhadap PDB.
Sejalan dengan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV 2025 menjadi 5,45 persen, lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya sebesar 5,67 persen. Secara tahunan, ekonomi Indonesia 2025 diperkirakan tumbuh 5,12 persen, di bawah target APBN sebesar 5,2 persen.
Di tengah dinamika tersebut, pasar saham Indonesia justru mencatatkan kinerja impresif. IHSG sempat menyentuh level 9.002 poin secara intraday pada Kamis (8/1/2026), menandai rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Tak hanya saham, harga sejumlah komoditas logam juga bergerak menguat. Harga emas dunia naik sekitar 2 persen hingga mencapai US$4.599 per troy ounce, mencetak rekor tertinggi baru. Harga tembaga menyentuh level sekitar US$13.380 per ton, sementara harga nikel melonjak lebih dari 10 persen dalam sehari ke kisaran US$18.785 per ton, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
Kondisi geopolitik global yang belum stabil turut mendorong reli harga komoditas, di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai dan bahan baku industri.
Namun di sisi lain, pelebaran defisit anggaran berpotensi memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Pada Jumat (9/1/2026), rupiah tercatat melemah hingga ke level Rp16.805 per dolar AS, terlemah sejak April 2025.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed menjelang pertemuan FOMC 27–28 Januari 2026, serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan nasional. (dimas)








