Lebak, Bantengate.id – Pimpinan Daerah Persaudaraan Muslimah (PD Salimah) Kabupaten Lebak, Banten, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak memperkuat ketahanan keluarga sebagai bagian dari upaya pencegahan HIV/AIDS dan perlindungan generasi muda.
Ketua PD Salimah Kabupaten Lebak, Yuni Lestari, menilai temuan kasus HIV harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat sistem pencegahan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Menurutnya, upaya tersebut tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan, tetapi juga perlu melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
“Temuan kasus HIV/AIDS menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem pencegahan yang terintegrasi dan berkelenjutan, dengan melibatkan keluarga, sekolah dan masyarakat,”kata Yuni Lestari, di Rangkasbitung, Jumat (23/10/2026)
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, sebanyak 85 kasus baru HIV ditemukan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, jumlah kumulatif orang dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Lebak mencapai 788 orang hingga Agustus 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Lebak, Nining Tilawah, mengatakan 17 dari 85 kasus baru yang ditemukan pada periode tersebut berasal dari kelompok LGBT.
Nining menjelaskan, sejumlah faktor yang memengaruhi penularan HIV antara lain mobilitas masyarakat yang tinggi dan masih rendahnya pemahaman mengenai perilaku seksual yang aman.
Dinkes Lebak terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan penyuluhan mengenai HIV/AIDS, terutama bagi pelajar dan generasi muda.
“Sebagai langkah preventif kita terus berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait, untuk gencar melaksanakan penyuluhan bahaya HIV/AIDS, terutama bagi kalangan pelajar dan generasi muda,” kata Nining.
Selain penyuluhan, Dinkes Lebak mendorong penguatan layanan voluntary counseling and testing (VCT) atau konseling dan tes HIV secara sukarela. Pemerintah juga mendorong akses pengobatan antiretroviral (ARV) bagi orang yang terdiagnosis HIV. Pengobatan perlu dijalani secara teratur sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Menanggapi data tersebut, Yuni menegaskan bahwa pencegahan perlu dilakukan sejak dini dengan melibatkan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak.
“Pemerintah jangan hanya bergerak ketika kasus sudah muncul. Pencegahan harus diperkuat dari hulu, dimulai dari keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat,” tegas Yuni.
Salimah menyampaikan lima rekomendasi kepada Pemkab Lebak untuk memperkuat pencegahan HIV/AIDS sekaligus membangun ketahanan keluarga.
Pertama, memperkuat ketahanan keluarga. Salimah mendorong keluarga menjadi fondasi pembangunan masyarakat melalui penguatan nilai-nilai agama, komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak, serta tanggung jawab bersama dalam membentuk karakter generasi muda.
Kedua, meningkatkan edukasi dan pendampingan orang tua. Orang tua perlu memberikan pemahaman kepada anak mengenai kesehatan reproduksi, pergaulan yang sehat, dan penggunaan teknologi digital secara bijak. Pengawasan aktivitas digital juga perlu disertai komunikasi terbuka agar anak merasa aman ketika menyampaikan persoalan yang dihadapi.
Ketiga, memperluas edukasi dan deteksi dini HIV/AIDS. Pemkab Lebak melalui Dinkes dan instansi terkait didorong memperkuat sosialisasi mengenai penularan dan pencegahan HIV, pemeriksaan sukarela, serta akses pengobatan. Edukasi perlu menjangkau pelajar, generasi muda, keluarga, dan komunitas masyarakat untuk meluruskan informasi yang keliru mengenai HIV.
Keempat, mengedepankan edukasi, pendampingan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Salimah menegaskan bahwa perbedaan pandangan sosial dan keagamaan tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan kekerasan, persekusi, atau diskriminasi. Masyarakat yang membutuhkan bantuan harus memperoleh akses terhadap informasi kesehatan, pendampingan psikologis, dan layanan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kelima, memperkuat sinergi lintas sektor. Salimah mendorong kerja sama antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, sekolah, dan keluarga dalam menjalankan program ketahanan keluarga, edukasi kesehatan, perlindungan anak, serta pembinaan masyarakat melalui sekolah dan majelis taklim.
“Jangan sampai keluarga dibiarkan menghadapi persoalan ini sendirian. Pemerintah harus hadir memberikan sistem pendampingan, edukasi, dan layanan yang bisa diakses masyarakat,” ujar Yuni.
Ia menambahkan, penguatan ketahanan keluarga tidak boleh berhenti sebagai slogan atau wacana. Pemerintah perlu menerjemahkannya menjadi program nyata dengan sasaran yang jelas, dukungan anggaran, indikator keberhasilan, dan evaluasi berkala.
Menurut Yuni, pencegahan juga harus berjalan beriringan dengan penguatan layanan kesehatan. Orang dengan HIV perlu memperoleh akses pemeriksaan, pengobatan ARV, dan pendampingan tanpa stigma agar dapat menjalani pengobatan secara berkelanjutan.
Terkait pandangan keagamaan mengenai LGBT, Salimah menyatakan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam tentang keluarga. Namun, organisasi tersebut menegaskan bahwa pandangan keagamaan tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan atau diskriminasi.
Salimah juga menekankan bahwa pencegahan HIV perlu didasarkan pada informasi kesehatan yang benar dan menjangkau semua kelompok yang membutuhkan layanan.
“Kalau kita serius ingin melindungi generasi muda Lebak, ketahanan keluarga harus ditempatkan sebagai agenda bersama. Pemerintah harus memimpin gerakan ini dan masyarakat harus menjadi mitranya,” tegas Yuni.
Ia berharap lima rekomendasi tersebut menjadi pertimbangan Pemkab Lebak dalam menyusun kebijakan pencegahan HIV/AIDS sekaligus memperkuat perlindungan keluarga dan anak.
Yuni mengajak pemerintah dan masyarakat memperkuat ketahanan keluarga melalui edukasi, komunikasi yang sehat, serta akses layanan kesehatan yang mudah dijangkau.
“Keluarga yang kuat, edukasi yang tepat, dan layanan kesehatan yang mudah diakses merupakan bagian penting dalam melindungi generasi penerus serta mewujudkan Kabupaten Lebak yang bermartabat dan berakhlak mulia,” kata Yuni.–(dian wahyudi)








