Sumedang, BantenGate.id–Keraton Sumedang Larang (KSL) terus mempertegas komitmennya dalam menjaga tradisi spiritual warisan leluhur. Setiap minggu pertama, keraton konsisten menggelar Manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jaelani bersama jemaah Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah (TQN) Suryalaya. Kegiatan yang sudah berlangsung empat kali berturut-turut ini mendapatkan apresiasi kuat dari masyarakat dan para ikhwan tarekat.
Radya Anom Keraton Sumedang Larang, R. Luky Djohari Soemawilaga, menegaskan bahwa manaqib bukan sekadar ritual seremonial, melainkan langkah nyata keraton dalam merawat akar spiritualitas masyarakat Sunda di tengah derasnya arus perubahan zaman.
“Manaqib ini merupakan upaya menjaga warisan leluhur. Keraton tidak ingin tradisi yang mengakar ini hilang begitu saja. Kegiatan ini harus terus hidup dan memberi manfaat luas,” ujar R. Luky Djohari Soemawilaga, kepada BantenGate.id, Minggu (7/12/25).

Acara Manaqib dihadiri Sri Radya Keraton Sumedang Larang H.R.I. Lukman Soemadisoera, keluarga besar KSL dan para jemaah TQN Suryalaya serta tokoh adat dari berbagai kota di Jawa Barat, berlangsung dengan khidmat namun tetap hangat, dipenuhi semangat kebersamaan. Usai pembacaan manaqib, doa bersama, dan tausiyah menjadi rangkaian utama yang mengikat peserta dalam nuansa spiritual yang mendalam.
Ketua Panitia sekaligus Dewan Karesian Karaton Sumedang Larang, R. Endi Setiaji, menambahkan bahwa keberlanjutan kegiatan ini mencerminkan hubungan harmonis antara Keraton Sumedang Larang dan Ponpes Suryalaya—dua institusi yang memiliki peran besar dalam perjalanan budaya dan spiritual masyarakat Sunda.
“Ini perekat masyarakat, pembinaan akhlak, dan menjaga Sumedang tetap punya identitas spiritual,” kata R. Endi.
Keraton Sumedang Larang memastikan bahwa manaqib ini resmi menjadi agenda bulanan. Tradisi tersebut diharapkan mampu memperdalam spiritualitas, memperkuat identitas budaya lokal, serta mempererat persaudaraan di Sumedang.--(dimas)








