Oleh: Guru Muhir
(Pemerhati Budaya dan Sejarah)
Sejarah kadang menjadi terlalu sederhana setelah ditulis. Sebuah nama muncul dalam naskah. Nama itu kemudian dianggap sebagai nama wilayah kekuasaan. Dari sana lahir tafsir tentang daerah jajahan, lalu berkembang menjadi cerita penaklukan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Begitulah sebuah kata dalam naskah kuno dapat berubah menjadi sebuah keyakinan sejarah. Hubungan Majapahit dan Lombok berada dalam ruang persoalan tersebut. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana itu: benarkah tanah Sasak pernah ditaklukkan Majapahit?
Pertanyaan ini bukan untuk menolak hubungan Majapahit dengan Lombok. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut penting agar hubungan itu dibaca berdasarkan bukti, bukan semata-mata berdasarkan cerita yang sudah telanjur populer.
Salah satu sumber terpenting adalah Nāgarakeṛtāgama, kakawin karya Mpu Prapanca yang selesai ditulis pada 1365 M, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Dalam Pupuh XIV, muncul nama Lombok Mirah dan Saksak dalam rangkaian wilayah di sebelah timur Jawa. Dua nama ini menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan Majapahit dengan Lombok. Namun, ada satu persoalan mendasar: disebut dalam naskah tidak otomatis berarti ditaklukkan secara militer.
Di sinilah sejarah harus berhenti sejenak dan mulai bertanya.
Dalam Pupuh XIV, Mpu Prapanca menyebut sejumlah wilayah seperti Bali, Gurun, Taliwang, Dompo, Sapi, Sanghyang Api, Bima dan Seran. Setelah itu muncul penyebutan: “muwah tang i Gurun sanūṣa mangaran i Lombok Mirah, lawan tikang i Sākṣāk…”
Nama Lombok Mirah dan Sasak/Saksak inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam perdebatan sejarah Lombok. Secara sederhana, teks tersebut menunjukkan bahwa Lombok dan Saksak telah dikenal dalam cakrawala geografis-politik Majapahit abad XIV. Tetapi apakah itu berarti seluruh Lombok merupakan wilayah administratif Majapahit? Belum tentu.
Mpu Prapanca bukan penulis modern yang berdiri di luar objek yang ia tulis. Ia merupakan bagian dari lingkungan kerajaan. Nāgarakeṛtāgama juga merupakan karya sastra istana yang mengandung gambaran tentang kebesaran, wilayah, kekuasaan, agama dan kehidupan Majapahit.
Karena itu, teks tersebut harus dibaca sebagai sumber sejarah sekaligus karya sastra-politik. Perbedaan ini penting. Sebab jika sebuah naskah menyebut suatu wilayah, pertanyaan berikutnya bukan hanya “wilayah mana?”, melainkan juga “dalam hubungan seperti apa wilayah itu berada dengan Majapahit?”
Apakah Lombok Mirah adalah Lombok Barat?
Dalam sejumlah penafsiran lokal dan populer, Lombok Mirah kerap dikaitkan dengan Lombok Barat, sedangkan Saksak dikaitkan dengan masyarakat Sasak atau kawasan tertentu di Lombok. Penafsiran tersebut menarik, tetapi tidak semestinya langsung diperlakukan sebagai fakta final.
Identifikasi nama-nama geografis dalam Nagarakertagama memang telah lama menjadi perdebatan para ahli. Sejumlah peneliti sejak awal abad XX mencoba mencocokkan nama-nama dalam teks dengan wilayah geografis yang dikenal sekarang. Artinya, mengidentifikasi nama dalam naskah kuno adalah pekerjaan ilmiah tersendiri.
Maka, posisi yang lebih aman adalah mengatakan bahwa Lombok Mirah dan Saksak merupakan nama geografis atau etnografis yang tercatat dalam sumber Jawa Kuna abad XIV dan memiliki kaitan kuat dengan Lombok serta masyarakat Sasak. Sedangkan apakah Lombok Mirah secara tepat berarti Lombok Barat dan Saksak menunjuk kawasan tertentu di Lombok, masih membutuhkan penelitian lintas sumber.
Dari “Disebut” Menjadi “Ditaklukkan”
Ada tradisi dan historiografi kemudian yang menghubungkan Majapahit dengan ekspedisi serta penaklukan di Lombok. Nama Gajah Mada dan Senapati Nala pun sering muncul dalam cerita mengenai ekspansi Majapahit ke wilayah timur Nusantara. Namun, harus dibedakan antara bukti primer sezaman dan tradisi sejarah yang berkembang kemudian.
Pernyataan bahwa Prapanca mencatat Lombok merupakan fakta tekstual. Tetapi pernyataan bahwa Majapahit menaklukkan seluruh tanah Sasak adalah kesimpulan historis yang memerlukan bukti tambahan. Perbedaannya tampak kecil, tetapi dalam penelitian sejarah perbedaannya sangat besar.
Sebuah daftar wilayah dalam teks kerajaan tidak otomatis sama dengan laporan operasi militer. Apalagi konsep kekuasaan pada abad XIV tidak dapat begitu saja disamakan dengan konsep negara modern yang mengenal batas administratif, birokrasi, pemerintahan teritorial dan yurisdiksi yang jelas.
Majapahit beroperasi dalam dunia politik Nusantara yang jauh lebih cair. Hubungan antara pusat kekuasaan dan daerah dapat berbentuk penghormatan, upeti, hubungan elite, aliansi, perdagangan, jaringan keluarga, pengaruh budaya, maupun kekuasaan politik. Dengan kata lain, pengaruh tidak selalu berarti pendudukan.
Gajah Mada dan Bayang-Bayang Sumpah Palapa
Nama Gajah Mada hampir selalu muncul ketika membicarakan ekspansi Majapahit. Sumpah Palapa telah menjadi simbol politik perluasan pengaruh Majapahit. Tetapi menghubungkan secara otomatis setiap wilayah yang disebut dalam Nāgarakṛtāgama sebagai daerah yang ditaklukkan Gajah Mada juga merupakan penyederhanaan.
Nagarakertagama ditulis pada 1365, setelah periode penting ekspansi Majapahit. Prapanca menulis dalam konteks politik dan kebudayaan istana. Karena itu, daftar wilayah dalam kakawin tersebut lebih tepat dibaca sebagai bagian dari cakrawala geografis-politik Majapahit, bukan semata-mata daftar daerah yang pernah diduduki pasukan Majapahit. Di sinilah pendekatan historiografi kritis menjadi penting.
Ada alasan lain mengapa Lombok penting bagi Majapahit: letaknya. Lombok berada di antara Bali dan Sumbawa, sekaligus berada di jalur yang menghubungkan kawasan barat dan timur Nusantara. Pada masa ketika laut menjadi jalan raya utama, posisi geografis memiliki arti strategis. Kapal, manusia, barang, gagasan dan kebudayaan bergerak melintasi laut.
Karena itu, hubungan Majapahit-Lombok dapat dibaca bukan hanya melalui ekspansi politik, tetapi juga melalui jaringan pelayaran, perdagangan, hubungan antarelite, migrasi dan pertukaran kebudayaan. Dalam konteks ini, penyebutan Bali, Taliwang, Dompo, Bima, Lombok dan wilayah lainnya dalam Pupuh XIV menunjukkan luasnya dunia yang berada dalam cakrawala pengetahuan politik Majapahit. Lombok bukan pulau yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari jaringan kepulauan Nusantara.
Sasak Bukan Sekadar Objek Sejarah
Lalu bagaimana posisi masyarakat Sasak? Di sinilah penulisan sejarah perlu keluar dari cara pandang yang menempatkan masyarakat lokal hanya sebagai objek. Jika memang terjadi hubungan dengan Majapahit, bukan berarti masyarakat Sasak sekadar menerima begitu saja kebudayaan dari luar.
Kebudayaan tidak bekerja seperti cetakan. Masyarakat dapat menerima, menolak, memilih, mengubah dan menyesuaikan pengaruh yang datang dari luar dengan nilai-nilai mereka sendiri. Karena itu, perjumpaan Majapahit dan Lombok sebaiknya tidak dirumuskan secara sederhana sebagai: “Majapahit datang, Sasak menerima.” Melainkan: Majapahit datang sebagai kekuatan luar, sementara masyarakat Sasak menjadi subjek yang mengolah perjumpaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaannya sendiri. Cara pandang ini penting agar sejarah Sasak tidak kehilangan subjeknya.
Ironi Sejarah: Naskah Majapahit Ditemukan di Lombok
Ada sebuah ironi sejarah yang menarik. Nagarakṛtagama berbicara tentang Majapahit dan Lombok. Namun, naskah yang kemudian membuat dunia modern kembali mengenal karya Mpu Prapanca itu justru ditemukan di Lombok.
J.L.A. Brandes menemukan naskah tersebut di Puri Cakranegara pada 18 November 1894, dalam konteks ekspedisi militer Belanda ke Lombok. Temuan itu kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam studi mengenai Majapahit. Kajian monumental Theodore G. Th. Pigeaud, Java in the Fourteenth Century, juga menjadikan Nāgarakṛtāgama sebagai sumber utama untuk memahami Jawa abad XIV.
Ada paradoks di sana. Tanah yang pernah disebut dalam ingatan Majapahit ternyata menjadi tempat ditemukannya kembali salah satu ingatan terpenting tentang Majapahit. Apakah itu membuktikan kesinambungan langsung antara Majapahit dan Lombok? Tidak. Tetapi sebagai renungan sejarah, ia menyimpan makna yang menarik.
Jadi, Benarkah Tanah Sasak Ditaklukkan? Sampai di titik ini, jawabannya harus hati-hati.
Pertama, terdapat bukti primer bahwa nama Lombok Mirah dan Saksak muncul dalam Nāgarakṛtāgama abad XIV.
Kedua, terdapat tradisi dan historiografi kemudian yang menghubungkan Majapahit dengan ekspedisi dan penaklukan di Lombok.
Ketiga, identifikasi geografis Lombok Mirah dan Saksak masih memiliki ruang perdebatan ilmiah.
Keempat, Nāgarakṛtāgama adalah karya sastra-politik dari lingkungan kerajaan, bukan laporan militer modern.
Karena itu, kesimpulan yang lebih proporsional adalah: Majapahit memiliki hubungan politik dan jaringan pengaruh yang menjangkau Lombok pada abad XIV. Namun, bukti yang tersedia belum cukup untuk menyederhanakan hubungan tersebut sebagai bukti bahwa seluruh tanah Sasak ditaklukkan dan diperintah secara administratif langsung oleh Majapahit.
Hubungannya dapat dikatakan kuat. Tetapi bentuk kekuasaannya masih harus terus diteliti.
Pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang siapa yang menaklukkan dan siapa yang ditaklukkan. Sejarah juga tentang siapa yang bertahan, bagaimana masyarakat beradaptasi, dan bagaimana sebuah perjumpaan kebudayaan membentuk identitas pada masa berikutnya.
Majapahit adalah bagian dari sejarah Nusantara. Sasak juga bagian dari sejarah Nusantara. Maka pertemuan keduanya tidak semestinya dibaca hanya sebagai cerita tentang kekuasaan satu pihak atas pihak lain.
Mpu Prapanca meninggalkan dua nama yang terus menggoda para peneliti: Lombok Mirah dan Saksak. Berabad-abad kemudian, tugas kita bukan sekadar mengulang nama tersebut sebagai slogan sejarah.
Tugas kita adalah membaca, menguji, membandingkan dan menafsirkannya dengan pikiran yang merdeka. Sebab sejarah yang baik tidak takut pada pertanyaan. Justru dari pertanyaanlah sejarah menjadi ilmu. Dan pertanyaan “Benarkah tanah Sasak pernah ditaklukkan Majapahit?” mungkin bukan akhir dari sebuah penelitian. Ia justru bisa menjadi pintu masuk untuk memahami sesuatu yang lebih besar: bukan sekadar jejak penaklukan, melainkan jejak perjumpaan kebudayaan antara Majapahit, Lombok dan masyarakat Sasak dalam sejarah panjang.–(***)
*). Penulis tinggal di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat








