Santri Ponpes Al Bayan Rangkasbitung, Tolak Perluasan Pabrik PT. Aplus Pasific

Santri Ponpes Al Bayan Rangkasbitung, Tolak Perluasan Pabrik PT. Aplus Pasific
Santri Ponpes AL Bayan Rangkasbitung, menolak perluasan pabrik PT. Aplus.--(Foto: ist)

Lebak, BantenGate.id — Santri dan alumni Pondok Pesantren Al Bayan, Desa Nameng, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, menolak rencana perluasan pabrik PT Aplus Pacific hingga mendekati bahkan berbatasan dengan area pesantren. Mereka menilai perluasan tersebut berpotensi mengganggu aktivitas pendidikan dan ibadah serta mengancam kenyamanan santri akibat debu, kebisingan dan aktivitas kendaraan berat di sekitar pesantren.

Penolakan tersebut disampaikan setelah aktivitas di sekitar kawasan pabrik dinilai mulai dirasakan dampaknya oleh para santri. Debu disebut masuk ke ruang kelas dan masjid, sementara suara kendaraan berat terdengar ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Muhammad Haidar Ali, pengurus sekaligus santri Pondok Pesantren Al Bayan, mengatakan kondisi tersebut membuat lingkungan belajar dan ibadah menjadi kurang nyaman.

“Debu cukup terasa dan masuk ke area ruang kelas maupun masjid. Sudah dibersihkan, tetapi tidak lama kemudian kotor lagi. Ini tentu membuat kegiatan belajar dan ibadah menjadi kurang nyaman,” kata Haidar kepada wartawan Bantengate.id, pada  Senin (14/9/2026).

Area perluasan pabrik PT. Aplus, rapat dengan asrama santri Ponpes Al Bayan.–(Foto: BG)

Menurut Haidar, persoalan bukan hanya debu. Aktivitas kendaraan berat di sekitar pesantren juga menimbulkan suara yang terdengar hingga ke ruang belajar. Karena itu, santri meminta rencana pengembangan pabrik tidak dilakukan hingga mendekati atau berbatasan langsung dengan kawasan Pondok Pesantren Al Bayan.

“Kami berharap ada solusi yang baik bagi semua pihak. Kami ingin tetap bisa belajar dan beribadah dengan nyaman, sementara kegiatan perusahaan juga dapat berjalan sesuai ketentuan,” ujarnya.

Minta Manajemen APLUS Turun Langsung

Sementara, Ketua Bidang Kesiswaan Pondok Pesantren Al Bayan, Ustaz Mugni Tamin, mengatakan pihak pesantren tidak menutup ruang  komunikasi dengan PT Aplus Pacific. Namun, ia meminta persoalan tersebut dibahas langsung bersama manajemen perusahaan agar setiap persoalan dapat memperoleh keputusan yang jelas.

“Kami berharap bisa berkomunikasi langsung dengan pihak manajemen APLUS. Kalau ada persoalan, mari kita duduk bersama dan mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak,” ujar Mugni.

Menurut Mugni, komunikasi dengan petugas maupun pekerja di lapangan sebelumnya sudah pernah dilakukan. Namun, persoalan yang membutuhkan keputusan manajemen belum dibahas secara menyeluruh.

Ia juga menyebut adanya informasi mengenai pembicaraan sebelumnya terkait pengembangan aktivitas APLUS. Dalam pembicaraan tersebut, menurut Mugni, pernah disampaikan bahwa perluasan aktivitas perusahaan tidak dilakukan hingga mendekati area pesantren.

“Kami tidak ingin persoalan ini menjadi konflik. Yang kami harapkan adalah komunikasi yang baik dan keterbukaan. Kalau ada persoalan, mari dibicarakan bersama,” katanya.

Alumni  Ponpes Ikut Menolak
Petugas Pol PP Kabupaten Lebak, meninjau lokasi perluasan pabrik PT. Aplus, –(Foto: BG)

Penolakan juga datang dari kalangan alumni Pondok Pesantren Al Bayan. Ustad Muhammad Gozali, Pemimpin Pondok Pesantren Al Ma’arij, Cihara, Banten Kidul, yang merupakan alumni Al Bayan, mengatakan perluasan pabrik PT. Aplus terlalu dekat dan bahkan nyaris rapat dengan area pesantren, sehingga  perlu mendapat perhatian serius semua pihak.

Menurut Ustad Gozali, perluasan area PT Aplus berpotensi mengganggu aktivitas pendidikan dan ibadah, termasuk keamanan serta kenyamanan santri yang tengah menuntut ilmu agama. Selain itu, ia mengkhawatirkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan pabrik.

“Alasan kami para alumni adalah karena perluasan tersebut dinilai tidak sejalan dengan semangat keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan yang berdampingan dengan lingkungan sekitarnya,” ujar Gozali.

Ustad Gozali, bersama  Ustad Ajat Sudrajat Pemimpin Ponpes Al-Fatihah Tambak Baya, Rangkasbitung, Ust Dede Fajrin, Pemimpin Ponpes An-Nida, Bogor, Ust Asmara Pemimpin Ponpes Afwaja, Labuan Kabupaten Pandeglang, Ust Ahmad Salahudin Pemimpin Ponpes Ak-Kautsar Pamarayan Kabupaten Serang, Ust Zaenal Abidin Pemimpin Ponpes Lan-Tabur Serang dan seluruh alumni Ponpes Al Bayan, akan turun menghentikan rencana perluasan pabrik PT. Aplus, jika memaksakan perluasannya merapat ke batas tembok  pesantren.

Bupati Lebak Akan Pelajari Persoalan

Penolakan santri terhadap rencana perluasan pabrik PT. APLUS tersebut mendapat perhatian Bupati Lebak Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya.

Usai melantik Halson Nainggolan sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Lebak di Pendopo Kabupaten Lebak, Senin (14/9/2026), Hasbi mengatakan akan mempelajari terlebih dahulu persoalan tersebut.

“Saya akan pelajari dulu informasi ini, karena menyangkut kepentingan orang banyak,” kata Hasbi.

Sementara itu, pantauan di lokasi pada Senin (14/9/2026) sore, menunjukkan sejumlah petugas Satpol PP bersama aparat lainnya mendatangi kawasan Pondok Pesantren Al Bayan. Petugas terlihat berdialog dengan pengurus pesantren terkait persoalan rencana perluasan aktivitas pabrik APLUS.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, Selasa (15/9/2026) besok, akan digelar audiensi antara pimpinan Pondok Pesantren Al Bayan dengan manajemen PT Aplus Pacific. Audiensi tersebut diharapkan menjadi ruang dialog untuk membahas keberatan pesantren sekaligus mencari solusi atas dampak aktivitas perusahaan di sekitar lingkungan pesantren.

PT Aplus Pacific yang berlokasi di Desa Nameng, Kecamatan Rangkasbitung, merupakan perusahaan yang memproduksi berbagai bahan bangunan berbasis gypsum dan mortar instan. Produk yang diproduksi antara lain papan gypsum, gypsum compound, casting plaster atau bubuk gypsum, serta mortar instan seperti skim coat, plester bata ringan dan perekat ubin.

Hingga berita ini ditayangkan, media BantenGate.id  belum berhasil mendapat penjelasan dari  managamenet PT. Aplus–(Tim BG)

Pos terkait