Tanah Surosowan dan Wiwitan Baduy: Jejak Budaya Banten di Ibu Kota Nusantara

SERANG, BANTENGATE.ID — Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy, bertolak ke bakal Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur dengan pesawat komersil dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, sekitar pukul 13.30, Minggu (13/3/2022). Keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan dinas biasa — Andika membawa serta dua simbol akar peradaban Banten: tanah Wiwitan dari Baduy dan tanah Surosowan dari kawasan Keraton Banten Lama.

Banten Kirim Dua Akar Peradaban ke IKN

Dalam rangkaian acara Kendi Nusantara yang digelar Presiden Joko Widodo, seluruh kepala daerah provinsi di Indonesia diundang untuk membawa tanah dan air dari daerahnya masing-masing. Tanah dan air dari 34 provinsi tersebut kemudian disatukan dalam sebuah kendi khusus bernama Kendi Nusantara sebagai simbol persatuan Indonesia di ibu kota baru.

Provinsi Banten memilih dua tempat yang dianggap paling mewakili akar budaya dan sejarahnya: Baduy di Kabupaten Lebak dan Keraton Surosowan di Banten Lama, Kota Serang. Selain tanah, Andika juga membawa kendi berisi air Tirtayasa dari kawasan Tirtayasa, Kabupaten Serang.

“Ini hasil konsultasi kami di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan para ahli kebudayaan dan sejarah, sehingga akhirnya terpilih Baduy dan Keraton Surosowan sebagai tanah dan air Tirtayasa yang spesifik sebagai akar kebudayaan dan sejarah masyarakat Banten,” jelas Andika.

Wiwitan Baduy: Desa Adat yang Tak Ada Duanya

Baduy adalah komunitas adat yang hidup di pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Mereka dikenal sebagai salah satu kelompok masyarakat adat paling terjaga di Indonesia — bahkan di dunia — karena konsistensinya mempertahankan tradisi leluhur di tengah arus modernisasi.

Masyarakat Baduy terbagi menjadi dua kelompok besar:

  • Baduy Dalam (Kanekes) — hidup tanpa listrik, tanpa alas kaki, dan menolak semua teknologi modern
  • Baduy Luar — sedikit lebih terbuka terhadap dunia luar namun tetap menjaga adat istiadat

Wiwitan dalam tradisi Baduy merupakan ritual penghormatan kepada leluhur dan tanah sebagai sumber kehidupan. Tanah Wiwitan yang dibawa ke IKN bukan sekadar tanah biasa — ini adalah simbol filosofi hidup orang Baduy yang percaya bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam.

Andika menegaskan bahwa Baduy adalah desa adat khas Banten yang tidak ada persamaannya dengan daerah-daerah lain di Indonesia maupun negara lainnya. Keunikan inilah yang membuat tanah Baduy layak mewakili Banten di panggung nasional pembangunan IKN.

Keraton Surosowan: Cikal Bakal Peradaban Banten Modern

Sementara itu, Keraton Surosowan adalah situs bersejarah yang menjadi pusat Kesultanan Banten pada masa kejayaannya di abad ke-16 hingga ke-19. Terletak di kawasan Banten Lama, Kota Serang, keraton ini pernah menjadi salah satu pusat perdagangan dan peradaban Islam terpenting di Nusantara.

Pada puncak kejayaannya di era Sultan Ageng Tirtayasa (berkuasa 1651–1682), Kesultanan Banten menguasai jalur perdagangan lada di Selat Sunda dan memiliki hubungan diplomatik dengan berbagai negara Eropa. Pelabuhan Banten menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara kala itu.

Keraton Surosowan kini berdiri sebagai situs arkeologi yang menyimpan sisa-sisa kejayaan masa lalu — fondasi bangunan megah, sumur tua, dan tembok tebal yang masih bisa disaksikan hingga hari ini. Bagi masyarakat Banten, Surosowan bukan sekadar reruntuhan — ia adalah identitas dan kebanggaan kolektif.

“Keraton Surosowan adalah cikal bakal peradaban Banten modern hari ini,” kata Andika menegaskan alasan pemilihan tanah dari lokasi bersejarah tersebut.

Air Tirtayasa: Warisan Sistem Pengairan Sultan Ageng

Selain tanah, Andika juga membawa air dari kawasan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Pemilihan ini bukan tanpa alasan — nama Tirtayasa sendiri berasal dari nama besar Sultan Ageng Tirtayasa yang terkenal membangun sistem pengairan persawahan canggih di kawasan tersebut pada abad ke-17.

Sistem irigasi yang dibangun Sultan Ageng Tirtayasa pada masanya merupakan salah satu yang paling maju di Nusantara, mencerminkan kemampuan teknik dan visi pembangunan yang jauh ke depan. Air dari Tirtayasa yang dibawa ke IKN menjadi simbol semangat membangun dan inovasi yang kini ingin diteruskan di ibu kota baru Indonesia.

Ritual Kendi Nusantara: Simbol Persatuan di Ibu Kota Baru

Acara Kendi Nusantara yang digelar di geodesi IKN pada Senin (14/3/2022) menjadi momen bersejarah. Seluruh kepala daerah provinsi dari Sabang sampai Merauke berkumpul, masing-masing membawa tanah dan air yang mewakili jiwa daerahnya.

Presiden Joko Widodo memimpin langsung ritual penyatuan tanah dan air dari 34 provinsi tersebut ke dalam Kendi Nusantara — sebuah simbol bahwa ibu kota baru bukan milik satu suku atau satu daerah, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia.

Bagi Banten, keikutsertaan dalam ritual ini menegaskan bahwa meski muda sebagai provinsi (berdiri tahun 2000), akar sejarah dan budayanya sudah tertancap jauh sebelum Indonesia merdeka.

Banten dan IKN: Kontribusi Sejarah untuk Masa Depan

Keberangkatan Wagub Andika Hazrumy ke IKN dengan membawa tanah Surosowan, tanah Wiwitan Baduy, dan air Tirtayasa adalah pernyataan simbolik yang kuat: Banten hadir dalam sejarah pembangunan Indonesia, bukan hanya sebagai penonton.

Pilihan ketiga simbol tersebut juga mencerminkan kekayaan Banten yang jarang disadari banyak orang — provinsi ini menyimpan warisan budaya, adat, dan sejarah yang luar biasa kaya, dari masyarakat adat Baduy yang otentik hingga situs kesultanan Islam yang pernah berjaya di panggung dunia.

Kisah tanah dan air Banten yang kini bersemayam di IKN menjadi pengingat bahwa pembangunan masa depan Indonesia selalu berakar pada kekayaan masa lalunya.

Pos terkait