Timbanganten, Kerajaan yang Pernah Berjaya di Kaki Gunung Guntur

Timbanganten, Kerajaan yang Pernah Berjaya di Kaki Gunung Guntur

Oleh: Edi Murpik (Abah Kasep)

Di kaki Gunung Guntur, di kawasan yang kini dikenal sebagai Tarogong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tersimpan jejak sejarah tentang sebuah kerajaan yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan Tatar Sunda. Namanya Timbanganten.

Kerajaan ini bukan sekadar cerita tentang pergantian penguasa dan perebutan wilayah, melainkan juga kisah tentang garis keturunan, perpindahan pusat kekuasaan, dan warisan masa lalu yang jejaknya masih dapat ditelusuri melalui naskah kuno serta makam-makam leluhur.

Hari ini, kehidupan di Tarogong bergerak dalam irama zaman modern. Jalan-jalan ramai, permukiman tumbuh, dan aktivitas ekonomi terus berkembang. Namun, di balik wajah kawasan yang semakin sibuk itu, tersimpan ingatan tentang masa ketika wilayah tersebut dipercaya menjadi pusat pemerintahan sebuah kerajaan di Tatar Sunda.

Timbanganten mengingatkan kita bahwa sejarah suatu daerah tidak selalu tersimpan dalam bangunan megah atau benda-benda peninggalan kerajaan. Kadang-kadang, ia bertahan melalui naskah yang diwariskan lintas generasi, nama tempat yang terus digunakan, dan makam leluhur yang masih dihormati masyarakat.

Kisah Kerajaan Timbanganten berawal dari Kerajaan Mandala di Puntang, yang dalam sumber sejarah lokal dikaitkan dengan kawasan Panembong, Bayongbong, Kabupaten Garut.

Dalam tulisan sejarah yang dirujuk dari Tatar Garut terbitan 2007, Timbanganten disebut sebagai kelanjutan dari kerajaan tersebut. Perubahan itu berlangsung ketika Prabu Derma Kingkin, yang disebut sebagai nalendra atau penguasa terakhir Mandala di Puntang, memindahkan pusat kekuasaan ke wilayah sekitar Gunung Guntur.

Perpindahan tersebut menandai babak baru perjalanan kekuasaan di kawasan Garut. Nama Mandala di Puntang kemudian dikaitkan dengan Kerajaan Timbanganten, yang wilayahnya diperkirakan mencakup kawasan Tarogong dan sejumlah daerah di sekitarnya.

Keputusan memindahkan pusat pemerintahan tentu bukan sekadar perubahan lokasi. Dalam perjalanan sebuah kerajaan, perpindahan pusat kekuasaan dapat menandai perubahan strategi, perkembangan permukiman, sekaligus pembentukan identitas politik baru.

Meski demikian, rincian mengenai proses perpindahan tersebut masih perlu dibaca secara hati-hati. Sejarah Timbanganten banyak bertumpu pada tradisi lokal dan naskah silsilah, sehingga sejumlah kisahnya memerlukan kajian lebih lanjut melalui perbandingan sumber sejarah.

Di sinilah kisah Timbanganten menjadi menarik. Ia memperlihatkan bagaimana ingatan kolektif masyarakat berusaha merangkai masa lalu, menghubungkan satu generasi dengan generasi berikutnya, dan mempertahankan identitas sebuah wilayah.

Para penguasa dan jejak keturunan

Prabu Derma Kingkin menempati posisi penting dalam cerita asal-usul Timbanganten. Dalam sumber yang sama, ia disebut memiliki sejumlah putra yang kemudian dikaitkan dengan berbagai wilayah di Garut dan daerah sekitarnya.

Nama-nama yang muncul dalam tradisi tersebut antara lain Sunan Kacue atau Baginda Salemba, Sunan Ranggalawe, Dalem Cicabe di kawasan Suci Garut, Dalem Cibeureum di Korobokan Limbangan, Dalem Kandang Serang di Cilolohan, dan Dalem Kowang di Pagaden, Subang.

Daftar nama tersebut menunjukkan bagaimana silsilah keluarga penguasa menjadi bagian penting dalam merekam hubungan antardaerah. Kekuasaan tidak hanya dipahami sebagai urusan seorang raja yang memerintah dari pusat kerajaan, tetapi juga sebagai jaringan keluarga yang menyebar ke berbagai tempat.

Dalam masyarakat Sunda tradisional, gelar seperti sunan, dalem, dan nalendra memiliki konteks penggunaan yang berkaitan dengan kedudukan sosial, kepemimpinan, atau tradisi setempat. Namun, pemaknaan setiap gelar dalam silsilah Timbanganten perlu ditempatkan sesuai konteks sumbernya.

Salah satu hal yang menarik adalah keterkaitan antara Timbanganten dan wilayah Bandung. Dalam tradisi sejarah yang dihimpun melalui naskah Sadjarah Bandung, kawasan Timbanganten disebut memiliki hubungan erat dengan perkembangan Tatar Ukur, wilayah yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah pembentukan Kabupaten Bandung.

Dengan demikian, kisah Timbanganten tidak berhenti pada batas-batas geografis Garut. Jejaknya merentang ke wilayah yang lebih luas, mengikuti perubahan hubungan politik dan pemerintahan di Priangan.

Tatar Ukur dan pergolakan kekuasaan di Priangan

Untuk memahami posisi Timbanganten, kita perlu menengok situasi politik di Jawa Barat pada abad ke-16 dan ke-17.

Pada masa itu, wilayah Priangan mengalami perubahan kekuasaan yang besar. Kerajaan Sunda-Pajajaran kehilangan pusat kekuasaannya pada akhir abad ke-16. Setelah itu, pengaruh Sumedang Larang menguat di sejumlah wilayah bekas kekuasaan Pajajaran.

Dalam perkembangan berikutnya, Sumedang Larang berada di bawah pengaruh Mataram pada 1620. Perubahan tersebut berkaitan dengan kebijakan Sultan Agung yang berusaha memperluas kendali politiknya atas Priangan sekaligus memperkuat pertahanan wilayah bagian barat.

Di tengah perubahan itu, muncul nama Dipati Ukur, tokoh yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Tatar Ukur.

Menurut tradisi sejarah yang berkembang, Dipati Ukur memimpin wilayah luas di Priangan dan terlibat dalam upaya Mataram menyerang VOC di Batavia pada 1628. Serangan tersebut gagal. Setelah itu, Dipati Ukur tidak kembali untuk mempertanggungjawabkan kegagalan tugasnya kepada Mataram.

Sikap tersebut kemudian dipandang sebagai pembangkangan terhadap kekuasaan Sultan Agung. Konflik pun berkembang menjadi pergolakan politik yang melibatkan Dipati Ukur dan sejumlah pengikutnya.

Dalam tradisi Babad Sumedang, Dipati Ukur disebut tertangkap di Gunung Lumbung, Bandung, pada 1632. Namun, detail mengenai perjalanan, akhir perlawanan, dan nasib para pengikutnya masih menjadi bagian sejarah yang perlu ditelaah berdasarkan beragam sumber.

Pergolakan tersebut membawa dampak besar terhadap tatanan pemerintahan di Priangan. Setelah perlawanan Dipati Ukur berakhir, Mataram melakukan penataan ulang pemerintahan dengan membentuk sejumlah kabupaten.

Ki Asta Manggala diangkat sebagai Bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wirangunangun. Ki Tanubaya menjadi Bupati Parakanmuncang, sedangkan Ngabehi Wirawangsa menjadi Bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha.

Peristiwa ini menjadi titik penting dalam perubahan struktur kekuasaan di Priangan. Wilayah yang sebelumnya terhubung dalam tradisi kekuasaan Tatar Ukur perlahan memasuki sistem pemerintahan kabupaten yang lebih terstruktur di bawah pengaruh Mataram.

Bagi Timbanganten, perubahan tersebut menandai peralihan dari kisah kerajaan menuju babak baru dalam sejarah pemerintahan daerah.

Dua ratus cacah: sisa sebuah masa lalu

Ada satu keterangan dalam naskah Sadjarah Bandung yang menarik perhatian. Ketika Tumenggung Wirangunangun kembali dari Mataram menuju wilayah yang menjadi tanggung jawabnya, ia disebut terlebih dahulu datang ke Timbanganten dan memperoleh 200 cacah.

Dalam konteks pemerintahan tradisional, istilah cacah umumnya merujuk pada satuan penduduk atau rumah tangga yang menjadi bagian dari administrasi dan kewajiban pemerintahan. Karena itu, angka 200 cacah tidak serta-merta dapat diterjemahkan sebagai 200 orang.

Keterangan tersebut memberi gambaran tentang perubahan besar yang terjadi di wilayah Timbanganten setelah pergolakan politik pada masa Dipati Ukur. Namun, angka itu juga perlu dipahami sesuai konteks naskah dan sistem pencatatan penduduk pada zamannya.

Dari Timbanganten, Tumenggung Wirangunangun kemudian membangun pusat pemerintahan di Krapyak, dekat pertemuan Sungai Citarum dan Sungai Cikapundung. Kawasan tersebut menjadi cikal bakal pusat pemerintahan Kabupaten Bandung pada masa awal pembentukannya.

Hubungan ini memperlihatkan bahwa sejarah Timbanganten bukan hanya bagian dari cerita Garut, melainkan juga terhubung dengan pembentukan pemerintahan Bandung.

Di antara perubahan kekuasaan, perpindahan pusat pemerintahan, dan pembentukan kabupaten, Timbanganten tetap menjadi simpul penting untuk memahami bagaimana wilayah Priangan berkembang.

Naskah kuno yang menjaga ingatan leluhur

Salah satu sumber penting untuk menelusuri sejarah Timbanganten adalah naskah Sajarah Turunan Timbanganten.

Menurut uraian Asep Harsono HS., S.Sos., M.Si., yang dimuat dalam tulisan Tatar Garut pada 2007, naskah tersebut merupakan salah satu naskah kuno yang ditemukan di Kabupaten Garut.

Naskah itu berukuran sekitar 21 x 29 sentimeter, dengan ruang tulisan 19 x 27 sentimeter dan ketebalan 32 halaman. Teksnya ditulis dalam bentuk prosa menggunakan aksara Arab Pegon, yakni aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa daerah atau bahasa lokal.

Isi naskah berpusat pada sejarah keturunan penguasa Timbanganten dan hubungan silsilahnya dengan keluarga bangsawan Bandung. Garis keturunan dalam naskah tersebut dirangkai melalui tokoh-tokoh yang dikenal dalam tradisi sejarah dan genealogis Sunda, mulai dari Nabi Adam, Nabi Muhammad, Ratu Galuh, Ciung Wanara, hingga Prabu Siliwangi.

Silsilah seperti ini tidak selalu dapat dibaca sebagai catatan kronologis yang seluruh unsurnya sudah terverifikasi secara historis. Namun, naskah tersebut tetap penting sebagai sumber untuk memahami cara masyarakat masa lalu menyusun ingatan, menempatkan leluhur, dan menjelaskan legitimasi kekuasaan.

Lebih dari sekadar daftar nama, naskah kuno merupakan jendela menuju dunia pemikiran masyarakat yang melahirkannya.

Melalui naskah itu, kita dapat melihat bahwa sejarah kerajaan tidak hanya berkaitan dengan perang atau wilayah kekuasaan. Ada pula ingatan tentang perkawinan, hubungan kekerabatan, perpindahan tempat, dan penghormatan terhadap leluhur.

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan naskah seperti Sajarah Turunan Timbanganten menjadi pengingat bahwa warisan sejarah tidak cukup hanya disebutkan dalam cerita lisan. Naskah perlu dirawat, dialihaksarakan, dikaji, dan diperkenalkan kepada generasi muda agar isinya tidak terputus dari kehidupan masyarakat.

Dari Sunan Dayeuh Manggung hingga para penerusnya

Dalam silsilah yang dihimpun pada tulisan tersebut, perjalanan kekuasaan Timbanganten juga dikaitkan dengan sejumlah tokoh lain.

Setelah masa Derma Kingkin, Sunan Ranggalawe disebut meneruskan kepemimpinan dan berpusat di Korobokan. Sesudahnya, tradisi silsilah menyebut nama Sunan Kaca, Sunan Tumenggung Pateon, Sunan Pari, Sunan Pangadegan, Sunan Demang, Sunan Sanugiren, Demang Wirakrama, dan sejumlah penerus lainnya.

Sebagian nama dikaitkan dengan lokasi pemakaman tertentu. Sunan Pangadegan, misalnya, disebut dimakamkan di Pulau Cangkuang. Tokoh-tokoh lain dikaitkan dengan kawasan Sarsitu, Tanjung Kamuning, Tenjolaya Timbanganten, hingga Tarik Kolor di Bandung.

Lokasi-lokasi tersebut memberi arah bagi penelitian sejarah lokal. Makam leluhur, apabila dapat diidentifikasi secara meyakinkan dan diteliti dengan metode yang tepat, berpotensi menjadi sumber informasi mengenai tradisi pemakaman, perkembangan permukiman, dan ingatan genealogis masyarakat.

Namun, keberadaan makam yang dikaitkan dengan tokoh tertentu tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh kisah tentang tokoh tersebut. Hubungan antara nama, lokasi, dan periode sejarah tetap perlu diperiksa melalui kajian naskah, tradisi lisan, bukti arkeologis, serta sumber tertulis lainnya.

Justru di situlah pekerjaan penting bagi para pemerhati sejarah lokal: bukan sekadar mengulang cerita, melainkan merawatnya sekaligus menguji ketepatan informasi agar warisan budaya dapat dipahami secara bertanggung jawab.

Tarogong dan identitas yang tak boleh hilang

Wilayah yang dalam tradisi sejarah disebut Kadaleman Timbanganten kini mencakup sejumlah kawasan di Kabupaten Garut, antara lain Tarogong Kaler, Tarogong Kidul, Samarang, Leles, dan Kadungora.

Perubahan nama dan batas wilayah sepanjang sejarah membuat hubungan antara wilayah kerajaan lama dan wilayah administratif modern tidak selalu dapat dipetakan secara persis. Karena itu, cakupan Timbanganten pada masa lampau perlu dipahami sebagai rekonstruksi berdasarkan sumber yang tersedia, bukan sebagai batas administratif yang sudah pasti.

Meski demikian, hubungan historis tersebut membuka ruang bagi masyarakat Garut untuk mengenali daerahnya dari sudut pandang yang lebih luas.

Tarogong bukan hanya ruang tempat orang bekerja, bersekolah, berdagang, dan membangun rumah. Kawasan ini juga menyimpan lapisan masa lalu yang menghubungkannya dengan sejarah kerajaan, pemerintahan tradisional, dan perkembangan masyarakat Sunda.

Kesadaran semacam itu penting karena modernisasi sering kali membuat sejarah lokal terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Nama kerajaan hanya menjadi bahan pelajaran, sementara hubungan antara tempat tinggal, leluhur, dan perjalanan daerah perlahan terlupakan.

Padahal, mengenal sejarah daerah dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan sekaligus mendorong masyarakat menjaga peninggalan budaya yang masih tersisa.

Upaya itu dapat dimulai dari hal sederhana: mendokumentasikan cerita para sesepuh, mengidentifikasi naskah kuno, merawat makam bersejarah, menelusuri asal-usul nama tempat, serta membuka ruang diskusi antara budayawan, sejarawan, pemerintah, dan masyarakat.

Dengan cara tersebut, sejarah tidak hanya menjadi milik kalangan akademisi, tetapi juga hadir dalam kehidupan masyarakat.

Timbanganten, warisan yang menunggu untuk dibaca kembali

Kisah Timbanganten memperlihatkan perjalanan panjang sebuah wilayah: bermula dari tradisi Kerajaan Mandala di Puntang, berkembang di kawasan sekitar Gunung Guntur, terhubung dengan Tatar Ukur, kemudian mengalami perubahan besar ketika kekuasaan Mataram membentuk ulang pemerintahan di Priangan.

Di balik rangkaian peristiwa itu, tersimpan pula cerita mengenai keluarga penguasa, jaringan antardaerah, naskah kuno, dan tempat-tempat yang terus disebut dalam ingatan masyarakat.

Tentu, tidak semua bagian dari kisah tersebut telah memperoleh kepastian sejarah yang sama. Sebagian bersumber dari naskah silsilah dan tradisi lokal yang membutuhkan penelitian lanjutan. Justru karena itu, Timbanganten layak mendapatkan perhatian lebih serius, bukan sekadar ditempatkan sebagai cerita masa silam yang selesai dibicarakan.

Sebuah kerajaan mungkin tidak lagi memiliki istana atau kekuasaan politik. Akan tetapi, jejaknya dapat bertahan dalam nama tempat, naskah, tradisi, dan ingatan masyarakat yang mewariskannya.

Di Tarogong, jejak Timbanganten menjadi pengingat bahwa sebuah daerah memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada apa yang tampak hari ini.

Sejarah tidak selalu meminta kita untuk kembali ke masa lalu. Kadang-kadang, sejarah hanya mengajak kita berhenti sejenak, menengok jejak yang tertinggal, lalu bertanya: sudahkah kita mengenal warisan yang hidup di tanah tempat kita berpijak?—(***)

Wallāhu a’lamu bis-ṣawāb

Catatan sumber:  Feature Sejarah dan Budaya  ini disusun berdasarkan rujukan utama yang ditulis Asep Harsono HS., S.Sos., M.Si., Tatar Garut (2007) dan berbagai sumber lainya. Kang Asep, saat itu menjabat Sekretaris Kecamatan (Sekcam)  Karang Tengah, Garut. 

 

Pos terkait