Kebakaran Shelter Indosat di Tower Mitratel Lebak, Warga Sempat Panik

kebakaran shelter Indosat di tower Mitratel Rangkasbitung Lebak
Foto : tim BG/Hendrik

Bantengate.id. Lebak, Kebakaran shelter Indosat terjadi di kawasan tower telekomunikasi PT Mitratel, tepatnya di Kampung Ketug Pabuaran RT 02 RW 05, Desa Citeras, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, pada Selasa (16/6/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. Insiden ini sempat menggemparkan warga sekitar yang bermukim tidak jauh dari lokasi tower berdiri. Meski sempat menimbulkan kepanikan, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa tersebut.

Kejadian ini menjadi perhatian serius mengingat lokasi shelter berada berdampingan langsung dengan permukiman penduduk. Api yang membakar bangunan shelter berhasil dikendalikan berkat respons cepat Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lebak. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang.

Kebakaran Shelter Indosat di Tower Mitratel Rangkasbitung Lebak

Peristiwa kebakaran shelter Indosat ini berlangsung di salah satu titik infrastruktur telekomunikasi yang cukup vital di wilayah Rangkasbitung. Tower milik PT Mitratel tersebut berdiri di tengah lingkungan padat penduduk, sehingga kobaran api yang muncul sore itu langsung memancing kekhawatiran warga yang berada di sekitar lokasi.

Kobaran api yang melahap bangunan shelter Indosat sempat membesar sebelum akhirnya berhasil dijinakkan. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lebak bergerak sigap dengan menerjunkan dua unit mobil pemadam ke lokasi kejadian. Petugas berjibaku memadamkan si jago merah agar tidak merembet ke fasilitas telekomunikasi lainnya maupun ke hunian warga di sekitarnya.

Berkat kerja keras petugas pemadam, api berhasil dikendalikan dan situasi di lokasi segera dapat diamankan. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian ini, meski kepanikan sempat melanda warga yang tinggal di area sekitar tower. Besaran kerugian akibat kebakaran masih dalam proses pendataan oleh pihak-pihak terkait.

Dugaan sementara dari pihak berwenang mengarah pada korsleting atau hubungan arus pendek listrik pada instalasi di dalam shelter milik Indosat. Namun demikian, penyebab pasti masih menunggu hasil penyelidikan resmi yang lebih mendalam.

Warga Pertama Kali Mengetahui Kebakaran dari Bau Hangit

Saepudin (45), warga setempat yang rumahnya berdekatan dengan lokasi tower, menjadi orang pertama yang mengetahui adanya kebakaran tersebut. Ia mengaku awalnya mencium bau hangit yang menyengat, namun mengira bau tersebut berasal dari sampah yang dibakar warga di sekitar lingkungan.

kondisi lokasi kebakaran shelter tower telekomunikasi Desa Citeras Lebak
Foto : tim BG/Hendrik

Kecurigaan Saepudin mulai timbul ketika bau hangit itu semakin kuat dan tidak kunjung hilang. Ia pun memutuskan untuk memeriksa ke arah samping rumahnya, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati api telah berkobar membakar bangunan shelter yang berada di area tower telekomunikasi.

“Awalnya saya mencium bau terbakar dan mengira ada sampah yang terbakar. Setelah saya lihat ke samping rumah, ternyata shelter tower sudah terbakar,” ujar Saepudin kepada wartawan di lokasi kejadian.

Kesaksian Saepudin menjadi salah satu titik awal yang membantu warga dan petugas merespons kejadian dengan cepat. Informasi yang ia sebarkan ke warga sekitar membuat situasi segera mendapat perhatian, termasuk laporan kepada pihak pemadam kebakaran agar api tidak semakin meluas.

Tiga Operator Jadi Tenant, Shelter Indosat yang Terbakar

Tower telekomunikasi yang menjadi lokasi kebakaran ini merupakan aset milik PT Mitratel, salah satu perusahaan penyedia menara telekomunikasi terkemuka di Indonesia. Tower tersebut dimanfaatkan oleh tiga operator seluler sekaligus sebagai tenant, yakni Indosat, Telkomsel, dan XL Axiata. Masing-masing operator memiliki shelter tersendiri di dalam kawasan tower tersebut.

Dari ketiga shelter yang ada, bagian yang mengalami kebakaran adalah shelter milik Indosat. Shelter merupakan bangunan kecil berbentuk kotak yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan perangkat pendukung jaringan telekomunikasi, seperti baterai, panel listrik, dan perangkat transmisi. Kerusakan pada shelter dapat berdampak langsung pada kualitas layanan jaringan operator yang bersangkutan di wilayah tersebut.

Kejadian ini sekaligus menyoroti pentingnya standar keamanan instalasi listrik pada fasilitas infrastruktur telekomunikasi yang kerap berdiri di area permukiman. Sistem proteksi kebakaran pada shelter tower menjadi aspek krusial yang perlu mendapat perhatian lebih serius dari para pengelola menara maupun operator penyewa.

Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), kebakaran pada shelter tower telekomunikasi umumnya disebabkan oleh gangguan sistem kelistrikan, termasuk korsleting akibat beban berlebih atau kerusakan komponen yang sudah melampaui usia pakainya. Pengecekan berkala dan perawatan rutin menjadi kunci untuk mencegah insiden serupa terulang kembali.

Petugas Maintenance Ungkap Kondisi Tower Saat Kebakaran Shelter Indosat

Jumron (45), petugas maintenance PT Mitratel dari PT Infratel, turut hadir di lokasi kejadian dan memberikan keterangan kepada wartawan. Ia mengungkapkan bahwa kejadian kebakaran seperti ini merupakan yang pertama kali ia saksikan selama bertugas di lokasi tersebut. Ia juga mengaku baru ditempatkan di titik tower Mitratel Rangkasbitung ini.

“Kalau kejadian seperti ini, saya baru sekarang mengetahuinya di sini. Saya juga baru bertugas di lokasi ini,” kata Jumron saat ditemui di sela-sela penanganan insiden.

Jumron juga menjelaskan perkiraan usia berdirinya tower telekomunikasi tersebut. Menurutnya, konstruksi tower diperkirakan sudah berdiri selama sekitar tujuh hingga sepuluh tahun. Usia infrastruktur yang tidak lagi muda ini bisa menjadi salah satu faktor yang turut dipertimbangkan dalam penyelidikan penyebab kebakaran.

Terkait tugasnya di lokasi, Jumron menegaskan bahwa petugas maintenance seperti dirinya hanya bertugas melakukan pembersihan dan perawatan rutin secara berkala. Untuk penanganan teknis yang lebih spesifik, termasuk pemeriksaan instalasi kelistrikan dan perangkat di dalam shelter, ditangani oleh tim teknisi yang berbeda dan lebih terlatih dalam bidang tersebut.

“Kalau kami hanya maintenance, bersih-bersih dan penyemprotan secara berkala. Untuk teknisi ada petugas tersendiri yang menangani,” ungkap Jumron.

Penjelasan Jumron memberi gambaran tentang struktur pengelolaan operasional tower Mitratel di lapangan, di mana terdapat pemisahan tugas yang jelas antara petugas maintenance dengan tim teknisi. Kondisi ini juga mengisyaratkan perlunya koordinasi yang lebih erat antar tim, terutama dalam hal pemantauan kondisi instalasi listrik di setiap shelter tenant yang ada.

Hingga kini, pihak kepolisian dan instansi terkait masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran. Masyarakat sekitar pun berharap agar kejadian serupa tidak kembali terulang, mengingat keberadaan tower telekomunikasi yang berdiri berdampingan dengan rumah-rumah warga tentu menyimpan potensi risiko yang perlu dikelola dengan baik oleh semua pihak yang bertanggung jawab. (hendrik)

Pos terkait