Dinkes Lebak Tetapkan DBD di Kadu Agung Timur Positif, Penyuluhan dan Fogging Segera Digelar

Dinkes Lebak Tetapkan DBD di Kadu Agung Timur Positif, Penyuluhan dan Fogging Segera Digelar

Lebak, Bantengate.id – Respons cepat ditunjukkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, Banten, menyusul pemberitaan Bantengate.id, edisi Kamis (23/7/2026) mengenai dugaan kasus Demam Berdarah Dengue ( DBD ) yang menyerang warga Kampung Kadu Agung RT 07 RW 04, Desa Kadu Agung Timur, Kecamatan Cibadak, Banten.

Setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE), petugas menyatakan wilayah tersebut memenuhi kriteria penanganan karena ditemukan penularan DBD dan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti.

Koordinator Tim Fogging Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Rohmat, menyampaikan bahwa tim langsung bergerak melakukan penelusuran lapangan setelah menerima informasi pemberitaan media.

“Setelah dilakukan cross check data dan penyelidikan epidemiologi, ditemukan satu penderita infeksi dengue lainnya di RT 07 RW 04. Selain itu, dari pemeriksaan terhadap 20 rumah, sebanyak delapan rumah ditemukan terdapat jentik nyamuk Aedes aegypti. Dengan hasil tersebut, penyelidikan epidemiologi dinyatakan positif,” ujar Rohmat Kamis  (23/7/2026) malam sekira pukul 21.45 WIB.

Berdasarkan hasil tersebut, Dinas Kesehatan bersama Pemerintah Desa Kadu Agung Timur dan Puskesmas Mandala telah menyusun langkah penanganan secara terpadu yang akan dilaksanakan pada Jumat (24/7/2026) besok.

Menurut Rohmat, kegiatan diawali pukul 07.00 WIB dengan penggerakan masyarakat melalui Pemerintah Desa untuk melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus. Selanjutnya pada pukul 09.00 WIB, petugas Puskesmas Mandala akan memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai DBD, cara pencegahan, serta mekanisme pelaksanaan fogging.

Pada sore harinya sekitar pukul 16.00 WIB, Dinas Kesehatan akan melaksanakan fogging fokus di lingkungan sekitar rumah penderita sebagai bagian dari upaya memutus rantai penularan penyakit.

“Hatur nuhun Pak  atas informasinya sehingga kami bisa merespons informasi ini dengan cepat. Salam sehat buat kita semua,” tulis Rohmat dalam pesan yang dikirimkan kepada Bantengate.id.

Fogging Bukan Solusi Utama

Rohmat menegaskan, pengasapan atau fogging hanya menjadi salah satu metode pengendalian DBD dan bukan solusi utama untuk memberantas penyakit tersebut.

Menurutnya, fogging hanya efektif membunuh nyamuk dewasa, sedangkan telur, larva, dan jentik nyamuk tetap harus diberantas melalui gerakan PSN secara rutin oleh masyarakat.

“Keberhasilan pengendalian DBD sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Yang paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk melalui gerakan 3M Plus,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat untuk rutin menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta melakukan berbagai upaya pencegahan lainnya.

Dengan hasil PE yang positif, Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak berharap rangkaian kegiatan PSN, penyuluhan kesehatan, dan fogging fokus dapat menekan penyebaran DBD sehingga tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB). Masyarakat juga diimbau segera melapor ke puskesmas atau pemerintah desa apabila ada anggota keluarga yang mengalami demam tinggi mendadak selama dua hingga tujuh hari, nyeri otot dan sendi, muncul bintik merah di kulit, atau tanda-tanda perdarahan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Berawal dari Keluhan Warga

Sebelumnya, warga Kampung Kadu Agung mengeluhkan belum adanya pelaksanaan fogging setelah seorang warga dinyatakan positif DBD dan menjalani perawatan di RSUD Adjidarmo Rangkasbitung.

Salah seorang warga, Ridwan, mengaku menjalani perawatan intensif sejak Sabtu (18/7/2026) hingga Kamis (23/7/2026). Selama dirawat, kondisi trombositnya terus menurun sehingga petugas medis harus melakukan pengambilan sampel darah hingga enam kali.

“Tangan sebelah kiri sudah tidak bisa diambil darah. Tinggal tangan yang dipasang infus yang masih bisa. Total enam kali diambil darah,” ujar Ridwan yang  bekerja sebagai jurnalis di BantenGate.id.

Ia mengaku sempat kehilangan semangat karena trombositnya turun drastis dan dikhawatirkan terjadi komplikasi. Namun setelah mendapatkan penanganan medis, kondisinya berangsur membaik.

“Alhamdulillah sekarang sudah diperbolehkan pulang. Kondisi sekitar 85 persen sudah membaik. Tadi sempat khawatir karena trombosit hampir nol dan dikhawatirkan terjadi perdarahan. Syukur trombosit langsung naik,” katanya.—( red)

Pos terkait