Lebak, BantenGate.id – Musim durian dari pedalaman Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, kembali menyapa masyarakat Kabupaten Lebak, Banten. Sejumlah lapak durian mulai bermunculan di sepanjang jalan di Kota Rangkasbitung dan menawarkan durian yang berasal dari pedalaman Baduy.
Salah satu lapak yang menyediakan durian Baduy adalah Durian Upin Ipin yang berada di Jalan Hardiwinangun, Simpang Empat SMAN 3 Rangkasbitung. Lapak tersebut menjadi salah satu tujuan warga yang ingin berburu durian lokal Lebak tanpa harus datang langsung ke kawasan penghasilnya.
Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, membenarkan bahwa wilayah Baduy saat ini tengah memasuki musim durian. Kondisi tersebut membuat hasil durian dari kawasan Baduy mulai dipasarkan ke sejumlah wilayah, termasuk Rangkasbitung dan kab/kota lainya di Banten.
“Sekarang memang sedang musim durian di Baduy,” kata Jaro Oom.
Sementara itu, Rifai (40), penjual durian di Lapak Durian Upin Ipin, mengatakan durian yang dijualnya durian asli dari pedalaman Baduy. Menurut dia, durian Baduy memiliki karakter rasa tersendiri sehingga cukup diminati masyarakat. Apalagi durian yang jatuhan langsung dari pohonnya, itu terbaik manisnya.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi, tergantung ukuran dan kondisi buah. Untuk durian dengan ukuran tertentu, pembeli dapat memperoleh tiga butir dengan harga sekitar Rp100 ribu. Sementara untuk durian berukuran lebih besar, harganya bisa mencapai Rp50 ribu – Rp 75 ribu per butir.
“Kalau durian asli Baduy itu punya ciri khas sendiri. Harga juga tergantung besar kecilnya buah. Ada yang Rp100 ribu dapat tiga, ada juga yang Rp50 ribu satu butir,” ujar Rifai, Jumat (15/8/2026).
Rifai mengatakan, sebelum dipajang, durian yang dijual di lapaknya terlebih dahulu dipilih. Hal itu dilakukan untuk memberikan pilihan buah yang dinilai layak kepada pelanggan.
Menurutnya, tingkat kematangan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas durian. Ia bahkan menyebut durian yang jatuh langsung dari pohonnya sebagai salah satu buah yang banyak diminati karena dinilai memiliki rasa manis yang lebih baik.
Ia menambahkan, lapaknya menggunakan slogan “Moal Gagal” sebagai bentuk keyakinan untuk memberikan durian pilihan kepada para pelanggan. “Namanya juga durian, setiap buah memang bisa punya rasa yang berbeda. Tapi kami selalu berusaha memilihkan yang terbaik untuk pelanggan,” katanya.
“Namanya juga durian, setiap buah memang bisa punya rasa yang berbeda. Tapi kami selalu berusaha memilihkan yang terbaik untuk pelanggan,” katanya.
Selain Rifai, juga terdapat lapak Durian Mang Ade, yang berlokasi Gang Kibun, Rangkasbitung tepatnya di area parkir cafe Rbone. Mang Ade, sudah sejak lama dikenal sebagai pedagang durian.
Musim durian tidak hanya menjadi momen yang ditunggu para pencinta buah, tetapi juga ikut menggerakkan aktivitas ekonomi pedagang buah lokal. Bermunculannya lapak durian di Rangkasbitung menjadi salah satu tanda bahwa hasil perkebunan dari berbagai wilayah Lebak mulai mengalir ke pusat keramaian.
Keberadaan durian dari pedalaman Baduy juga memberikan daya tarik tersendiri. Buah yang dipanen dari kawasan Baduy tersebut menjadi salah satu produk lokal yang diperkenalkan kepada masyarakat di luar kawasan adat.
Bagi warga Rangkasbitung dan sekitarnya, Lapak Durian Upin Ipin di Jalan Hardiwinangun, Simpang Empat SMAN 3 Rangkasbitung, menjadi salah satu pilihan untuk menikmati durian lokal selama musim panen berlangsung.
Pembeli dapat menikmati buah durian langsung di lokasi ataupun memilihnya untuk dibawa pulang.
Musim durian juga menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi hasil perkebunan Kabupaten Lebak kepada masyarakat luas. Selain memenuhi permintaan konsumen lokal, perdagangan durian turut membuka peluang ekonomi bagi pedagang dan masyarakat yang terlibat dalam rantai distribusi buah tersebut.–(ridwan)








