Mahasiswa KKN Nusantara Belajar Kearifan Adat di Kampung Dangka Baduy

Mahasiswa KKN Nusantara Belajar Kearifan Adat di Kampung Dangka Baduy
Kelompok 1 KKN mahasiswa PTKIN saat berkunjung ke Kampung Dangka, Baduy.--(foto: dok)

Lebak, BantenGate.id – Kelompok 1 KKN Nusantara mahasiswa dari 36  Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bojongmenteng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, mendapatkan pengalaman berharga saat mengunjungi Kampungan Dangka, salah satu kelompok masyarakat adat Baduy Luar, di Desa Kanekes.

Desa Bojongmenteng merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, yang menjadi wilayah masyarakat adat Baduy. Salah satu akses yang cukup dikenal menuju kawasan Baduy adalah Terminal Ciboleger yang secara administratif masuk wilayah Desa Bojongmenteng.

Dari kawasan Terminal Ciboleger, perjalanan menuju perkampungan masyarakat adat Baduy dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Setelah melewati sejumlah anak tangga, terdapat pintu gerbang menuju Kampung Kadu Ketug, Desa Kanekes.

Kondisi geografis dan kedekatan wilayah tersebut membuat mahasiswa KKN Nusantara, memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan mempertahankan tradisi leluhur yang kuat dan kearifan lokal.

“Kunjungan Kelompok 1 KKN Nusantara ke Kampung Dangka atau disebut juga Kampung Tarikolot Cibengkung dari Posko Kampung Landeuh yang menjadi lokasi posko mahasiswa selama menjalankan program KKN sekitar satu jam. Kami, para mahasiswa didampingi Ketua RT setempat dan seorang warga, Teteh Wiwi,” kata Layla  Amal Mahgfiroh,  mahasiswa peserta KKN dari UIN Walisongo, Semarang, pada Sabtu (15/8/2026).

Menurut Layla, Kampung Tarikolot Cibengkung atau Kampiung Dangka, merupakan perkampungan kecil yang hanya terdiri atas 18 rumah. Suasana kampung masih sangat tradisional dan belum teraliri listrik, karena memang dilarang oleh aturan adat. Kehidupan masyarakat berjalan sederhana dengan tetap berada dalam bimbingan seorang olot atau sesepuh masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai latar belakang keberadaan Kampung Tarikolot Cibengkung. Menurut keterangan Ketua RT, Ibu Kesi, kampung Dangka dikenal sebagai salah satu tempat pengasingan bagi warga Baduy yang dianggap melanggar ketentuan adat.

Kampung Dangka atau Kampung Tarikolot Cibengkung ini sebenarnya adalah tempat pengasingan bagi warga Baduy yang melanggar aturan adat,” ujar ibu Kesi  saat mendampingi mahasiswa.

Meski demikian, masyarakat setempat tetap menjaga privasi mengenai persoalan adat tersebut. Mereka tidak menjelaskan secara rinci jenis pelanggaran maupun bentuk sanksi adat yang diterapkan.

Di balik kehidupan yang sederhana, masyarakat Kampung Tarikolot Cibengkung tetap menjalankan aktivitas pertanian sebagai sumber penghidupan. Warga secara rutin pergi ke ladang sejak pagi hingga menjelang petang. Aktivitas tersebut berlangsung setiap hari. Berbagai tanaman dibudidayakan masyarakat, antara lain kencur, padi, jahe, cabai dan singkong. Sementara hari Minggu, terkadang  menjadi waktu bagi masyarakat untuk beristirahat dan berkumpul di rumah.

Kondisi tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa. Mereka melihat bagaimana keterbatasan fasilitas  alat pertanian  tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk tetap produktif dan memenuhi kebutuhan hidup dari hasil pertanian.

“Kami belajar banyak tentang arti patuh pada aturan dan kerja keras dari warga di sini. Meskipun tempat ini adalah wilayah pengasingan adat, suasana kekeluargaan dan semangat mereka dalam menyambung hidup lewat bertani sangat luar biasa,” ujar Layla, mahasiswa Jurusan Managemen Dakwah, UIN Walisongo Semarang.

Dalam kunjungan ke Kampung Dangka, para mahasiswa dilarang mengambil gambar (foto) karena tidak diperbolehkan secara adat, sehingga para mahasiswa tidak memiliki dokumentasi saat berbaur bersama warga Kampung Dangka. Sekalipun merasa kecewa, para mahasiswa mengikuti aturan tersebut dan tidak ada yang mengabadikan kegiatan.

Menurut Layla, kunjungan tersebut memberikan pemahaman bahwa kesederhanaan tidak selalu identik dengan keterbatasan. Kehidupan masyarakat yang jauh dari fasilitas modern justru memperlihatkan kuatnya kemandirian dan hubungan antara manusia dengan alam.

KKN Nusantara dari 36 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Indonesia diikuti 226 mahasiswa. Peserta KKN tersebut terbagi kedalam 15 kelompok yang disebar di  Kecamatan Leuwidamar dan Kecamatan Cirinten.

Selama  KKN di Desa Bojongmenteng sejak 15 Juli 2026, para mahasiswa menjalankan berbagai program pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan tersebut di antaranya Kelas Pemberdayaan Masyarakat (KPM), visualisasi identitas desa serta penyerahan bantuan berupa bak sampah untuk masyarakat.

Pelaksanaan KKN tersebut tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memahami kehidupan sosial, budaya dan kearifan lokal masyarakat di wilayah perbatasan dengan Baduy.

Selama melaksanakan program, para mahasiswa mendapatkan pendampingan dari dosen, Endang Saeful Anwar.

Kunjungan ke Kampung Tarikolot Cibengkung menjadi salah satu pengalaman yang memperkaya proses pembelajaran mahasiswa. Mereka tidak hanya melihat kehidupan masyarakat adat dari luar, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai bagaimana aturan adat, pertanian, kesederhanaan dan hubungan dengan alam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.—(ridwan)

Pos terkait