Jakarta, BantenGate.id — Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor (IKBBP) dan Yayasan Soekarmini Poegoeh Reksoatmodjo menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Penandatanganan MoU berlangsung pada Sabtu (22/8/2026), bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun ke-2 IKBBP. Kesepakatan tersebut menjadi langkah bersama kedua organisasi untuk mengembangkan program pendidikan sejarah, literasi, dan kegiatan kebangsaan yang menyasar generasi muda.
MoU ditandatangani Ketua Umum IKBBP Tanto Sudiro dan Ketua Umum Yayasan Soekarmini Poegoeh Reksoatmodjo Cakasana Wahyadyatmika.
Sekretaris Jenderal IKBBP sekaligus Ketua Dewan Pembina GARUDA, R.M.E. Tjokrosantoso, mengatakan, kerja sama tersebut dilatarbelakangi oleh semangat untuk menjaga ingatan sejarah perjuangan bangsa sekaligus menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada generasi muda.
IKBBP merupakan organisasi yang dihimpun oleh keturunan dan kerabat Barisan Pelopor. Dalam keterangan resminya, IKBBP menyebut Barisan Pelopor merupakan organisasi yang didirikan Bung Karno pada 15 Agustus 1944 dengan tujuan mempercepat tercapainya kemerdekaan Indonesia.
Semangat perjuangan tersebut kemudian menjadi salah satu landasan IKBBP dalam menjalankan organisasi. Jika Barisan Pelopor pada masa perjuangan diarahkan untuk mempercepat tercapainya kemerdekaan, IKBBP memilih fokus memperkuat nasionalisme di tengah generasi muda.

Heroisme yang dikobarkan oleh barisan pelopor menjadikan motivasi dan semangat anak-cucunya untuk mendirikan sebuah organisasi bernama Ikatan Keluarga Besar Barisan Peloporm (IKBBP) untuk meneruskan cita-cita leluhurnya dalam bentuk lain,” kata R.M.E. Tjokrosantoso, yang akrab di sapa Bung Tjokro, di jakarta, Selasa (25/8/2026).
Penandatanganan MoU ini juga menjadi bagian dari upaya IKBBP memperluas gerakan penguatan nasionalisme melalui pendekatan pendidikan, sejarah, literasi, dan aktivitas kepemudaan.
Mandat tersebut diarahkan untuk memastikan hasil kesepakatan antara IKBBP dan Yayasan Soekarmini dapat diterjemahkan ke dalam kegiatan nyata di tengah masyarakat, khususnya yang melibatkan generasi muda.
Sementara itu, Yayasan Soekarmini Poegoeh Reksoatmodjo didirikan oleh para keturunan Soekarmini dengan fokus menjaga ingatan sejarah, sekaligus menanamkan nilai-nilai literasi dan kepedulian sosial lintas generasi.
Melalui MoU tersebut, kedua organisasi sepakat mengembangkan sejumlah program bersama. Program itu antara lain edukasi sejarah, diskusi publik, kegiatan literasi, pengenalan tokoh-tokoh perjuangan bangsa, serta berbagai kegiatan kebangsaan yang melibatkan generasi muda.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat diterjemahkan dalam program yang bersentuhan langsung dengan anak muda.
Kegiatan edukasi sejarah juga dinilai penting untuk memperkenalkan kembali perjalanan perjuangan bangsa kepada generasi penerus. Dengan pemahaman sejarah yang lebih baik, generasi muda diharapkan memiliki kesadaran kebangsaan serta mampu memahami nilai-nilai perjuangan para pendahulu.
Dengan kolaborasi tersebut, kedua organisasi berharap nilai-nilai perjuangan dan kebangsaan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat terus dipahami dan dihidupkan oleh generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.--(***)








