Lebak, BantenGate.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) bergerak cepat melakukan upaya penanggulangan menyusul ditemukannya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kampung Kadu Agung RT 07 RW 04, Desa Kadu Agung Timur, Kecamatan Cibadak, pada pada Jumat (24/7/2026).
Tim dari Bidang P2P Dinas Kesehatan Lebak yang dipimpin, Rohmat, turun langsung ke lokokasi bersama masyarakat menggelar Gerakan Jumat Bersih sebagai langkah awal pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan penyuluhan kepada warga mengenai bahaya DBD, cara penularan, hingga upaya pencegahannya.
Rohmat mengatakan, penanganan DBD tidak cukup hanya dengan melakukan fogging. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk menjadi faktor utama untuk memutus rantai penyebaran penyakit.
“Kami mengajak masyarakat bersama-sama membersihkan lingkungan, menguras tempat penampungan air, serta menghilangkan barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Fogging hanya merupakan langkah darurat untuk memutus rantai penularan,” ujarnya saat memberikan penyuluhan kepada warga.
Menurutnya, berdasarkan hasil penelusuran petugas kesehatan, kasus DBD di wilayah tersebut telah dinyatakan positif sehingga diperlukan penanganan cepat melalui edukasi masyarakat, PSN serentak, dan pengasapan (fogging).
“Pada Jumat (24/7/2026) sore ini, tim Dinkes Kabupaten Lebak akan melaksanakan fogging di kawasan permukiman RT 07 RW 04 sebagai bagian dari upaya pengendalian fokus penularan,” ujar Rohmat.
Warga Diedukasi Kenali Gejala DBD

Dalam penyuluhan, petugas menjelaskan bahwa DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Penyakit ini umumnya ditandai dengan demam tinggi selama 2 hingga 7 hari yang dapat disertai manifestasi perdarahan, penurunan jumlah trombosit hingga di bawah 100.000/mm³, serta kebocoran plasma yang ditandai dengan peningkatan hematokrit.
Masyarakat juga diminta segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan apabila dalam waktu dua hingga tiga hari demam tidak kunjung turun atau muncul gejala lanjutan seperti bintik-bintik merah di kulit, muntah terus-menerus, mimisan, gelisah, maupun tanda-tanda perdarahan lainnya.
Petugas mengingatkan bahwa nyamuk Aedes aegypti telah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia sehingga setiap daerah memiliki risiko terjadinya penularan DBD.
Nyamuk ini memiliki kebiasaan menggigit manusia pada pagi hari sekitar pukul 08.00–10.00 WIB dan sore hari pukul 15.00–17.00 WIB. Sementara tempat favoritnya untuk beristirahat adalah lokasi yang gelap, lembap, tidak terkena sinar matahari langsung, dan berada dekat dengan habitat perkembangbiakannya.
PSN 3M Plus Jadi Kunci Pencegahan
Dalam acara sosialisasi itu, Rohmat, menekankan kepada warga pentingnya pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus secara rutin. Langkah tersebut meliputi menguras tempat penampungan air secara berkala, menutup rapat seluruh wadah penyimpanan air seperti drum, tempayan, dan tangki, serta memanfaatkan kembali atau membuang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan.
Selain itu, warga juga diminta rutin mengosongkan penampungan air dispenser, membersihkan tempat minum burung, vas bunga, serta menghilangkan genangan air pada lubang pohon, tempurung kelapa, potongan bambu, maupun wadah lain yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.
Rohmat mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap fogging sebagai satu-satunya cara memberantas DBD. Fogging hanya dilakukan pada lokasi yang sedang mengalami penularan dan harus didahului dengan gerakan PSN secara serentak. Pengasapan berfungsi membunuh nyamuk dewasa sehingga memutus rantai penularan, tetapi tidak mampu memusnahkan telur maupun jentik nyamuk.
Masyarakat juga diimbau mengikuti prosedur keselamatan selama pelaksanaan fogging, seperti keluar sementara dari rumah, menutup makanan dan air minum, serta tidak memasuki rumah sebelum asap fogging benar-benar hilang. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan insektisida.
Dinkes Kabupaten Lebak berharap keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dapat menjadi langkah paling efektif untuk menekan penyebaran DBD. Pencegahan melalui PSN 3M Plus yang dilakukan secara rutin dinilai jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan fogging ketika kasus sudah muncul.—(red)








