BantenGate.id, Polres Lebak menggelar Festival Hadroh Lebak sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80. Kegiatan yang berlangsung meriah di tribun Alun-alun Rangkasbitung pada Sabtu, 20 Juni 2026 ini diikuti oleh puluhan grup hadroh dari berbagai pondok pesantren se-Kabupaten Lebak. Antusiasme warga dan ratusan santri yang memadati lokasi menjadikan suasana perayaan semakin semarak dan penuh nuansa Islami.
Acara ini dihadiri langsung oleh jajaran pejabat Polres Lebak, perwakilan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) wilayah Lebak, para pimpinan pondok pesantren, serta ratusan santri dan warga sekitar yang dengan antusias menyaksikan jalannya perlombaan dari awal hingga akhir.
Festival Hadroh Lebak Meriahkan HUT Bhayangkara ke-80 di Alun-alun Rangkasbitung
Festival Hadroh Lebak tahun ini menjadi salah satu agenda utama dalam kalender peringatan HUT Bhayangkara di Kabupaten Lebak. Pemilihan seni hadroh sebagai medium perayaan bukan tanpa alasan — kesenian rebana bernuansa Islami ini memang telah lama mengakar kuat di tengah masyarakat Lebak yang kental dengan budaya pesantren.
Tribun Alun-alun Rangkasbitung dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena mampu menampung banyak penonton sekaligus memberikan panggung yang representatif bagi para peserta. Dekorasi bernuansa merah putih berpadu dengan ornamen Islami menciptakan atmosfer yang khas — memadukan semangat kebangsaan dan nilai-nilai keagamaan dalam satu ruang perayaan.
Wakapolres Lebak, Kompol Edi Prasetyo Hermawan, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar hiburan semata. Menurutnya, kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen Polres Lebak dalam membangun kedekatan dengan komunitas pesantren sekaligus memberi ruang ekspresi bagi generasi muda santri.
Pesantren Salafi dan Modern Bersatu dalam Satu Panggung
Salah satu keistimewaan Festival Hadroh Lebak tahun ini adalah keterlibatan pesantren dari dua tradisi yang berbeda, yakni pesantren salafi dan pesantren modern. Kedua kelompok ini kerap memiliki pendekatan berbeda dalam praktik keagamaan maupun metode pendidikan, namun di atas panggung alun-alun, mereka bersatu dalam harmoni seni yang indah.
Kehadiran pesantren salafi berdampingan dengan pesantren modern menjadi simbol toleransi dan persatuan yang nyata. Para santri dari latar belakang tradisi yang beragam itu tampil dengan penuh semangat, membawakan shalawat dan irama rebana yang membuat ribuan penonton larut dalam suasana syahdu.
Mempererat Silaturahmi Polres dan Pondok Pesantren se-Kabupaten Lebak
Kompol Edi Prasetyo Hermawan menyampaikan bahwa momen HUT Bhayangkara ke-80 ini sengaja dimanfaatkan untuk memperkuat jalinan hubungan antara institusi kepolisian dan komunitas pesantren. Silaturahmi yang terjalin bukan hanya bersifat seremonial, melainkan diharapkan menjadi fondasi kerja sama yang berkelanjutan.
“Melalui momentum ini, jajaran Polres Lebak berupaya mempererat tali silaturahmi dengan para pimpinan pondok pesantren, sekaligus mengembangkan potensi para santri dalam kesenian bernuansa Islami,” ujar Kompol Edi di hadapan para hadirin.
Hubungan harmonis antara kepolisian dan pesantren dinilai penting, terutama dalam konteks menjaga stabilitas sosial dan keamanan di Kabupaten Lebak. Pesantren sebagai institusi pendidikan sekaligus pusat pembinaan moral masyarakat memiliki peran strategis yang saling melengkapi dengan fungsi kepolisian dalam menjaga ketertiban.
Kehadiran pejabat Baznas wilayah Lebak dalam acara ini juga memperluas dimensi kolaborasi. Sinergi antara Polres, pesantren, dan lembaga zakat menunjukkan bahwa pembangunan masyarakat yang utuh membutuhkan keterlibatan berbagai elemen secara bersama-sama. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai program dan kegiatan Baznas di wilayah Lebak.
Santri Lebak Didorong Berprestasi hingga Tingkat Nasional
Kompol Edi Prasetyo Hermawan tidak hanya berhenti pada semangat silaturahmi. Ia secara khusus mengungkapkan harapannya agar Festival Hadroh Lebak ini menjadi batu loncatan nyata bagi para santri untuk menapaki panggung yang lebih besar di tingkat provinsi bahkan nasional.
“Semoga dengan adanya festival ini, para santri dari Lebak nantinya bisa bersaing di tingkat provinsi hingga nasional dan mengharumkan nama daerah,” ujar Kompol Edi dengan penuh keyakinan.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Festival hadroh tingkat kabupaten seperti ini memang lazim menjadi ajang seleksi awal sebelum grup-grup terbaik melaju ke kompetisi yang lebih bergengsi. Dengan pembinaan yang konsisten dan dukungan dari berbagai pihak, potensi santri Lebak untuk bersaing di level nasional sangat terbuka lebar.
Seni hadroh sendiri kini semakin diakui sebagai bagian penting dari khazanah budaya Islam Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, kesenian berbasis tradisi pesantren seperti hadroh dan marawis termasuk dalam kategori seni pertunjukan yang terus didorong pelestariannya di tingkat daerah hingga nasional.
Di penghujung acara, Wakapolres memberikan apresiasi hangat kepada seluruh peserta yang telah tampil dengan totalitas. Penghargaan khusus diberikan kepada para juara, mulai dari juara pertama hingga juara kelima, serta juara harapan yang turut mendapatkan pengakuan atas kerja keras mereka.
“Selain untuk memeriahkan HUT Bhayangkara, festival ini menjadi ajang kegiatan yang positif. Kami berharap para kontestan yang meraih juara 1 sampai 5, maupun juara harapan, bisa terus meningkatkan potensi diri, baik di bidang keilmuan agama maupun kesenian Islami,” pungkas Kompol Edi.
Pesan tersebut menjadi penutup yang bermakna — bahwa prestasi bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus berkembang. Festival Hadroh Lebak bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi tentang bagaimana sebuah tradisi seni mampu mempererat persaudaraan, mengangkat martabat daerah, dan menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya dalam bingkai nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. (sunarya)








