Jalan Rusak Bojongmanik–Parakan Besi Parah, Warga Minta Segera Diperbaiki

Kondisi jalan rusak Bojongmanik–Parakan Besi di Kabupaten Lebak yang berlumpur dan licin saat musim hujan

Lebak, BantenGate.id – Kondisi jalan rusak Bojongmanik Parakan Besikian memprihatinkan dan menjadi keluhan serius warga di Kecamatan Bojongmanik, Kabupaten Lebak. Ruas jalan poros sepanjang kurang lebih tiga kilometer yang menghubungkan Desa Bojongmanik dengan Desa Parakan Besi itu hingga kini belum mendapatkan penanganan nyata dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lebak. Padahal, jalan tersebut merupakan akses vital yang setiap hari digunakan oleh ratusan warga dari kedua desa.

Kerusakan jalan ini bukan persoalan baru. Warga mengaku kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa perbaikan yang berarti. Ketika musim hujan tiba, kondisinya semakin memburuk — permukaan jalan berubah menjadi lumpur licin yang berbahaya bagi pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat.

Jalan Rusak Bojongmanik–Parakan Besi Ganggu Aktivitas Warga Sehari-hari

Ruas jalan rusak Bojongmanik Parakan Besi bukan sekadar penghubung dua desa biasa. Jalan ini adalah urat nadi kehidupan masyarakat setempat yang digunakan untuk berbagai kegiatan penting, mulai dari mengangkut hasil pertanian, mengakses fasilitas kesehatan, mendukung kegiatan pendidikan anak-anak, hingga menopang roda perekonomian warga sehari-hari.

Sayangnya, kondisi fisik jalan yang rusak parah membuat semua aktivitas tersebut terganggu. Saat musim kemarau, jalan dipenuhi debu dan bebatuan yang tidak rata. Saat musim hujan, kondisinya jauh lebih mengkhawatirkan — jalanan berubah menjadi kubangan lumpur yang membuat kendaraan sulit melaju dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Akhmad (45), warga Desa Parakan Besi, mengungkapkan keresahannya secara langsung. Ia menyebut bahwa tidak ada satu pun langkah konkret dari pemerintah yang terlihat untuk memperbaiki kondisi jalan ini dalam jangka waktu yang lama.

“Kalau musim hujan kondisinya jauh lebih parah. Jalannya licin dan membahayakan pengguna jalan. Padahal, ini akses umum yang digunakan masyarakat dari dua desa. Kami berharap pemerintah segera memperbaikinya,” ujar Akhmad, Minggu (14/6/2026).

Petani dan Pengguna Jalan Jadi Korban Kerusakan Infrastruktur

Salah satu kelompok yang paling merasakan dampak buruk dari kerusakan jalan ini adalah para petani. Mereka mengandalkan ruas jalan Bojongmanik–Parakan Besi sebagai jalur utama untuk mengangkut hasil panen menuju pasar. Ketika jalan rusak, proses distribusi hasil pertanian menjadi terhambat, biaya angkut meningkat, bahkan sebagian hasil panen bisa rusak sebelum sampai ke tujuan.

Kondisi ini secara langsung menekan pendapatan petani yang sebagian besar merupakan warga kecil dengan penghasilan terbatas. Kerusakan infrastruktur yang dibiarkan berlarut-larut pada akhirnya menjadi faktor penghambat kesejahteraan masyarakat pedesaan secara keseluruhan.

Tidak hanya petani, seluruh pengguna jalan — termasuk pelajar yang berangkat ke sekolah, warga yang hendak berobat, hingga pelaku usaha kecil — merasakan dampak yang sama. Ketidaknyamanan dan bahaya yang mengintai setiap hari membuat warga semakin tidak sabar menunggu respons konkret dari pemerintah daerah.

Warga Desak Pemkab Lebak Prioritaskan Perbaikan Jalan 3 Kilometer Ini

Masyarakat di Desa Bojongmanik dan Desa Parakan Besi tidak tinggal diam. Mereka secara aktif menyuarakan aspirasi agar ruas jalan sepanjang tiga kilometer ini masuk dalam daftar prioritas pembangunan infrastruktur Pemerintah Kabupaten Lebak. Warga memandang bahwa perbaikan jalan ini bukan sekadar permintaan biasa, melainkan kebutuhan mendesak yang sudah terlalu lama diabaikan.

Akhmad menegaskan bahwa warga berharap pemerintah desa dan para wakil rakyat dapat aktif memperjuangkan kebutuhan ini ke tingkat yang lebih tinggi. Mereka menilai bahwa saluran komunikasi antara masyarakat akar rumput dengan pembuat kebijakan harus diperkuat agar aspirasi seperti ini tidak terus-menerus tenggelam tanpa penyelesaian.

“Kami berharap pemerintah desa dan para perwakilan rakyat dapat menyampaikan dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat terkait perbaikan jalan ini,” tegas Akhmad.

Selain itu, warga juga meminta perhatian dari Pemerintah Provinsi Banten hingga pemerintah pusat. Mereka menilai bahwa ruas jalan Bojongmanik–Parakan Besi memiliki peran strategis dalam mendukung pemerataan pembangunan di wilayah pedesaan yang selama ini kerap luput dari perhatian. Infrastruktur yang baik, menurut mereka, adalah hak dasar setiap warga negara tanpa terkecuali.

Warga lainnya, Mang Ujang, menyampaikan harapan yang sederhana namun penuh makna. “Kami hanya ingin jalan ini diperbaiki agar aktivitas masyarakat lebih lancar dan aman, terutama saat musim hujan,” ungkapnya.

Harapan Warga kepada Bupati dan Wakil Bupati Lebak Terpilih

Sejumlah warga juga mengingatkan sebuah momen penting sebelum pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Mereka menyebut bahwa pasangan Bupati dan Wakil Bupati Lebak yang kini terpilih pernah mengunjungi wilayah Parakan Besi dalam rangkaian kegiatan kampanye. Kunjungan tersebut meninggalkan harapan besar di hati masyarakat akan adanya perubahan nyata setelah pemimpin baru menjabat.

Kini, dengan jabatan resmi di tangan, warga menagih komitmen tersebut. Mereka berharap janji-janji pembangunan yang sempat disampaikan bukan sekadar retorika politik, melainkan program kerja konkret yang segera diwujudkan — dan perbaikan jalan Bojongmanik–Parakan Besi adalah salah satu prioritas yang paling mendesak.

Masyarakat meyakini bahwa jika kepala daerah benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, maka ruas jalan sepanjang tiga kilometer ini seharusnya bisa segera masuk dalam agenda pembangunan daerah. Mereka tidak meminta hal yang muluk-muluk — hanya jalan yang layak untuk dilalui setiap hari.

Persoalan seperti ini, menurut pengamat tata kelola pemerintahan, mencerminkan tantangan besar dalam pemerataan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil. Berdasarkan data Kementerian PUPR RI, jalan-jalan di wilayah pedesaan masih menjadi prioritas penanganan dalam program pembangunan infrastruktur nasional, termasuk melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik bidang jalan.

Belum Ada Respons Resmi dari Dinas PUPR Lebak

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada satu pun keterangan resmi yang disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten Lebak maupun Dinas PUPR Lebak terkait rencana penanganan jalan rusak di ruas Bojongmanik–Parakan Besi. Tidak ada pernyataan mengenai jadwal perbaikan, alokasi anggaran, maupun survei lapangan yang dilakukan sebagai langkah awal.

Ketiadaan respons ini tentu menambah kekecewaan warga yang sudah lama menunggu. Bagi masyarakat di pedesaan yang bergantung penuh pada kondisi jalan untuk menjalani kehidupan sehari-hari, keheningan dari pejabat berwenang terasa seperti pengabaian terhadap hak-hak dasar mereka sebagai warga negara.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan, dampaknya akan semakin meluas. Bukan hanya mobilitas warga yang terganggu, tetapi juga potensi ekonomi desa yang tidak dapat berkembang secara maksimal. Investasi sekecil apapun dalam perbaikan infrastruktur jalan pedesaan terbukti memiliki efek berganda yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Warga Bojongmanik dan Parakan Besi kini hanya bisa berharap agar suara mereka akhirnya didengar — dan bahwa jalan rusak yang telah lama menjadi beban kehidupan mereka segera mendapatkan penanganan yang sepadan dengan kebutuhan dan urgensitasnya. (ridwan)

Pos terkait