Carita Pantun Baduy: Tradisi Tutur Sakral Masyarakat Kanekes yang Kini Jadi Warisan Budaya

Carita Pantun Baduy: Tradisi Tutur Sakral Masyarakat Kanekes yang Kini Jadi Warisan Budaya
Alat Musik Tradisional Masyarakat Baduy.--(foto: Disbudpar Lebak)

Di sebuah kampung sunyi di pedalaman  Baduy, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, malam datang tanpa hiruk-pikuk, hanya temaram pelita dan suara alam yang menemani. Pada saat-saat sunyi seperti itulah, sebuah tradisi sakral mulai dituturkan—pelan, berirama, dan penuh makna. Tradisi itu dikenal sebagai Carita Pantun Baduy, seni tutur yang bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari napas spiritual masyarakat adat Baduy.

Carita Pantun Baduy hanya ditampilkan pada malam hari, dalam rangkaian ritual keagamaan. Seorang Ki Pantun duduk bersila, lalu mulai melantunkan kisah-kisah panjang warisan leluhur. Suaranya mengalir seperti sungai yang membawa ingatan masa lampau—tentang kehidupan, alam, dan hubungan manusia dengan yang gaib.

Kisah-kisah itu dipercaya berasal dari masa Pajajaran, diwariskan secara turun-temurun tanpa teks tertulis, hanya melalui hafalan dan penghayatan mendalam.

Kabid sumber Daya Pariwisata dan  E-kraf  (SDP dan e-Kraf)  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Farid Suryawan, mengatakan, bahwa Carita Pantun Baduy  telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB) melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 446/M/2024 dalam kategori Tradisi dan Ekspresi Lisan.

“Carita Pantun Baduy, sudah menjadi aset WBTB,” kata Kang Farid, di sela persiapan acara Seba Baduy  yang akan berlangsung tanggal 23 April 2026.

Carita Pantun, kata Kang Farid, dimainkan di tengah kesunyian malam. Ki Pantun membuka tuturan dengan kalimat penghormatan kepada leluhur dan alam. Rajah pembuka ini menjadi permohonan izin sebelum cerita dimulai:

“Assalam ka karuhun nu di luhur,

Ka karuhun nu di handap,

Ka nu ngageugeuh jagat Kanekes,

Mugia rahayu ka lembur,

Rahayu ka huma, rahayu ka balarea.”

Setelah itu, kisah berlanjut pada ajaran tentang bercocok tanam dan keseimbangan alam. Tuturan pantun menegaskan bahwa tanah bukan sekadar tempat menanam, melainkan ruang hidup yang dijaga kekuatan spiritual:

“Melak ulah asal melak,

Ngaseuk kudu menta idin,

Tanah lain sakadar taneuh,

Aya nu ngajaga di jero bumi,

Aya Nyi Pohaci nu maparin kahirupan.”

Bagi masyarakat adat Kanekes, carita pantun bukanlah hiburan. Ia adalah kewajiban adat. Di dalamnya tersimpan nilai spiritual, petuah hidup, serta pedoman etika yang menjadi penuntun masyarakat.

Bagi masyarakat adat Kanekes, carita pantun bukanlah hiburan. Ia adalah kewajiban adat. Di dalamnya tersimpan nilai spiritual, petuah hidup, serta pedoman etika yang menjadi penuntun masyarakat.

Karena itu, carita pantun hadir dalam momen-momen penting kehidupan: ritual penanaman padi (ngaseuk atau melak), penyembuhan padi, panen (mipit), hingga upacara sunatan, pernikahan, nukuh lembur, dan prah-prahan yang berkaitan dengan kesejahteraan kampung.

Dalam bagian lain, Ki Pantun juga menuturkan pesan tentang kehidupan sosial dan kebersamaan. Ajaran itu disampaikan dengan bahasa halus yang mudah diingat:

“Akur jeung batur sakasur,
Akur jeung batur sasumur,
Akur jeung batur salembur,
Supaya hirup jadi subur.”

Melalui tuturan tersebut, ajaran leluhur ditanamkan secara halus. Kisah-kisahnya mengingatkan bagaimana cara bercocok tanam yang selaras dengan alam, menjaga hutan dan air, serta menghormati Nyi Pohaci Sanghyang Asri sebagai simbol kesuburan. Nilai-nilai itu tidak diajarkan dengan perintah, melainkan melalui cerita yang mengalir dan meresap dalam ingatan.

Dalam pementasannya, carita pantun biasanya diiringi alat musik petik tradisional berupa kecapi buhun. Di masyarakat Baduy, pertunjukan ini lebih dikenal sebagai “mantun” atau “pantun Baduy”, bukan kecapian seperti di wilayah Sunda lainnya. Kecapi dimainkan tunggal dengan petikan pelan, menciptakan suasana sakral yang mendalam. Namun, tidak jarang Ki Pantun menuturkannya tanpa alat musik. Ketika itu terjadi, kekuatan tradisi ini justru terasa lebih dalam—hanya suara manusia yang berpadu dengan bunyi serangga dan angin hutan.

Dalam buku Potret Kehidupan Masyarakat Baduy karya MD Djoewisno MS, disebutkan bahwa kesenian Baduy tumbuh dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun. Para pemain bukan seniman profesional, melainkan warga adat yang memiliki kemampuan bertutur, memainkan alat musik, dan menghidupkan cerita. Mereka tampil dengan pakaian adat sederhana, tanpa riasan, karena yang utama adalah pesan dan nilai yang disampaikan.

Salah satu tokoh pemain kesenian yang pernah dikenal masyarakat adalah Ki Arce. Ia disebut sebagai pemain yang piawai membawakan cerita pantun sekaligus menghidupkan suasana dengan iringan musik tradisional. Dalam pementasan, Ki Arce tidak hanya menyampaikan kisah legenda dan petuah adat, tetapi juga menyelipkan humor ringan yang membuat penonton terlibat. Gaya bertuturnya pelan, berirama, dan penuh penekanan, sehingga setiap kalimat terasa seperti nasihat yang mengalir.

Pentas kesenian seperti yang dibawakan Ki Arce biasanya berlangsung semalam suntuk. Penonton duduk melingkar, sebagian mendengarkan dengan khidmat, sebagian lagi mengikuti alunan lagu secara perlahan. Tidak ada tepuk tangan meriah, hanya anggukan dan senyum sebagai tanda penghormatan. Kesenian tersebut menjadi ruang bersama untuk mengingat asal-usul, menjaga nilai adat, serta mempererat hubungan sosial masyarakat.

Di balik kesunyian malam Baduy, carita pantun terus hidup. Ia mengalir dari suara seorang Ki Pantun ke hati para pendengarnya. Bukan sekadar cerita, melainkan warisan yang menjaga hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan kehidupan itu sendiri.—(dimas)

Pos terkait