Di tanah Lebak, Banten, yang dipeluk hutan dan aliran sungai pegunungan, golok bukan sekadar alat kerja. Ia adalah teman perjalanan, simbol keberanian, sekaligus penanda identitas. Dari sekian banyak jenis golok yang dikenal masyarakat Banten Selatan, nama Golok Sadjira menempati ruang tersendiri dan sarat dengan makna sejarah.
Golok Sadjira tumbuh dari tradisi masyarakat agraris. Di tangan petani, ia dipakai membuka ladang, menebas semak, hingga menjadi perlindungan diri ketika menembus rimba. Namun lebih dari fungsi praktis itu, Golok Sadjira juga menjadi bagian dari kebudayaan—diturunkan dari generasi ke generasi sebagai pusaka keluarga. Tidak jarang, seorang ayah menghadiahkan golok kepada anaknya sebagai tanda kedewasaan, sekaligus amanat agar tetap menjaga adat dan tanah leluhur.
Secara bentuk, Golok Sadjira memiliki struktur khas yang terdiri dari tiga bagian utama: perah (gagang), sarangka (sarung), dan wilah (bilah). Gagangnya umumnya berukuran sekitar 13,5–15 cm dengan diameter 3,5–4 cm. Ukuran tersebut tidak dibuat sembarangan, melainkan disesuaikan dengan genggaman tangan agar nyaman digunakan dalam waktu lama. Pada bagian perah, pengrajin kerap menambahkan ukiran tradisional seperti ringkel atau ukel, cacag buah, motif ombak, beubeut nyere, sulur, hingga ragam flora dan fauna. Ukiran-ukiran ini bukan sekadar hiasan, melainkan mencerminkan hubungan manusia dengan alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Lebak.
Bahan gagang Golok Sadjira juga mencerminkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan sekitar. Tanduk kerbau sering dipilih karena kuat dan tahan lama. Selain itu digunakan pula berbagai jenis kayu seperti nagasari (Mesua ferrea), asam jawa, johar (Cassia siamea), sawo, gadog, hingga ki julang. Dalam catatan lama bahkan disebutkan penggunaan bahan yang lebih mewah seperti gading, dan pada masa tertentu cula badak—meski kini praktik tersebut tidak lagi digunakan karena pertimbangan konservasi satwa.
Bagian sarangka atau sarung golok pun memiliki sejarah tersendiri. Rigg (1862) mendefinisikan sarangka sebagai wadah bilah golok. Dalam perkembangan awalnya dikenal dua bentuk utama, yakni Sarangka Pontang yang dilapisi perak dan biasa digunakan kalangan bangsawan, serta Sarangka Pontrang dengan garis atau simpai melingkar sebagaimana dijelaskan oleh Coolsma (1913). Sarangka Golok Sadjira biasanya dilengkapi dengan berbagai elemen tradisional seperti sopal luhur sebagai penutup atas, beubeur sebagai ikatan, simeut meuting sebagai tempat tali, simpay sebagai pengikat melingkar, dan sopal handap sebagai penutup bagian bawah (Rigg, 1862; Geerdink, 1875 dalam Nugroho et al., 2023).
Sementara itu, wilah atau bilah Golok Sadjira dikenal memiliki karakter tegas namun seimbang. Ketebalan dan lengkungannya dibuat untuk keperluan kerja lapangan, bukan sekadar simbol. Pandai besi tradisional biasanya menempa bilah dengan teknik turun-temurun, menggunakan baja pilihan dan proses tempa berulang. Setiap bilah dipercaya memiliki “jiwa” karena ditempa dengan kesabaran, doa, dan pengalaman panjang sang empu.
Keberadaan Golok Sadjira hingga kini menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu hilang ditelan zaman. Di tengah modernisasi, sebagian masyarakat Lebak masih mempertahankan bentuk dan filosofi golok ini. Ia tetap hadir dalam keseharian, dalam upacara adat, hingga menjadi koleksi budaya yang mengingatkan pada akar sejarah Banten Selatan.
Pengakuan terhadap nilai budaya tersebut semakin menguat ketika Golok Sadjira ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 446/M/2024 dalam kategori Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. Penetapan ini bukan sekadar administratif, melainkan pengingat bahwa di balik sebilah golok, tersimpan pengetahuan, keterampilan, serta identitas masyarakat Lebak yang diwariskan lintas generasi.
Golok Sadjira pada akhirnya bukan hanya benda. Ia adalah cerita tentang tangan-tangan pengrajin, tentang hutan yang menyediakan bahan, tentang petani yang menggunakannya, dan tentang masyarakat yang menjaga warisan. Sebilah besi yang ditempa dengan api, tetapi disimpan dengan rasa hormat—karena di dalamnya hidup sejarah tanah Lebak.–(sumber disbudpar lebak)








