Bayah, BantenGate.id – Di halaman SMA Negeri 1 Bayah, Kabupaten Lebak, Banten Selatan, Rabu (10/6/2026), ratusan siswa tampak berkerumun di stan Pameran Sawala Lembur dan ruang diskusi. Kegiatan kolaborasi Mahasiswa UMN Tangerang, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS), SMA Negeri 1 Bayah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak.
Suasana tampak seperti sebuah festival pendidikan. Sebagian siswa ada yang memainkan board game tsunami, sebagian membaca katalog rambu evakuasi berbasis kearifan lokal, sementara yang lain mengikuti diskusi tentang ancaman gempa bumi dan tsunami di pesisir Banten Selatan. Namun, di balik keceriaan itu tersimpan pesan yang sangat serius; ketika gempa besar mengguncang wilayah pesisir Bayah, waktu untuk menyelamatkan diri tidak dihitung dalam jam, melainkan hanya menit.
Pesan itulah yang menjadi ruh kolaborasi Project Humanity mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Tangerang, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS), SMAN 1 Bayah, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak dalam membangun budaya sadar dan siap mengahadapi bencana di Banten Selatan.
Dalam edukasi mitigasi bencana yang digelar tersebut, ada yang berbeda. Selain menghadirkan pendekatan ilmiah, kegiatan ini juga menghidupkan kembali pesan-pesan leluhur Sunda Banten Kidul yang sejak lama mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam.
Bayah dan Ancaman Gempa
Direktur GMLS, Anis Faisal Reza atau yang akrab disapa Abah Lala, mengingatkan bahwa Bayah merupakan kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami.
Wilayah pesisir Banten Kidul berada di zona megathrust Samudra Hindia yang sewaktu-waktu dapat memicu tsunami besar.
“SMA Negeri 1 Bayah hanya berjarak sekitar 500 meter dari pantai Samudera Hindia. Tepat berada di garis depan ancaman tsunami. Ketika gempa besar terjadi, para siswa dan masyarakat sekitarnya tidak punya waktu panjang untuk berdiskusi. Hanya hitungan menit harus bertindak cepat untuk menyelamatkan diri,” ujar Abah Lala.
Menurut Abah Lala, kesiapsiagaan tidak cukup hanya disimpan dalam dokumen atau standar operasional prosedur. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan.
Oleh sebab itu, guru dan siswa perlu mengenal jalur evakuasi, memahami tanda-tanda alam, serta membiasakan simulasi menuju tempat yang lebih tinggi. Bahkan, latihan itu dapat dipadukan dengan kegiatan olahraga sekolah. Karena “pintu gerbang sekolah” adalah batas transisi nyawa.
“Ketika bencana datang, tubuh harus bergerak otomatis. Tidak ada waktu untuk bertanya harus lari ke mana,” katanya.
Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) merupakan komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang pengurangan risiko bencana di wilayah Lebak Selatan, Banten. GMLS resmi dibentuk pada 13 Oktober 2020, bertepatan dengan Hari Internasional Pengurangan Risiko Bencana (International Day for Disaster Risk Reduction), sebagai inisiatif masyarakat lokal untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana, terutama gempa bumi dan tsunami.
Pelajaran dari Filipina: Ketika Sekolah Menjadi Garis Depan Bencana

Di hadapan ratusan siswa dan guru, Abah Lala juga menyampaikan kisah dari Filipina yang menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan.
Ketika gempa bumi besar mengguncang wilayah Mindanao dan memicu peringatan tsunami, sejumlah sekolah tengah melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Namun, para guru tetap tenang. Mereka membimbing siswa mengikuti prosedur evakuasi yang telah dilatih berulang kali.
Para siswa tidak panik dan mengikuti arahan guru sehingga risiko korban dapat ditekan.
“Pelajaran paling penting dari Filipina adalah bahwa latihan menyelamatkan nyawa. Kepanikan bisa dikalahkan dengan kebiasaan,” ujarnya.
Leluhur Sunda Sudah Mengajarkan Mitigasi
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak, H. Sukanta, S.Pd., M.Pd., mengingatkan bahwa masyarakat Banten Kidul sesungguhnya telah memiliki warisan budaya yang sarat dengan nilai mitigasi bencana.
Menurut H. Sukanta, para leluhur Sunda tidak pernah mengajarkan manusia untuk menaklukkan alam, melainkan hidup berdampingan dan menghormatinya.
“Kita punya banyak petuah leluhur. Ada tradisi Ngumbah Bayah, ada Ngaruat Laut, ada berbagai amanat adat yang mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Jangan sampai generasi sekarang hanya memahami teknologi, tetapi melupakan pesan para karuhun,” ujarnya.
Sukanta menjelaskan bahwa masyarakat tua sering menyebut istilah “Bayah dikumbah” atau “Ngumbah Bayah”.
Ungkapan itu tidak semata dimaknai sebagai wilayah Bayah yang dicuci air laut, tetapi menjadi pengingat bahwa manusia harus senantiasa membersihkan hati, memperbaiki perilaku, dan menjaga hubungan baik dengan sesama serta alam tempat mereka hidup.
“Boleh jadi peribahasa itu adalah simbol. Kalau manusia menjaga alam, menjaga laut, menjaga gunung, dan menjaga hubungan antar sesama, maka alam akan menjadi sahabat. Tetapi kalau keseimbangan dirusak, alam memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan manusia,” kata Sukanta.
Hal senada tercermin dalam tradisi Ngaruat Laut yang selama ini hidup di masyarakat pesisir Banten Kidul.
Tradisi tersebut bukan sekadar seremoni budaya, melainkan ungkapan rasa syukur sekaligus komitmen untuk menjaga laut sebagai sumber kehidupan dan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan.
Dalam kesempatan itu, H. Sukanta juga mengaitkan mitigasi bencana dengan filosofi Sunda. Filosofi tersebut mengajarkan bahwa kehidupan memiliki empat penjuru dengan satu pusat atau papat kalima pancer. Empat unsur alam dan kehidupan harus berjalan seimbang, sedangkan manusia menjadi pancer atau pusat yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan tersebut.
“Papat Kalima Pancer mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa alam. Manusia adalah bagian dari alam yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangannya. Kalau keseimbangan itu dijaga, kehidupan akan harmonis,” jelas Sukanta.
Menurutnya, ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru harus dipadukan.
Sensor gempa, sistem peringatan dini, peta evakuasi, dan teknologi kebencanaan harus berjalan berdampingan dengan budaya gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta nilai-nilai leluhur yang diwariskan turun-temurun.
“Mitigasi bukan hanya soal alat canggih. Mitigasi adalah budaya hidup. Budaya menjaga alam, menjaga lingkungan, menjaga laut, dan menjaga sesama manusia,” tegasnya.

Pameran Sawala Lembur merupakan bagian dari Project Humanity mahasiswa UMN dengan tema “Membangun Kesadaran Mitigasi Bencana, Kenali Alam dan Siagakan Diri” yang bekerjasama dengan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS). Kolaborasi dalam membangun kesadaran masyarakat menghadapi bencana sudah di jalin sejak lima tahun lalu.
Penyelenggara kegiatan, Gina Fajriatien Nisa, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMN, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi pembelajaran yang dipadukan dengan kondisi nyata masyarakat pesisir Banten Selatan, sesuai dengan arahan dari GMLS.
“Sebagai event organizer, saya merasa bangga sekaligus terhormat dapat memfasilitasi ruang edukasi, ruang dialog, dan ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu tujuan besar, yaitu membangun kesadaran mitigasi bencana, mengenali alam, dan menyiagakan diri,” ujarnya.
Nama Sawala Lembur sendiri memiliki makna filosofis. Sawala berarti ruang bermusyawarah dan bertukar pikiran, sedangkan lembur berarti kampung atau tempat hidup bersama.
Sebuah ruang untuk memikirkan masa depan kampung agar tetap lestari dan aman dari bencana.
Untuk mendekatkan mitigasi dengan kehidupan sehari-hari, penyelenggara menghadirkan Buku Katalog Rambu Evakuasi Berbasis Kearifan Lokal, board game edukasi tsunami, talk show kebencanaan, serta berbagai modul pembelajaran bagi siswa, guru, dan wali murid.
Di penghujung kegiatan, Sawala Lembur seolah mengingatkan kembali pesan lama yang diwariskan para karuhun Sunda Banten Kidul.
Bahwa manusia boleh membangun peradaban dan mengembangkan ilmu pengetahuan setinggi mungkin, tetapi jangan pernah merasa lebih besar dari alam.
Karena alam bukan musuh yang harus ditaklukkan. Alam adalah titipan yang harus dijaga. Dan bagi masyarakat pesisir Bayah, menjaga alam sejatinya juga berarti menjaga kehidupan.—(ridwan)








