Lebak, BantenGate.id– Para sesepuh adat dan ribuan masyarakat adat hingga tamu dari berbagai daerah mengikuti Kirab Sawer Gunung yang menjadi puncak hari ketujuh rangkaian Seren Taun Kasepuhan Cisitu 2026, Kabupaten Lebak, Banten Kidul, Minggu (12/7/2026).
Di tengah iring-iringan hasil bumi, padi, buah-buahan, serta kesenian tradisional yang mengalun menuju pusat Kasepuhan Cisitu, masyarakat kembali memanjatkan doa yang diwariskan turun-temurun agar alam tetap subur, panen melimpah, dan kehidupan senantiasa diliputi kesejahteraan.
Prosesi sakral tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat adat atas hasil panen yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus permohonan agar musim tanam berikutnya kembali menghadirkan keberkahan. Sawer Gunung bukan sekadar kirab budaya, melainkan ruang spiritual yang menghubungkan manusia dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta.
Dalam salah satu falsafah Sunda yang masih terpatri kuat dan hidup di tengah masyarakat Kasepuhan Banten Kidul diungkapkan; “Mulur akar, babur satangkai, hejo daun, ngeusi beas, aman ka rajaan.”
Ungkapan tersebut mengandung harapan agar tanaman memiliki akar yang kuat, tumbuh subur, menghasilkan bulir padi yang bernas, serta membawa kemakmuran, ketenteraman, dan keselamatan bagi seluruh masyarakat.

Tradisi Sawer Gunung menjadi bagian penting dalam rangkaian Seren Taun Kasepuhan Cisitu 2026 yang berlangsung sejak 6 hingga 13 Juli 2026. Tahun ini, penyelenggaraannya mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya bangsa.
Ketua Adat Kasepuhan Cisitu generasi ke-8, H. Yoyo Yohenda, mengatakan Sawer Gunung merupakan amanat leluhur yang terus dipertahankan sejak berdirinya Kasepuhan Cisitu pada 1685. Menurutnya, setiap tahapan prosesi memiliki aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun dan tidak pernah berubah.
“Setiap prosesi memiliki aturan adat yang tidak berubah. Yang berbeda hanya waktu pelaksanaannya mengikuti kalender setiap tahun. Ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang kami peroleh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat adat memandang padi bukan sekadar komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi. Padi merupakan simbol kehidupan yang harus dihormati sejak masa penanaman, panen, hingga disimpan di leuit atau lumbung padi adat.
Karena itu, seluruh proses bercocok tanam selalu diawali dan diakhiri dengan doa serta ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Nilai tersebut masih dijaga oleh masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul yang mendiami kawasan pegunungan Halimun-Salak di wilayah Lebak, Sukabumi, dan Bogor. Hingga kini mereka tetap mempertahankan sistem pertanian tradisional, tata ruang kampung, hukum adat, hingga pengelolaan kawasan hutan berdasarkan kearifan lokal.
Dalam pandangan masyarakat kasepuhan, manusia, alam, dan Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Filosofi itu diwujudkan melalui aturan adat yang mengatur pemanfaatan kawasan hutan titipan, hutan larangan, maupun hutan garapan agar keseimbangan alam tetap terjaga.
Bagi mereka, menjaga hutan berarti menjaga sumber mata air, mempertahankan kesuburan tanah, sekaligus menjamin kehidupan generasi yang akan datang.
Karena itu, Seren Taun bukan hanya pesta panen tahunan. Tradisi ini menjadi momentum memperbarui ikatan spiritual antara manusia dan alam, sekaligus menjadi ruang pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tidak kehilangan identitas di tengah arus modernisasi.

Selain terus menjaga tradisi, masyarakat adat Kasepuhan Cisitu juga berupaya memperkuat ketahanan pangan berbasis pertanian serta menjaga kelestarian lingkungan. H. Yoyo berharap perhatian pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur, terutama akses jalan menuju kawasan Kasepuhan Cisitu, terus ditingkatkan.
Menurutnya, infrastruktur yang memadai akan mempermudah aktivitas masyarakat, memperlancar distribusi hasil pertanian, sekaligus membuka peluang berkembangnya wisata budaya tanpa menghilangkan nilai-nilai adat yang telah diwariskan leluhur.
Sementara itu, Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, menilai kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Lebak harus menjadi fondasi utama dalam membangun identitas daerah.
Menurutnya, sebuah daerah membutuhkan branding yang kuat sebagai identitas jangka panjang. Branding berbeda dengan tagline yang dapat berubah mengikuti pergantian kepemimpinan.
“Daerah itu sebetulnya perlu memiliki branding. Branding berbeda dengan tagline. Tagline bisa berganti sesuai kepemimpinan, sedangkan branding harus memiliki DNA yang kuat, jiwa yang kuat, dan karakter yang tidak dimiliki daerah lain,” katanya.
Ia mengatakan Kabupaten Lebak memiliki modal budaya yang sangat kuat, mulai dari masyarakat Baduy, tradisi Kasepuhan Banten Kidul, hingga berbagai warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Amir optimistis penguatan identitas budaya akan meningkatkan daya tarik Kabupaten Lebak, baik di sektor pariwisata, investasi, maupun pengembangan sumber daya manusia.
“Kita ingin menarik wisatawan, investor, dan orang-orang berkualitas agar datang ke Lebak. Dengan branding yang kuat, mereka akan lebih tertarik mengenal dan membangun daerah ini,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan Kabupaten Lebak tidak boleh meninggalkan karakter dan jati diri daerah. Sebaliknya, pembangunan harus bertumpu pada kekayaan budaya yang telah diwariskan para leluhur.
Ia juga menilai peningkatan kualitas infrastruktur menuju kawasan adat akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, mulai dari memperlancar aktivitas ekonomi hingga mendorong berkembangnya wisata budaya yang berkelanjutan.
Lebih dari tiga abad sejak berdiri pada 1685, Kasepuhan Cisitu terus menjaga warisan leluhur melalui Seren Taun. Di setiap langkah Kirab Sawer Gunung, setiap bulir padi yang dipersembahkan, dan setiap doa yang dipanjatkan, tersimpan pesan bahwa kemakmuran hanya dapat diraih ketika manusia hidup selaras dengan alam serta menghormati nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
Hadir dalam acara Seren Taun Masyarakat Adat Kasepuhan Cisitu Kadisbudpar Lebak, Yosep Mohamad Holis, Ketua Kesatuan Adat Banten Kidul (SABAKI) H. Sukanta, Kadis Katapang Lebak, Imam Rismahayadin, para pejabat dari Pemprov Banten, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dan undangan lainya;—( hendrik)








